Berita

Evaluasi Akademik S2 dan S3 Kajian Budaya 2025: Refleksi Bersama untuk Pembelajaran yang Lebih Bermakna

20-12-2025 10:40:35 WIB

Program Magister Kajian Budaya  bersama Doktor Kajian Seni dan Masyarakat Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan Evaluasi Akademik  pada 12 Desember 2025. Kegiatan tahunan ini dirancang sebagai ruang diskusi santai dan terbuka antara dosen dan mahasiswa untuk merefleksikan proses pembelajaran, mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan program, meninjau capaian pembelajaran, serta merumuskan perbaikan ke depan.

Acara ini dihadiri oleh jajaran dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dari kedua jenjang. Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Ketua Program Studi Magister Kajian Budaya, Dr. Yustina Devi Ardhiani, M.Hum dan Ketua Program Studi Doktor Kajian Seni dan Masyarakat, Dr. Gregorius Budi Subanar, S.J. Diskusi berlangsung cair dan tidak terbatas pada pertanyaan panduan, sehingga peserta leluasa menyampaikan pengalaman dan pandangan mereka.





Salah satu topik utama yang mengemuka dan menjadi perhatian adalah peralihan ke gedung baru. Sejumlah mahasiswa – khususnya yang pernah menempati gedung lama – mengungkapkan rasa kehilangan ruang komunal yang sebelumnya menjadi pilar penting dalam interaksi akademik di luar kelas. Gedung baru yang ditempati sejak awal semester ganjil dinilai masih terasa steril dan minim ruang kerja bersama yang nyaman. Hal ini ditambah dengan keterbatasan jam operasional gedung serta beberapa kendala teknis seperti jaringan Wi-Fi dan perawatan gedung.

Menanggapi hal tersebut, Kaprodi Magister Kajian Budaya menyampaikan bahwa ruang kelas Doktor Kajian Seni dan Masyarakat yang ada di lantai tiga akan difungsikan sebagai ruang kolaboratif multifungsi di luar jam perkuliahan dan dapat digunakan bersama oleh mahasiswa S2 dan S3.

Mahasiswa juga menyoroti perihal materi teori di kelas baru mencakup sekitar 20% kebutuhan teoretis untuk penulisan tesis dan disertasi, sehingga menuntut kemandirian riset yang tinggi. Beberapa mata kuliah, khususnya tutorial penulisan akademik, dinilai perlu kejelasan sistem, recana pembelajaran semester (RPS), dan ekspektasi yang lebih terstruktur. Sementara itu model pembelajaran hybrid juga masih menghadapi tantangan teknis.

Di sisi lain, peserta mengapresiasi atmosfer komunitas yang cair, suportif, dan inklusif  antara mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan. Para dosen dinilai terbuka dan mendukung eksplorasi pengetahuan baru, serta memberikan ruang kebebasan bagi mahasiswa untuk berpikir dan kritik akademik. Sebagian peserta bahkan melihat unsur “kekacauan” dalam proses belajar sebagai kekuatan yang memicu lahirnya gagasan-gagasan segar dan kritis. Dukungan tenaga kependidikan juga diapresiasi karena membantu kelancaran proses administratif.

Usulan lain juga disampaikan, antara lain mendorong Perpustakaan Universitas untuk membuka akses tesis dan disertasi terdahulu sebagai sumber belajar. Pimpinan program studi menegaskan kembali semangat khas Kajian Budaya sebagai school without walls yang mendorong pencarian pengetahuan lintas ruang dan membangun idealisme serta rasa memiliki dalam komunitas akademik. Seluruh masukan akan menjadi bahan pertimbangan untuk pengembangan program ke depan. Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama sebelum makan siang.

 kembali