Berita
Bincang Buku Program Studi Kajian Budaya: Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee di Universitas Sanata Dharma
10-03-2026 07:43:54 WIB
Selasar Aula Gedung Sasana Mitraswara, Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta menjadi panggung diskusi yang hangat pada Selasa sore, (10/03/2026). Program Magister dan Doktor Kajian Budaya USD bekerja sama dengan Omah Kreatif ARTurah menyelenggarakan acara Bincang Buku karya terbaru Whani Darmawan, Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee, yang diterbitkan oleh Tonggak Pustaka pada Januari 2026. Peserta yang hadir memadati ruangan, menunjukkan antusiasme mereka terhadap agenda bincang buku ini. Acara yang berlangsung dari pukul 15.00–18.00 WIB itu berhasil menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan mahasiswa, dosen, seniman, penerbit, penikmat sastra dan pertunjukan, hingga masyarakat umum dalam diskusi yang hangat.
Komunitas di Luar Kampus sebagai Laboratorium Sosial
Acara dibuka oleh Dr. Yustina Devi Ardhiani (Kaprodi Magister Kajian Budaya USD). Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa forum semacam ini bukan sekadar agenda akademik rutin, melainkan bagian dari komitmen program studi untuk tidak hidup di menara gading. "Ruang perjumpaan dan dialog ini diharapkan menjadi sarana kita menjaga silaturahmi, sebuah upaya yang penting dilakukan terus-menerus supaya sivitas akademika di Universitas Sanata Dharma senantiasa membuka diri untuk belajar bersama dengan berbagai komunitas atau kelompok sosial yang berkembang di luar kampus, karena di sanalah sesungguhnya laboratorium sosial bidang kajian budaya berada," ujarnya. Bu Devi juga menekankan bahwa kegiatan seperti ini sejalan dengan visi keilmuan Prodi untuk melahirkan intelektual publik dari rahim Program S2 maupun S3 Kajian Budaya yang sungguh-sungguh mampu membumikan ilmu yang dipelajari di kampus di tengah “indah dan semrawutnya” kehidupan masyarakat.
Whani Darmawan: Karya tentang Keterasingan Manusia di Zaman Ini
Whani Darmawan, penulis, aktor film, sekaligus seniman pertunjukan yang namanya cukup lama mewarnai jagat teater Indonesia, hadir langsung dalam acara ini. Ia menyebut Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee lahir dari kegelisahan tentang keterasingan manusia di zaman ini. Ia juga mengungkapkan rasa syukurnya karena buku ini dilengkapi ulasan dari para sahabat yang ahli di bidang masing-masing, mulai dari psikologi, sejarah, semiologi, teori sastra, dramaturgi, penyutradaraan, produksi, filsafat, hingga spiritual.
Dramatic Reading sebagai Pembuka Diskusi
Sebelum sesi diskusi dimulai, naskah dihidupkan melalui dramatic reading yang ekspresif. Empat seniman terlibat dalam pembacaan ini: Ayu Setyawati (aktor dan sutradara dari Surakarta), Ahmad Dipoyono (seniman pertunjukan dan akademisi, dosen ISI Surakarta), Yogie Swara Manitis Aji (aktor dan sutradara teater), serta Whani Darmawan sendiri. Masing-masing mengambil peran sebagai narator, Slavee, Bajingan, dan Reta, untuk menghadirkan dan membawa peserta ke dalam dunia Slavee.
Zuhdi Zang: Ke Mana Kita Hijrah?
Pembicara pertama, Zuhdi Zang (mahasiswa S3 Kajian Budaya USD) membuka paparannya dengan pengakuan yang jujur, kekagumannya pada Whani Darmawan sudah terbangun jauh sebelum diskusi ini berlangsung. Karena itulah, ia menyebut kesempatan ini sebagai sebuah kehormatan. Salah satu pembacaan tajam Zuhdi menggunakan konsep commodity fetishism untuk membedah karakter Slavee. Baginya, Slavee bukan sekadar tokoh fiksi, ia adalah representasi manusia modern yang sadar betul akan hipokrisinya, tetapi tidak mampu keluar dari sistem yang melingkupinya. "Satu-satunya yang dapat ia lakukan adalah menarasikan hipokrisinya sendiri, inilah yang saya sebut fetishistic disavowal, yakni penyangkalan yang tidak sungguh-sungguh menyangkal," papar Zuhdi. Dari titik itu ia merumuskan sebuah tesis bahwa masyarakat modern adalah masyarakat yang sedang dalam proses memahami hipokrisinya sendiri.
Salah satu kritik Zuhdi tertuju pada konsep hijrah yang ditawarkan di bagian akhir naskah Whani. Dalam pembacaan Lacanian, hijrah dapat diartikan melampaui batas simbolik, sebuah lompatan menuju kebaruan diri. Namun, Zuhdi mempertanyakan: ke mana sesungguhnya kita berhijrah jika kapitalisme telah membangun struktur kehidupan kita secara begitu menyeluruh, bahkan mengatur cara kita membayangkan alternatif? "Kehidupan kapitalistik kontemporer tidak menyediakan ruang hijrah yang benar-benar baru, dan ini adalah tantangan yang belum terjawab oleh naskah," tandasnya.
Zuhdi menutup paparannya dengan sebuah poin yang ia yakini luput dari ulasan penulis esai dalam buku ini, yakni posisi perempuan dalam naskah. Sosok perempuan dalam naskah terkesan kurang dihadirkan secara eksplisit, padahal sosok tersebut memperlihatkan bagaimana prinsip femininitas mampu melampaui kemiskinan dan kesakitan dunia. Ia membacanya bukan sekedar sebagai representasi perempuan secara individu, melainkan sebagai dasar yang harus menjadi basis kehidupan. Zuhdi menegaskan, “Kalau mau melampaui persoalan dunia, belajarlah dari perempuan.”
Indro Suprobo: Pentingnya Pendidikan
Pembicara kedua, Indro Suprobo (Direktur Tonggak Pustaka), membuka paparannya dengan sebuah analogi yang tak terduga, ia merasa seperti sedang membaca Kitab Keluaran dalam Perjanjian Lama, khususnya kisah panggilan Nabi Musa.
Menurut Indro, naskah ini memiliki tiga aktor tetapi hanya dua subjek. Slavee adalah subjek yang belum sadar akan dirinya sendiri (unknown conscious) sementara Reta adalah subjek yang telah melampaui ketidaksadaran itu. Keseluruhan naskah ini merupakan potret subjek yang teralienasi di dalam kebisingan zaman, bukan subjek abstrak, melainkan gambaran konkret manusia hari ini.
Ia menguraikan bagaimana kemiskinan absolut yang ia definisikan sebagai pengalaman ketidakberdayaan dan ketergantungan berkelanjutan, bukan diartikan sebagai kekurangan materi melainkan hal yang membunuh dan menghancurkan pribadi. Dari kondisi itu lahirlah apa yang Lacan sebut sebagai lack. Sebuah pengalaman berkekurangan yang mendalam, yang membuat Slavee membangun seluruh hidupnya di atas penyangkalan, menyembunyikan asal-usulnya, menolak orang tuanya, dan terus-menerus mengejar sesuatu yang selalu saja lolos dari genggaman.
Menurut Indro, naskah ini memberikan poin penting, yakni, kemiskinan yang menghancurkan tak selamanya demikian. Dari kondisi yang sama, bisa lahir Slavee, tetapi bisa pula lahir Reta yang justru menjadi subjek yang sadar dan kritis. Apa yang membedakan keduanya? “Intervensi yang mereka terima,” jawab Indro dengan yakin. Slavee menerima bantuan yang tidak membebaskan. Reta menerima edukasi kritis. Ia disekolahkan, dididik, dan diberi habituasi yang lebih cerdas. Indro menutup paparannya dengan sebuah pengakuan yang jujur sekaligus mengundang tawa, ia tidak bisa memberikan kritik terhadap naskah ini bukan karena tidak ada, melainkan karena ia terlalu menikmati membacanya.
Keseluruhan acara bincang buku ditutup pada pukul 18.00 WIB dengan buka puasa bersama.
Patria Budi Suharyo
kembali
- Bincang Buku Program Studi Kajian Budaya: Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee di Universitas Sanata Dharma
- 25 Tahun Ilmu Religi & Budaya dan Launching Buku Saga dari Bengawan Nil
- Program Studi Magister Kajian Budaya Pertahankan Akreditasi Unggul
- Inisiasi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Tahun Ajaran 2025/2026
- Ujian Proposal Tesis Mahasiswa Magister Kajian Budaya Angkatan 2024
- Telah Terbit: RETORIK: Jurnal Ilmu Humaniora | Vol. 13 no. 1
- Open House Program Pascasarjana USD 2025
- Ujian Tesis Dian Astrid Widjaja, Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma
- Penandatanganan MoU antara Program Magister Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma dan Punk Scholars Network (PSN) Indonesia
- Pemutaran dan Diskusi Film “Turang”: Menggali Kembali Sejarah dan Estetika Sinema Indonesia yang Terlupakan
