Berita
25 Tahun Ilmu Religi & Budaya dan Launching Buku Saga dari Bengawan Nil
23-09-2025 05:49:20 WIB
YOGYAKARTA, 23 September 2025 – Program Magister Kajian Budaya dan Program Doktor Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan acara pembukaan rangkaian peringatan 25 tahun Ilmu Religi dan Budaya (dikenal sebagai IRB, kini: Program Magister Kajian Budaya) sekaligus peluncuran buku terbaru karya St. Sunardi berjudul Saga dari Bengawan Nil pada Selasa, 23 September 2025. Rangkaian acara ini seiring dengan rangkaian peringatan Dies Universitas Sanata Dharma yang ke-70 tahun.
Acara istimewa ini terselenggara di Panggung Gejayan, Lantai 2 Gedung Pascasarjana Universitas Sanata Dharma, Jl. STM Pembangunan, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman. Dalam acara yang penuh sukacita ini hadir Rm. Cyprianus Kuntoro Adi, S.J., Ph.D. (Ketua Yayasan Sanata Dharma), Prof. Ir. Sudi Mungkasi, Ph.D. (Wakil Rektor I), Prof. Paulus Sarwoto, Ph.D. (Direktur Pascasarjana), dan Dr. Yustina Devi Ardhiani (Kaprodi IRB) yang turut memberikan sambutan dan membuka perayaan 25 tahun IRB sekaligus peluncuran maskot 25 tahun IRB.
Sesi bincang-bincang buku didahului dengan penampilan Rendra (Alumni IRB) dan Akila (Mahasiswa IRB angkatan 2025) yang menyajikan dramatic reading nukilan buku Saga dari Bengawan Nil. Sesi bincang-bincang buku menghadirkan Dr. St. Sunardi (penulis), Prof. Praptomo Baryadi (penyelaras bahasa), Ugo Untoro, S.Sn. (ilustrator cover buku), dan Dr. Hartono Karnadi (layouter), dan dimoderatori oleh Idha Saraswati, alumni IRB yang sedang menempuh studi S3 di Program Doktor Kajian Budaya USD.
Buku karya St. Sunardi mengeksplorasi makna filosofis dan budaya Sungai Nil sebagai simbol kehidupan yang transenden. Melalui perspektif yang mendalam, penulis menghadirkan refleksi tentang hubungan antara alam, budaya, dan eksistensi manusia dalam konteks peradaban Mesir kuno. Buku ini adalah disertasi St. Sunardi yang ditulis 25 tahun lalu, namun baru diterbitkan sekarang ketika dirasa situasinya relevan. Penulisan disertasi tersebut juga bagian dari sejarah kelahiran IRB, karena proses penulisannya adalah bagian dari proses pencarian bentuk IRB yang dilakukan oleh St Sunardi sebagai perintis utama berdirinya IRB 25 tahun silam.
Pembukaan peringatan 25 tahun IRB ini juga menghadirkan Dr. Nur Imroatus dan Hagung Hendrawan Trudo, M,Hum. Keduanya adalah alumni IRB yang diundang untuk mensharingkan pengalaman menjadi mahasiswa IRB dan relevansinya dengan hidup mereka saat ini. Acara dimeriahkan juga dengan penampilan musik RAP Maluku oleh Costantinus Ponsius Yogie Mofun (Mahasiswa IRB angkatan 2024) dan Farraz Fakhar Thabrizi (Mahasiswa IRB Angkatan 2023), serta penampilan musik oleh Jati Raga.
Menemukan Kembali Resonansi
Program Ilmu Religi dan Budaya (IRB) USD dalam lintasan sejarah merupakan prodi magister pertama di USD. IRB didirikan untuk mengembangkan etos akademis-intelektual khususnya bidang sosial-humaniora secara lintas disiplin. Kelahiran IRB mengawali lahirnya prodi-prodi interdisipliner bidang ilmu sosial-humaniora di Indonesia, sehingga saat itu belum ada nomenklatur yang memayunginya. Pada 22 Juli 1999 prodi ini mendapatkan ijin operasional dengan nama Program Magister Ilmu Religi dan Budaya. Pada tahun 2000 IRB mulai menerima mahasiswa angkatan pertama. Tahun 2019, berdasarkan SK Kemenristek DIKTI No. 871/ KPT/ I/ 2019, nama prodi ini disesuaikan menjadi Program Magister Kajian Budaya.
Selama 25 tahun, IRB berkontribusi dalam pengembangan kajian interdisipliner yang mendialogkan aspek keagamaan, budaya, dan kemasyarakatan. Humanisme atau humaniora sebagai bagian dari Kajian Budaya, ditempatkan tidak sebatas jargon, melainkan dibentuk menjadi pengalaman empiris, menjadi intensitas, dan dalam tingkat tertentu menjadi resonansi. Peringatan 25 tahun IRB ini menjadi momen untuk menemukan kembali resonansi yang terus-menerus berkembang seiring perjumpaan dengan pengalaman kehidupan sehari-hari, terutama di tengah kompleksitas persoalan bangsa dan situasi global dewasa ini yang penuh ketegangan.
Aquila Nata ad Volandum
Rajawali yang lahir untuk terbang (Aquila Nata ad Volandum) dipilih sebagai jargon dalam maskot 25 tahun IRB yang ilustrasinya menghadirkan Pater Driyarkara (Pendiri USD) mengenakan kostum burung rajawali. Driyarkara muda ketika masih menjadi seminaris kelas empat di Seminari Menengah Yogyakarta menginisiasi nama majalah seminari Aquila yang berarti rajawali. Aquila juga menjadi akronim dari Augeamus Quam Impensissime Laudem Altissimi yang berarti “marilah kita tumbuh berkembang sekuat tenaga menambah keluhuran Yang Mahatinggi.” IRB, menarik inspirasi permenungan 25 tahun kelahirannya melalui sosok Driyarkara si rajawali ini. Semangat sang rajawali menandai fase kedewasaan untuk tetap mengenali dan menghidupi resonansi (getaran) yang pertama-tama dalam upaya menanggapi dinamika manusia dan kebudayaannya.
Patung Driyarkara (kiri) dan Maskot 25 Tahun IRB (kanan)
Sumber: Humas USD & Ika Yulianti
Patung Driyarkara (kiri) dan Maskot 25 Tahun IRB (kanan)
Sumber: Humas USD & Ika Yulianti
Selama ini, Pater Driyarkara selalu digambarkan dalam wujud manusia dewasa seperti yang dapat kita lihat dalam patungnya yang menyambut siapa saja yang masuk di Auditorium Driyarakara USD, atau dalam wujud berbagai publikasi lainnya. Namun, IRB memilih untuk menghadirkan kembali Pater Driyarkara dalam rupa yang lebih ceria, penuh semangat, dan tanpa beban selayaknya rajawali muda yang ingin terbang tinggi menjelajahi angkasa tak terbatas dan melebarkan sayap melampaui penjuru dunia. Driyarkara mengenakan kalung dengan monogram Ad Maiorem Dei Gloriam (AMDG) yang berarti “Segalanya bagi lebih besarnya kemuliaan Tuhan,” turut menjadi pengingat misi yang diemban USD maupun prodi IRB di tengah perayaan 25 tahun maupun 70 tahun usianya. Kiranya semangat ini juga menjadi aliran nafas IRB dalam mengawali langkah demi langkah perjalanannya untuk terus belajar maupun bertumbuh bersama dengan semua sahabat dari segala penjuru. Kita lahir untuk terbang, demi keluhuran yang lebih besar!
Patria Budi Suharyo
kembali
- Mengenal Suasana Akademik Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Lewat Open House 2026
- Bincang Buku Program Studi Kajian Budaya: Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee di Universitas Sanata Dharma
- 25 Tahun Ilmu Religi & Budaya dan Launching Buku Saga dari Bengawan Nil
- Program Studi Magister Kajian Budaya Pertahankan Akreditasi Unggul
- Inisiasi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Tahun Ajaran 2025/2026
- Ujian Proposal Tesis Mahasiswa Magister Kajian Budaya Angkatan 2024
- Telah Terbit: RETORIK: Jurnal Ilmu Humaniora | Vol. 13 no. 1
- Open House Program Pascasarjana USD 2025
- Ujian Tesis Dian Astrid Widjaja, Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma
- Penandatanganan MoU antara Program Magister Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma dan Punk Scholars Network (PSN) Indonesia
