Profil

Ringkasan Eksekutif

Pada tahun 2025 Program Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma memasuki lustrum ke-5, artinya prodi ini sudah memasuki usianya yang seperempat abad. Sehubungan dengan itu, momen akreditasi tahun 2024 merupakan momen istimewa bagi prodi untuk melihat dirinya kembali secara reflektif dan evaluatif secara khusus selama tiga tahun terakhir.
 JP2--MAGISTER 
Prodi ini merupakan prodi magister pertama di USD. Untuk membuka prodi ini, waktu itu USD harus melalui proses dan negosiasi yang lama, karena prodi lintas disiplin bidang ilmu-ilmu sosial-humaniora belum ada di Indonesia, dan tentu saja juga belum ada nomenklatur yang memayunginya. Seperti tampak dalam naskah akademik pendirian, prodi ini didirikan untuk mengembangkan etos akademis-intelektual khususnya dalam bidang humaniora (sosial-humaniora) secara lintas disiplin. Berkat komunikasi intensif dan terbuka antara Wakil Rektor I USD Dr. Bismaka dan Dirjen DIKTI Prof. Satryo Soemantri Brodjonegoro (yang kini menjadi menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi), akhirnya pada tanggal 22 Juli 1999 prodi ini mendapatkan ijin operasi dengan nama Program Magister Ilmu Religi dan Budaya. Pada tahun 2019 (SK Kemenristek DIKTI No. 871/ KPT/ I/ 2019), nama prodi ini disesuaikan menjadi Program Magister Kajian Budaya.

Dengan tetap merujuk pada pengembangan etos ilmiah baru yang berorientasi pada intelektualitas publik, selama tiga tahun terakhir, dinamika prodi ini diarahkan pada tiga tugas utama, yaitu (1) mengembangkan metode pembelajaran lintas disiplin guna mendorong keberanian mahasiswa untuk eksplorasi berbagai bidang baru dalam budaya, (2) merintis berbagai jenis penelitian dasar sebagai langkah untuk pengembangan keilmuan lintas disiplin bahkan pascadisiplin, serta, (3) membangun komunitas akademis yang transformatif baik secara internal (mendewasakan intelektualitas dan kehidupan sosial) dan eksternal (mampu mengubah lingkungan sekitar). Inilah misi yang dirumuskan dalam Renstra Pascasarjana.

Dengan cita-cita yang ada dan didukung dengan sejarah prodi yang dinamis, prodi ini secara umum berhasil memikat para calon mahasiswa untuk bergabung membangun komunitas akademis yang eksploratif. Mereka datang dari berbagai daerah dengan latar belakang minat yang beragam. Prodi tentu sangat bangga dengan sambutan ini. Meskipun demikian, secara khusus prodi harus menundukkan kepala karena tidak sanggup membantu para mahasiswa yang begitu rentan secara ekonomis - terutama selama pandemi Covid-19. Memang, pihak universitas secara kelembagaan maupun para dosen secara perorangan sudah mencoba membantu para mahasiswa yang mengalami kesulitan. Namun ini belum cukup karena banyak dari mereka mendekati kemiskinan absolut. Hal itu juga terjadi pasca-pandemi. Situasi ini juga menjadi pemacu tersendiri dalam pengembangan keilmuan di prodi. Oleh karena itu prodi tidak berkecil hati untuk mendampingi mereka walau terkadang butuh waktu lebih lama. Yang penting, selama mereka belajar, mereka mengalaminya sebagai peristiwa, syukur kalau bisa menjadi moment of truth yang membuka konstelasi kemiskinan yang berakibat pada hidup mereka.

Dengan misi dan kondisi mahasiswa tersebut, prodi sangat bersyukur tetap mendapatkan dukungan dari pihak universitas dan secara khusus lewat komitmennya untuk menyediakan para dosen dan tenaga akademik yang berkualitas. Dengan 10 dosen tetap (satu profesor, enam lektor kepala, dan tiga lektor) yang terlibat pada prodi ini dengan latar belakang pendidikan yang relevan untuk kajian lintas disiplin, dan sebagian besar merupakan lulusan dari perguruan tinggi luar negeri ternama maupun dalam negeri yang terpercaya, para dosen menunjukkan dedikasinya pada para mahasiswa. Para dosen tidak hanya mengajar, melainkan lebih menyerupai mentoring.

Selain lewat penyediaaan sumber daya manusia, dukungan universitas ditunjukkan lewat dukungan dana, sarana, dan prasarana. Prodi ini diperkenankan menempati gedung dan kawasan bersejarah (yang sering disebut “Komplek Realino”) yang sangat mendukung untuk membangun komunitas akademis yang intensif ke dalam dan cair ke luar. Gedung ini juga dekat dengan Perpustakaan Pusat dan Auditorium Driyarkara. Sejalan dengan perkembangan program pascasarjana (kini sudah ada Program Doktor Kajian Budaya), prodi ini dan dua prodi lainnya sudah disiapkan gedung baru yang siap ditempati pada pertengahan tahun 2025. Ini semua menunjukkan komitmen pihak universitas maupun yayasan dalam mempersiapkan dana, sarana, dan prasarana untuk prodi ini.

Dengan visi keilmuan yang ingin menerabas batas-batas disipliner untuk memasuki area baru, dengan mahasiswa yang begitu beragam secara minat walau banyak yang mengalami hambatan ekonomis, serta ditopang oleh para dosen yang berkomitmen serta sarana yang memadahi, dengan sangat rendah hati prodi ini berhasil melahirkan learning community yang sering melampaui corak akademis. Ada mahasiswa yang mengalaminya sebagai padepokan, ada mahasiswa lain yang mengalaminya sebagai oasis, namun ada juga yang mengalaminya sebagai kawah di mana dirinya serasa “dipretheli” sehabis itu dibiarkan untuk menyambungkan atau mengintegrasikannya lagi. Di sini terlihat bahwa pendidikan dan pembelajaran benar-benar terjadi. Lembaga ini bukan hanya merupakan lembaga untuk memberikan sertifikat. Kalau universitas bicara tentang pendidikan yang holistik, di sini ditunjukkan bahwa holistik hanya punya arti kalau orang pernah mengalami tidak holistik atau fragmentaris. Pengalaman fragmentaris ini hanya terjadi ketika orang masuk suatu kedalaman yang dulu terasa utuh ternyata tidak. Singkatnya, prodi ini bisa memenuhi sejumlah tuntutan administratif mulai dari kurikulum, RPS, ujian, dan sebagainya, namun pada akhirnya itu semua dipakai untuk mengantarkan para mahasiswa berdialog dengan hidupnya sendiri, lingkungan sosial, alam yang mengalami degradasi, dan sebagainya. Corak inilah yang disebut dalam sasaran sebagai formasi transformatif secara internal dan eksternal. Maksudnya, proses belajar (formasi) menimbulkan perubahan yang substansial baik bagi kedirian orang yang terlibat maupun bagi lingkungannya.

Dari perspektif inilah kegiatan penelitian di prodi harus dilihat. Sebagaimana dijelaskan di atas, prodi ini sebenarnya mendorong para mahasiswa untuk berani merintis/melakukan berbagai jenis penelitian dasar atau basic. Kebutuhan untuk merintis penelitian dasar memang sudah muncul, namun harus diakui bahwa secara metodologis belum sampai. Dalam jangka pendek memang belum bisa dicapai, tapi dalam jangka menengah dan panjang hal ini akan bisa diwujudkan.

Berkaitan dengan pengabdian pada masyarakat, prodi tidak hanya merasa mengabdi pada masyarakat melainkan telah dibesarkan oleh masyarakat. Prodi mempunyai sejarah panjang dengan berbagai kelompok masyarakat yang dilayani, dan berkesimpulan bahwa prodi dan dinamikanya itu lahir dari masyarakat. Dengan kata lain, pengabdian pada masyarakat di sini bukan hanya sebuah gimmick sosial-karitiatif melainkan sebuah bagian dari dinamika prodi untuk melahirkan dirinya secara organik dalam masyarakat.

Dengan berbagai tantangan dan kesempatan yang ada, selama tiga tahun terakhir prodi telah meluluskan 32 mahasiswa dengan rata-rata IPK 3,62 (indikator RIPK ≥ 3,50). Selain lulusan, serta sejumlah penelitian, selama tiga tahun terakhir ini para mahasiswa juga telah melahirkan tidak kurang dari 35 karya seni sebagai bagian dari kegiatan ilmiah. Fenomena ini menarik karena berkat pendekatan lintas disiplin, sejumlah mahasiswa berhasil menggunakan seni sebagai bagian dari praktik keilmuan. Sejumlah karya seni bukan untuk kesenangan pribadi namun dipamerkan atau ditampilkan di sejumlah forum ternama baik di dalam maupun di luar negeri. Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam proses belajar secara lintas disiplin terkadang muncul berbagai hasil yang tidak sepenuhnya bisa kita duga. Di balik angka-angka tersebut, prodi juga mengamati dengan teliti dinamika luaran prodi dari jenis-jenis penelitian yang semakin beragam serta menyentuh bidang baru yang sudah diantisipasi (belum dimasukkan ke dalam bidang secara khusus). Selain itu, prodi juga mengamati semakin banyaknya mahasiswa dari latar belakang seni yang kontribusinya sangat signifikan bagi prodi, Di tengah beragam tantangan, kesempatan mengembangkan diri, dan capaian prestasi tersebut di atas, prodi hadir untuk mengeksplorasi, melayani, dan mengantisipasi masyarakat Indonesia selama tiga tahun terakhir ini.
 

 kembali