Berita
ASCOLTACI #19 Beyond Metal; Melawan Patriarki melalui Musik Ekstrem
06-04-2022 20:03:12 WIB
Secara umum, kesenian masih bersifat maskulin. Seniman laki-laki masih menempati posisi dominan dalam sebagian besar genre kesenian. Ini berimbas pada wacana kesenian itu sendiri yang melulu didominasi laki-laki dengan budaya patriarkal-nya, yang berimbas pada suara, gagasan, aspirasi, pemikiran, dan peran perempuan dalam kesenian sebagai wacana kelas dua. Dalam skena musik keras musisi atau vokalis perempuan tidak dengan mudah diterima serta dipandang secara utuh sebagai seniman. Hal ini yang kemudian membuat skena musik ekstrem dibangun atas imaji maskulinitas. Fenomena ini tidak lepas dari pemikiran patriarki yang sudah sedemikian mengakar dalam kehidupan masyarakat. Mullaney (2007) menyampaikan bahwa terdapat semacam pemisahan/perbedaan peran seksis dalam skena musik esktrem yang membuat perempuan hanya sebatas pemanis dan tidak pernah mendapat peluang menjadi bintang.
Berangkat dari realitas tersebut, alumnus Program Magister Kajian Budaya Sanata Dharma Yulianus Febriarko dalam tesis penelitiannya yang berjudul Bermain-main dalam Transgresi: Fantasi dalam Dark Play Empat Vokalis Ekstrem Metal Perempuan di Indonesia (2020), mengeksplorasi daya performance perempuan pada skena musik ekstrem sebagai vokalis dari empat kelompok musik metal yang berbeda. Febriarko meneliti siklus adopsi transgresi yang dilakukan vokalis ekstrem metal perempuan melalui dark play. Penelitian ini kemudian dipilih untuk menjadi pembahasan ASCOLTACI #19 yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, dengan mengundang Direktur Pascasarjana IKJ Nyak Ina Raseuki, Ph.D., dan Oki Rahadianto Sutopo, Ph.D. dari Depatemen Sosiologi, Fisipol UGM, sebagai penanggap atas pemaparan penelitian Yulianus Febriarko. Digelar secara virtual, ASCOLTACI #19 berlangsung selama kurang lebih tiga jam yang diikuti oleh 130 peserta dari berbagai latar belakang, komunitas, dan organisasi. ASCOLTACI #19 merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan dengan tujuan memberikan ruang bagi peneliti untuk mempersentasikan hasil penelitiannya kepada publik yang lebih luas, demi mengembangkan gagasan dan perspektif atas penelitian yang dipersentasikan. ASCOLTACI berasal dari bahasa Italia yang berarti dengarkanlah kami, dengan harapan agar setiap peserta yang berpartisipasi dalam program tersebut bersedia mendengarkan sumbangsih, serta memberikan saran dan kritik terhadap penelitian terkait.
Diskusi diawali dengan pemaparan makalah oleh Yulianus Febriarko sebagai peneliti. Febriarko menyampaikan bahwa ia memfokuskan penelitiannya dengan menelaah penampilan dan karya dari empat vokalis ekstrem metal perempuan, yaitu Fransisca Ayu (KoJ, Leftyfish), Lilin purnama (GOADS), Hera Mary (Oath), dan Popo Puji (Demons Damn) dengan mempertanyakan tentang representasi perempuan di skena musik ekstrem, daya penampilan, wacana yang dibentuk, dan fantasi yang mendasari. Febriarko juga menggunakan teori psikoanalisa Lacanian untuk mendasari pembacaan realitas data yang diperoleh. Dari sejumlah pertanyaan yang disampaikan, Febriarko melihat bahwa perempuan dalam skena musik ekstrem metal Indonesia mendapat representasi yang tidak setara. Praktik seksis, misoginis, dan penilaian bias gender masih kerap dialami perempuan dalam skena tersebut. Febriarko juga menyampaikan bahwa lewat tiga transgresi (sonic transgression, discursive transgression, and bodily transgression) koresponden (sebagai vokalis ekstrem metal perempuan) bernegosiasi dengan siasat dark play dalam penampilan mereka untuk mendisrupsi konstruksi dan dominasi maskulin yang memarjinalkan perempuan dalam skena ekstrem metal. Febriarko menjelaskan hal-hal tersebut dengan menyertakan beberapa cuplikan video penampilan, serta karya (lagu) band metal yang menjadi sumber data dalam penelitiannya. Menurut Febriarko, penampilan dan kreasi para vokalis ekstrem metal perempuan ini menunjukan semangat perlawanan atas hegemoni maskulin yang mendominasi skena tersebut. Bagi keempat vokalis (narasumber), sudah seharusnya ada resistensi guna membuat skena ekstrem metal menjadi tempat yang ramah dan menyenangkan bagi siapapun.
Pada ASTOLTACI #19, Oki Rahadianto Sutopo, Ph.D., menanggapi presentasi Febriarko dengan mengapresiasi dan berterima kasih atas sumbangsih penelitian tersebut. Ia juga menyampaikan penelitian tersebut perlu untuk ditempatkan dalam arena “perjuangan” tempat pengetahuan diprodokusi dan direproduksi. Beberapa studi terkait musik juga telah dilakukan dengan berbagai perjalanan dan gender yang berbeda, namun dalam kajian yang lebih luas skena musik metal belum banyak diteliti. Ia menjelaskan bahwa hal-hal yang menjembatani konteks penelitian terdahulu maupun kini tentang musik antara lain karena adanya keterkaitan antara musik populer dengan konstruksi identitas lokal-global, subkultur, yang dalam hal ini menjadi resistensi terhadap negara dan komodifikasi dalam komunitas musik. Dalam tanggapannya, ia menegaskan tentang sifat resistensi yang tidak total-universal. Sehingga, perlu untuk memperhatikan narasi biografis musisi yang tidak dapat dipisahkan dari dimensi transgresi.
Tanggapan selanjutnya dipersentasikan oleh Nyak Ina Raseuki, Ph.D., dengan tajuk “Suara Perempuan Melintas(i) Batas”. Direktur Program Pascasarjana IKJ ini menjelaskan perihal pembedaan dalam keragaman musik. Tanggapan tersebut menunjukan fakta tentang keragaman budaya yang tercermin pada keragaman ekspresi, dan keragaman musik yang dikategorisasi berdasarkan gender, melalui timbre, instrumen, jenis musik, konteks pertunjukan, dan seterusnya yang. Ia juga menjelaskan adanya pemisahan peran musikal dalam beberapa budaya yang diikuti menurut garis gender. Misalnya, karena skena musik ekstrem metal menggunakan suara yang sangat berat atau dengan teknik scream yang identik dengan suara laki-laki pada umumnya, maka hal ini membuat skena tersebut mudah didominasi oleh laki-laki. Nyak Ina juga menyampaikan tentang adanya ideologi seorang vokalis di atas panggung yang dikemas dengan aspek estetik guna menegaskan identitas, pengalaman personal antara vokalis-dunia pertunjukan-dan kehidupan sehari-hari.
Akhir dari penjelasan peneliti dan penanggap dalam ASTOLTACI #19 direspons melalui banyak pertanyaan dari peserta, dengan ragam tujuan pertanyaan yang berbeda. Mulai dari mempertanyakan cara menikmati pertunjukan metal, isu yang disuarakan oleh vokalis perempuan, hingga mempertanyakan mengapa vokalis perempuan dalam band metal tidak menggunakan suara perempuan saja jika tujuannya ingin mendobrak patriarki?
ASCOLTACI #19 dipungkasi dengan tanggapan-tanggapan yang baik, kritis, dan komperhensif dari ketiga narasumber. Diskusi berlangsung riuh, menyenangkan, dan inspiratif; membuka satu pintu wawasan tentang wacana keterlibatan perempuan, yang tidak melulu berpusar antara ranah domestik dan pekerjaan, namun juga dalam ranah kesenian musik dengan peminat yang sangat spesifik.
- Mengenal Suasana Akademik Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Lewat Open House 2026
- Bincang Buku Program Studi Kajian Budaya: Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee di Universitas Sanata Dharma
- 25 Tahun Ilmu Religi & Budaya dan Launching Buku Saga dari Bengawan Nil
- Program Studi Magister Kajian Budaya Pertahankan Akreditasi Unggul
- Inisiasi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Tahun Ajaran 2025/2026
- Ujian Proposal Tesis Mahasiswa Magister Kajian Budaya Angkatan 2024
- Telah Terbit: RETORIK: Jurnal Ilmu Humaniora | Vol. 13 no. 1
- Open House Program Pascasarjana USD 2025
- Ujian Tesis Dian Astrid Widjaja, Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma
- Penandatanganan MoU antara Program Magister Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma dan Punk Scholars Network (PSN) Indonesia
