Berita
ASCOLTACI #18: Seni Pertunjukan Dhalang Edan - Belajar dari Ki Enthus Susmono
27-10-2021 19:46:24 WIB
Hujan yang mengguyur wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya tidak menghalangi civitas academica Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma untuk berkumpul dalam ASCOLTACI #18. ASCOLTACI yang digelar secara virtual melalui kanal Zoom dan YouTube pada hari Rabu sore hingga petang tanggal 27 Oktober 2021 mengangkat tema seputar dunia dalang, secara khusus membahas ketokohan Ki Enthus Susmono dengan judul “Seni Pertunjukan Dhalang Edan”: Belajar dari Ki Enthus Susmono. Adapun dua tokoh menjadi pembicara dalam acara ini, yaitu Pak Hariyanto alumnus Magister Kajian Budaya dan Dr. Sugeng Nugroho.
Sebagai pembicara pertama, Pak Hariyanto memulai kegiatan ASCOLTACI #18 ini. Menurut Pak Hariyanto, Ki Enthus Susmono adalah dalang kontroversial dengan stigma edan di dunia pedalangan. Sebagai dalang gagrag campuran, ia memiliki kekuatan verbal serta permainan visual menonjol yang berani menggunakan ragam permainan bahasa: pisuhan, tabu, kasar, namun berhasil memukau banyak orang. Gaya pertunjukan Ki Enthus Susmono ini menunjukkan strategi representasi seni posmodern, yaitu eklektis, parodi, dan ironi. Hal ini dapat diamati dari aneka bentuk sajian dalam setiap pertunjukannya. Ketiga bentuk representasi seni posmodern tersebut dibalut dalam kemasan keseluruhan pertunjukkan yang mewacanakan kebaharuan, sehingga kuat melekat julukan masyarakat kepada Ki Enthus Susmono sebagai dhalang edan, mbeling, nakal; yang dengan rela diterima bahkan konsisten dilakukan.
Bagi Ki Enthus Susmono, gagrag kraton (istanasentris) tidak dapat memberikan kepuasan atau kenikmatan fiksi –yakni ekspresi kesenimanan sebagai dalang untuk mencapai ekstase dalam jagat wayang– karena terbelenggu dengan berbagai aturan dan ikatan “kepura-puraan” yang disebut pakem. Gagrag dua keraton besar di Jawa (Surakarta-Yogyakarta) bertindak sebagai bahasa liyan (other) yang memiliki kecenderungan untuk menstandarisasi seluruh bentuk pertunjukan pewayangan. Baginya, panggung pertunjukkan wayang tak ubahnya seperti panggung teater. Berangkat dari gaya Pesisiran, Ki Enthus Susmono menekankan interaksi yang kuat antara dalang-penonton dalam setiap pertunjukkannya. Desakralisasi ini memang “disengaja” dengan tujuan untuk membangun kesakralan pertunjukannya sendiri serta menunjang performativitas dan resistensi terhadap kekuasaan pakem yang sudah terlanjur dipandang sebagai “dogma” dalam dunia pedalangan. Tidak ada lagi “batas-batas” dalam pewayangan.
Kalau Pak Hariyanto melihat Ki Enthus Susmono dari telaah kajian budaya, Pak Sugeng mencoba melihat Ki Enthus Susmono secara lebih dekat. Pak Sugeng menyoroti beberapa jaring peristiwa di seputar Ki Enthus Susmono, misalnya dengan menyebut Ki Enthus Susmono sebagai dalang yang mbeling (sulit dikendalikan, membangkang) dan sableng (tidak waras, gila). Selain itu, Ki Enthus Susmono juga terkenal sebagai dalang yang suka mencaci dan mengumpat. Namun, bentuk pertunjukan ndalang Ki Enthus Susmono ini sebenarnya adalah bentuk ekspresi wayang sebagai kesenian rakyat. Ciri khas kesenian rakyat terletak pada nuansa kebersamaan yang dibangun, baik antar-sesama pemain wayang maupun antar-sesama pemain wayang dan penonton. Secara fisik maupun non-fisik, tidak ada jarak dalam ekspresi kesenian rakyat.
Dalam sesi diskusi, beberapa peserta mencoba melihat kehadiran pewayangan dalam konteks kekinian, terutama dengan teknologi streaming untuk semakin membuat pewayangan menjadi sesuatu yang populer. Dengan konteks seni pertunjukkan kontemporer, pewayangan dapat masuk ke berbagai lini. Kesuksesan dalang perlu didukung dengan interaktivitas dan cara-cara baru. Faktor pendukung popularitas dalang di era kontemporer adalah interaktivitas dalang-penonton. Seorang dalang tidak hanya memerlukan modal kultural, melainkan butuh modal lain (misalnya finansial, dukungan dari fans, serta dukungan komunal melalui streaming). Dengan fitur streaming, penonton dari berbagai tempat bisa saling berinteraksi. Kanal streaming, dengan demikian menjadi imagined communities tempat citarasa seni ditemukan kembali.
Mengakhiri diskusi ASCOLTACI #18, Mutiara Febryan Kumbara selaku moderator mengajak seluruh peserta berfoto bersama, kemudian acara ditutup dengan ucapan terima kasih baik dari pihak Program Studi Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma, dari para pembicara, dan juga dari Mas Haryo Susilo selaku “penerus” Ki Enthus Susmono– atas terselenggaranya ASCOLTACI #18 ini. Harapannya, ASCOLTACI #18 –yang juga bisa disaksikan rekamannya di kanal YouTube ini– dapat memberikan pengenalan terhadap gaya ngedan Ki Enthus Susmono dan menelaahnya sebagai sebuah fenomena budaya.
- Mengenal Suasana Akademik Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Lewat Open House 2026
- Bincang Buku Program Studi Kajian Budaya: Eunoia Menuju Seekor Bajingan di Mobil Slavee di Universitas Sanata Dharma
- 25 Tahun Ilmu Religi & Budaya dan Launching Buku Saga dari Bengawan Nil
- Program Studi Magister Kajian Budaya Pertahankan Akreditasi Unggul
- Inisiasi Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma Tahun Ajaran 2025/2026
- Ujian Proposal Tesis Mahasiswa Magister Kajian Budaya Angkatan 2024
- Telah Terbit: RETORIK: Jurnal Ilmu Humaniora | Vol. 13 no. 1
- Open House Program Pascasarjana USD 2025
- Ujian Tesis Dian Astrid Widjaja, Magister Kajian Budaya Universitas Sanata Dharma
- Penandatanganan MoU antara Program Magister Kajian Budaya, Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma dan Punk Scholars Network (PSN) Indonesia
