Berita
TERBEBAS DARI BELENGGU SEMAKIN EKSPRESIF
10 Maret 2026

Pelatihan Public Speaking untuk Frater Skolapios oleh SAV-USD
Di Studio Audio Visual-USD, Sinduharjo
2 – 6 Maret 2026
Pada pagi hari, 12 Frater Skolapios mengawali pekan yang baru dengan mengayuh sepeda dari belakang Polda DIY (Jl. Ring Road Utara) menuju Studio Audio Visual di Sinduharjo, Jl. Kaliurang Km 8,5. Kemudian mereka disusul oleh para formatornya, yaitu Romo Didimus Sch.P dan Romo Gregorius Sch.P. Para frater aspiran dan postulan Skolapios ini berada di Yogyakarta untuk belajar ilmu pendidikan di beberapa perguruan tinggi, antara lain di Taman Siswa. Mumpung semester baru belum dimulai, mereka mengisi waktu dengan mengikuti pelatihan Public Speaking yang diampu oleh Romo Iswarahadi SJ dan Mas Noel Kefas. Mereka disambut oleh Romo Murti Hadi Wijayanto SJ selaku Pimpinan SAV di Ruang Mawar. Romo Didimus menyerahkan 12 frater ini, agar selama sepekan kemampuan berkomunikasi mereka dapat ditingkatkan. Sebelum pelatihan dimulai, mereka mengadakan foto bersama di depan gedung Mayangsari.

Mejeng sebelum berlatih
Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan berbicara di depan umum. Artinya, bebas dari keterbelengguan dan mampu berkata-kata dengan baik. Tugas pertama yang mereka kerjakan adalah berekspresi dengan bahasa foto selama 1-3 menit. Meskipun mereka berstatus mahasiswa, mereka masih mempunyai hambatan untuk berbicara dengan jelas di depan publik. Setelah satu per satu menyelesaikan latihan ini, mereka mendapatkan umpan balik dari tutor. Masukan dari para tutor mesti diperhatikan, agar dalam tugas berikutnya mereka mencapai tingkat komunikasi yang lebih baik.

Ekspresi diri dengan bahasa foto
Sebagai tugas ke dua, para peserta harus menyiapkan pidato dan berpraktik satu per satu (3 – 5 menit) dan kemudian mendapat masukan atau evaluasi dari tutor. Ada 4 tema besar yang dipilih dan diolah, yaitu kaum religius dan pendidikan iman, kaum religius dan orang miskin, kaum religius dan orang muda, dan kaum religius dan lingkungan hidup. Tugas ke dua ini dapat mereka kerjakan dengan baik. Mereka sudah semakin percaya diri dan mampu berkata-kata dengan lebih baik. Pada waktu mengerjakan tugas pertama, mereka hanya mampu berbicara di depan public selama setengah sampai satu menit. Dalam tugas kedua ini mereka bisa berbicara sampai 5 menit, tetapi kebanyakan hanya mampu berbicara sampai 3 menit.
Tugas ke tiga adalah menulis puisi dan mengekspresikannya. Tema yang diangkat dalam puisi adalah masalah-masalah kemiskinkan, ketidakadilan, rusaknya lingkungan hidup, dan panggilan hidup religius. Saat melakukan tugas puisi, para peserta sudah semakin percaya diri. Mereka sangat kreatif dalam menulis puisi dan pada mengekspresikannya. Dengan latihan ini mereka semakin terbebas dari belenggu ketakutan dan bebas dari kebisuan.
![]() |
![]() |
Ekspresi diri lewat puisi
Tugas ke empat merupakan tugas yang lebih sulit, yaitu menyiapkan naskah homili sekaligus praktik berhomili. Tema homili yang digarap bertitik tolak dari bacaan misa mulai tanggal 5 Maret 2026 dan seterusnya, sampai semua peserta mendapatkan jatah. Sebelum praktik, para peserta memelajari lebih dulu teori mempersiapkan homili, sekaligus diberikan contoh naskah homili yang telah ditulis secara detil. Ketika tampil di depan, semakin kelihatan bahwa mereka sudah lebih bebas dan dengan sukacita. Isi kotbah sudah memunyai struktur yang jelas. Demikian juga terjadi peningkatan dalam hal vokal, gesture, intonasi, kontak mata dengan audiens, dan kepercayaan diri. Kalau pada awal pelatihan mereka masih menghemat kata-kata, pada tugas homili ini mereka sudah mempunyai kasanah yang lebih luas. Rata-rata homili mereka berdurasi 5 menit, bahkan ada yang sampai 12 menit.

Peserta serius menyiapkan homili
Tugas kelima adalah merancang drama tiga babak dan mementaskannya. Para peserta dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok menyiapkan satu cerita. Mereka mempunyai waktu 1 malam untuk mempersiapkan diri. Pentas dilakukan pada sesi pertama pada hari terakhir. Tugas ini bertujuan untuk mengasah kepercayaan diri dan kemampuan berkomunikasi dengan berbekal pada teori dan tugas-tugas sebelumnya. Cukup mengagumkan bahwa mereka mampu membawakan dua cerita dengan baik. Tema yang diangkat adalah panggilan hidup religius. Drama mereka cukup menyentuh, meskipun hanya menggunakan properti dan musik seadanya.
Salah satu adegan drama panggilan
Sesi terakhir pada hari kelima diisi dengan evaluasi dan refleksi atas seluruh proses pelatihan. Masing-masing peserta menuliskan secara singkat pada secarik kertas penilaian mereka atas proses pelatihan ini. Ketika tulisan mereka dirangkum, hasilnya adalah bahwa 98% peserta merasakan bahwa pelatihan ini sangat menyenangkan dan sangat berguna. Evaluasi ini disaksikan juga oleh dua romo formator dari Skolaspios yang juga hadir pada waktu pembukaan. Masing-masing peserta lalu tampil ke depan untuk mengutarakan evaluasi dan refleksi mereka. Sungguh luar biasa, masing-masing peserta bisa berbicara dengan penuh percaya diri dan ekspresif. Mereka sudah terbebas dari ikatan-ikatan lidahnya. Hal ini membuat para formator sangat berbahagia. Dalam kata sambutan pada penutupan pelatihan, Romo Didimus sangat mengapresiasi hasil yang dicapai oleh para peserta selama 5 hari ini. Para peserta merasa senang dan bahagia mengikuti pelatihan ini, karena semakin percaya diri, semakin mengenal diri sendiri dan sesamanya. Ketrampilan mereka dalam berbicara di depan umum pun berkembang. Sebelum acara ditutup dengan doa, Romo Murti memberikan kata sambutan singkat dan kemudian membagikan sertifikat kepada para peserta. (Peliput: Ispuroyanto Iswarahadi SJ).
Kembali
Salah satu adegan drama panggilanSesi terakhir pada hari kelima diisi dengan evaluasi dan refleksi atas seluruh proses pelatihan. Masing-masing peserta menuliskan secara singkat pada secarik kertas penilaian mereka atas proses pelatihan ini. Ketika tulisan mereka dirangkum, hasilnya adalah bahwa 98% peserta merasakan bahwa pelatihan ini sangat menyenangkan dan sangat berguna. Evaluasi ini disaksikan juga oleh dua romo formator dari Skolaspios yang juga hadir pada waktu pembukaan. Masing-masing peserta lalu tampil ke depan untuk mengutarakan evaluasi dan refleksi mereka. Sungguh luar biasa, masing-masing peserta bisa berbicara dengan penuh percaya diri dan ekspresif. Mereka sudah terbebas dari ikatan-ikatan lidahnya. Hal ini membuat para formator sangat berbahagia. Dalam kata sambutan pada penutupan pelatihan, Romo Didimus sangat mengapresiasi hasil yang dicapai oleh para peserta selama 5 hari ini. Para peserta merasa senang dan bahagia mengikuti pelatihan ini, karena semakin percaya diri, semakin mengenal diri sendiri dan sesamanya. Ketrampilan mereka dalam berbicara di depan umum pun berkembang. Sebelum acara ditutup dengan doa, Romo Murti memberikan kata sambutan singkat dan kemudian membagikan sertifikat kepada para peserta. (Peliput: Ispuroyanto Iswarahadi SJ).
- SUSTER ALMA BELAJAR BIKIN KONTEN
- TERBEBAS DARI BELENGGU SEMAKIN EKSPRESIF
- Artificial Intelligence Dalam Terang Iman: Peluang Dan Tantangan Bagi Pastoral Komunikasi
- LPPM IAKN Tarutung Lakukan Visitasi dan Penjejakan Kerja Sama dengan LPPM Universitas Sanata Dharma
- LPPM USD Terima Kunjungan Benchmarking Forkom LPPM Perguruan Tinggi Jawa Tengah
- PkM Pelayanan Sosial dan Ekonomi Paroki Minomartani: Berbagi Kasih Bagi KLMTD
- Serah Terima Jabatan Kepala Pusat Studi Lingkungan USD, Perkuat Peran PSL di Bawah LPPM
- Pelatihan Calon Kepala Sekolah dalam Naungan Yayasan Dinamika Edukasi Dasar: “Kepemimpinan Sekolah dengan Prinsip Perbaikan Berkelanjutan.”
- Dosen ISFIT Dili Perdalam Profesionalisme Berbasis Veritatis Gaudium
- Studium Generale ISFIT Toward a Humanistic Education: Exploring the Potential of the Digital Generation

