Berita

Pelatihan Public Speaking Untuk Kubina Oleh SAV-USD: Kemampuan Berkomunikasi Sebagai Bekal Hidup Religius

21 Januari 2026

Acara rutin setiap awal tahun yang diadakan oleh KUBINA (Kursus Bina Awal) adalah berbagai macam pelatihan. Salah satunya ialah Kursus Public Speaking. Para aspiran dan postulan atau para calon religius muda dari aneka kongregasi yang tergabung dalam KUBINA mengikuti pelatihan Public Speaking. Pelatihan tersebut berlangsung pada 12-16 Januari 2026  di Syantikara Youth Center, Yogyakarta.  Pesertanya berjumlah 118 orang, calon frater-bruder-suster dari 23  kongregasi (AK, ADM, BM, CB, CM, CSA, FC, FCJ, FdCC, FIC, FICP, MASF, MSC, MSA, MTB, OP, OSU, PBHK, PPYK, RGS, SDP, SSCC dan SX).  Tutor pengampu pelatihan ini adalah Tim dari SAV-USD yang terdiri dari Rm. Yoseph Ispuroyanto SJ (Rm. Iswarahadi), Bp. Emmanuel Cahyo Kristianto  (Mas Noel Kefas), dan Mbak Lidwina Paskarylia Shinta   (Mbak Ariel, lulusan Pendikkat-USD 2025).

Tujuan dari pelatihan ini adalah meningkatkan kepercayaan diri, kemampuan mengekspresikan diri dan kemampuan berbicara di depan umum. Artinya, peserta semakin bebas dari ketakutan dan menjadi percaya diri.  Kemampuan Public Speaking mesti dibina sejak muda, sehingga hari demi hari mereka semakin cakap diutus untuk mewartakan iman dan menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi umat yang dipercayakan kepada mereka. Demikian hal yang ditegaskan pada awal pelatihan oleh Romo Suharno SX selaku Koordinator KUBINA dan Romo Iswarahadi SJ selaku Ketua Tim SAV-USD.
 
 
Para Tutor Memkenalkan Diri
 
Dalam pelatihan ini para peserta lebih banyak diberi praktik daripada teori. Selama proses pelatihan, para tutor pendamping secara garis besar memberikan teori dan prinsip-prinsip dasar berbicara di depan umum. Kemudian sebagian besar waktu dipakai untuk praktik. Setiap peserta diberi tugas untuk tampil dan setiap peserta mendapat evaluasi dari tutor satu per satu. Semua persiapan dilakukan di biara masing-masing. Mengingat jumlahnya cukup besar, para peserta dikelompokkan dalam dua kelas, yaitu Kelas 1, Kelas 2, dan Kelas 3 yang masing-masing didampingi oleh seorang tutor/fasilitator secara penuh.
 
Pada hari pertama, mereka mendapat tugas mengekspresikan diri bertitik tolak dari bahasa foto. Tutor sudah menggelar ratusan foto di lantai dan setiap peserta wajib memilih satu foto  yang paling menarik dan berkaitan dengan pengalaman hidupnya. Lalu para peserta bergabung di kelasnya masing-masing. Satu per satu diberi kesempatan untuk mengekspresikan diri dan kemudian satu per satu mendapat komentar dari tutor pendamping. Penampilan pertama ini sungguh menentukan. Kepercayaan diri yang muncul dengan tugas pertama ini memengaruhi  keberhasilan tugas berikutnya.

 
Ekspresi diri lewat bahasa foto

Pada hari kedua, para peserta mendapat tugas untuk menyiapkan materi pidato dan berpraktik satu per satu (3 menit) dengan mendapat masukan atau evaluasi dari tutor. Ada 4 tema besar yang dipilih dan diolah, yaitu keprihatinan tentang kemiskinan, keprihatinan tentang ligkungan hidup, keprihatinan tentang kaum muda, dan keprihatinan tentang hidup beriman. Pada hari ketiga, setelah diberi pengantar dan contoh oleh tutor, para peserta menulis puisi dan masing-masing mengekspresikannya di depan umum. Saat melakukan tugas puisi, para peserta sudah semakin percaya diri dan mereka sangat kreatif dalam menulis puisi dan pada saat mengekspresikannya. Mereka semakin terbebas dari belenggu ketakutan dan bebas dari kebisuan. Pada hari keempat, para peserta mendapat tugas yang lebih sulit, yaitu menyiapkan dan menyampaikan homili (3-4 menit) berdasarkan kalender liturgi mulai tanggal 15 Januari dst. Setiap kongregasi mendapat bahan yang berbeda-beda.  Bagi sebagian besar peserta, tugas ini menakutkan, sekaligus  memberi pengalaman yang indah.

 



Praktik Pidato, Puisi dan Homili
 
Pada hari kelima, para peserta mendapat tugas membuat evaluasi dan refleksi untuk mengambil buah dari pengalaman latihan selama 5 hari. Evaluasi dan refleksi dialukan secara tertulis terlebih dulu, baru ada pleno untuk mengungkapkan hasil evaluasi dan refleksi mereka. Ada begitu banyak peserta yang menyampaikan evaluasi dan refleksi mereka secara lisan. Mereka mengakui ada perasaan takut dan tidak percaya diri untuk tampil di muka umum. Setelah selesai pelatihan perasaan yang dominan adalah lega, percaya diri dan membahagiakan. Pelatihan ini sangat bermanfaat untuk membebaskan diri dari ketakutan, kebisuan, membantu tumbuhnya ketrampilan berkomunikasi dengan struktur yang jelas dan mengekspresikan diri dengan total. Ada yang sangat terbantu dengan materi bahasa foto, atau pidato, atau puisi, atau homili. Ada yang sangat terbanntu oleh empat materi tersebut. Para peserta juga berterimakasih karena diperhatikan satu per satu.
 
Sebagai tugas terakhir, para peserta diminta untuk menyiapkan misa syukur yang kolaboratif dan kreatif. Misa syukur selama 1 jam persis itu berlangsung dengan indah, meriah dan menggembirakan.  Banyak terjadi perpaduan budaya dari aneka suku di Indonesia. Ada nyanyian, tarian, tablo dan musik daerah yang dirangkai untuk membuat misa penutupan ini terasa indah, meriah dan penuh sukacita.

           
Tarian Pembukaan Misa Syukur

 
Baik oleh para peserta maupun para Pembina dari masing-masing kongregasi, pelatihan ini telah membuat para peserta semakin percaya diri dan mampu berbicara dengan lancar di depan umum. Mereka mengalami bebas dari kebisuan. Berdasarkan bacaan Injil hari itu (Mrk. 2:1-12), dalam homilinya Romo Iswarahadi SJ mengibaratkan  pembina dari aneka kongregasi sebagai para pengusung orang lumpuh. Kehendak kuat dan iman yang kuat dari mereka dan dari para peserta menggerakkan Tuhan, sehingga di antara kita terjadi kesembuhan. Yang takut berbicara bisa berkata-kata dengan lancar. Bebas dari kelumpuhan lidah, sehingga mereka bisa berkata-kata dengan baik.
 
Dalam  sambutan penutupan, Romo Suharno SX menegaskan bahwa dengan melaksanakan tugas yang diberikan dan dengan pendampingan yang penuh dedikasi oleh para tutor, para peserta mengalami apa yang menjadi tujuan pelatihan ini. Sesuatu yang luar biasa ialah satu per satu peserta mendapat apresiasi dan masukan dari para tutor. Kepercayaan diri, keberanian berekspresi dan ketrampilan berbicara di depan umum  merupakan bekal kehidupan bagi para religius  untuk mewartakan iman, kasih dan pengharapan.  (Peliput: Ispuroyanto Iswarahadi SJ). 
 

 
***

Kembali