Berita

Prodi Sastra Indonesia USD Libatkan Stakeholders untuk Rancang Kurikulum 2026 Berbasis AI dan Kebutuhan Industri

30-03-2026 15:08:15 WIB 

Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma (USD) terus memperkuat langkah transformasi kurikulum dengan melibatkan pemangku kepentingan eksternal. Bertempat di Ruang S.203, Gedung Fakultas Sastra USD, Prodi Sastra Indonesia USD menghadirkan dua narasumber, yaitu Dr. Ratun Untoro (Balai Bahasa Provinsi DIY) dan Joko Irawan Mumpuni (Direksi Penerbit Andi Offset), untuk memberikan masukan strategis dalam penyusunan Kurikulum 2026.

Kegiatan ini menegaskan komitmen prodi dalam merespons perubahan lanskap dunia kerja, khususnya di era kecerdasan buatan (AI) dan industri digital.

Dalam paparannya, Joko Irawan Mumpuni menyoroti bahwa industri penerbitan saat ini tengah mengalami transformasi besar-besaran akibat digitalisasi dan perkembangan AI. Ia menegaskan bahwa lulusan Sastra Indonesia tidak lagi cukup hanya menguasai teori, tetapi harus mampu mengambil peran baru yang relevan dengan kebutuhan industri.

“Lulusan Sastra Indonesia tidak lagi cukup hanya kuat teori, tetapi harus menjadi kreator konten, editor profesional, dan problem solver berbasis bahasa,” ujarnya .

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa industri kini bergerak menuju ekosistem hybrid publishing yang mengintegrasikan buku cetak dengan e-book, audiobook, dan berbagai bentuk konten digital lintas platform. 

Selain itu, AI telah menjadi co-creator dalam proses produksi, mulai dari penulisan hingga penyuntingan awal. Oleh karena itu, lulusan dituntut memiliki kompetensi penulisan multiformat, keterampilan digital seperti SEO writing dan content strategy, serta kemampuan beradaptasi dengan kecepatan produksi industri.

Namun, ia juga mengidentifikasi sejumlah kesenjangan kompetensi lulusan saat ini, antara lain lemahnya praktik editing profesional, kurangnya literasi digital produksi konten, serta minimnya pengalaman industri nyata. Hal ini menjadi catatan penting bagi penguatan kurikulum ke depan.

Sementara itu, Dr. Ratun Untoro menyoroti aspek struktural dan konseptual kurikulum. Ratun mengapresiasi arah pengembangan kurikulum yang telah berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan mulai mengintegrasikan literasi digital serta AI. Namun, ia menilai masih diperlukan penajaman agar kurikulum lebih fokus dan memiliki diferensiasi yang kuat.

“Profil lulusan saat ini masih terlalu luas dan berisiko membuat kurikulum menjadi dangkal. Perlu penegasan peminatan agar kompetensi lulusan lebih terarah,” ungkapnya.

Ratun mengusulkan pembagian peminatan menjadi tiga jalur utama, yaitu kreatif dan media, pengkajian (riset), serta pengajaran bahasa (termasuk BIPA). Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjadikan AI sebagai bagian integral kurikulum, bukan sekadar tambahan.

“AI perlu diposisikan sebagai alat bantu berpikir, alat produksi, sekaligus objek kajian kritis. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya menggunakan AI, tetapi juga mampu mengkritisi dan mengendalikannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ratun merekomendasikan penguatan mata kuliah berbasis masa depan seperti Digital Humanities, Content Strategy, UX Writing, dan Corpus Linguistics, serta penerapan pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) yang memungkinkan mahasiswa menghasilkan karya nyata dan portofolio profesional.

Pertemuan ini menghasilkan sejumlah arah strategis, antara lain penguatan kompetensi digital dan AI, peningkatan praktik industri melalui magang dan proyek kolaboratif, serta penajaman profil lulusan sebagai language-based creative professional yang adaptif, kritis, dan humanis.

Melalui kolaborasi dengan stakeholders, Prodi Sastra Indonesia USD optimistis Kurikulum 2026 akan mampu menjawab tantangan zaman sekaligus mempersiapkan lulusan yang relevan, kompetitif, dan siap berkontribusi di dunia kerja yang terus berubah.

 kembali