Berita
Diskusi Buku Tanpa Rencana: Kolaborasi Prodi Sastra Indonesia dan Penerbit Bentang Pustaka Hadirkan Dee Lestari
Program Studi Sastra Indonesia USD dalam kerja sama dengan Penerbit Bentang Pustaka sukses menggelar diskusi buku Tanpa Rencana, buku terbaru Dee Lestari, Jumat (13/12) di Ruang Seminar Auditorium Driyarkara. Acara yang bertajuk “Cerita di Balik Kisah Tanpa Rencana” ini dihadiri oleh mahasiswa, dosen, dan penggemar Dee Lestari dari berbagai kalangan.
Redemptus Gemma Antero dan Carrisa Azahra Candraningtyas yang bertugas sebagai pewara memulai acara pada pukul 13.00 WIB.
Karya-karya Dee disajikan sebagai pembuka acara melalui pembacaan puisi “Inteligensi Embun Pagi” oleh Humaerah Nur'izzatinnisa yang berpadu harmonis dengan lantunan lagu “Perahu Kertas” oleh Joan Delanoue Denting Sanitia Merdu.

Penjiwaan Humaerah dan alunan suara Denting yang merdu berhasil menghidupkan suasana.
Sony Christian Sudarsono, S.S., M.A., Kaprodi Sastra Indonesia USD, menyatakan, “Penampilan ini adalah cara kami, Prodi Sastra Indonesia, menyambut Kak Dee Lestari yang mungkin baru pertama kali mengunjungi USD, sekaligus untuk membuat USD terasa seperti rumah bagi Kak Dee.”
Masih dalam rangkaian pembukaan, Nurjannah Intan selaku Head of Marcomm Penerbit Bentang Pustaka juga mengekspresikan kegembiraan dan rasa syukur atas terselenggaranya acara ini.
Tanpa Rencana adalah kumpulan cerita yang menawarkan karakter-karakter yang memikat dan refleksi kehidupan yang mendalam.
Dee Lestari menjelaskan bahwa karya ini digerakkan oleh energi spontan dan tanpa rencana sebagaimana tecermin di dalam judul bukunya, berbeda dari karya-karya sebelumnya yang didahului riset yang intensif.
Diskusi dipandu oleh Maria Magdalena Sinta Wardani, S.S., M.A. yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait proses kreatif di balik penulisan Tanpa Rencana.
Dee mengungkapkan bahwa ide penulisan buku Tanpa Rencana ini sudah dari tahun 2020.
“Waktu itu saya melakukan detoks media sosial yang akibatnya ada energi kreatif yang besar banget. Mungkin karena perhatian dan fokus saya yang tadinya tercuri oleh medsos tiba-tiba jadi utuh lagi karena waktu itu saya jadi banyak membaca, menulis jurnal, dan melakukan kontemplasi. Rasanya batin saya seperti mendapatkan penyegaran,” ungkap Dee.
Salah satu pernyataan Dee yang menarik adalah bahwa ide cerita bisa datang dari mana saja dan kapan saja, bahkan saat menggosok gigi.
Dengan ini maka tugas penulis adalah mengasah kepekaannya untuk bisa “mendengar” (ini istilah yang dipilih Dee) dan kemudian mengangkat ide itu menjadi sebuah karya.
Ada yang ia sebut sebagai “ruang berkarya” atau “ruang penciptaan” yang merupakan pertemuan antara ide yang muncul dan pengolahan penulisnya.
Sebagai penulis, Dee berpegang pada kebebasan berkreasi. Ia sering menembus batasan-batasan, antara fiksi dan nonfiksi atau antara prosa dan puisi.
Dalam karya terbarunya, Dee bahkan bereksperimen dengan batasan antara penulis dan tokoh-tokohnya.
Dee dengan caranya sendiri juga menyemangati penulis pemula dalam berkarya ketika ia membagikan tip untuk bisa konsisten menulis.
“Saya merasa ini (menulis) adalah tugas saya. Kalau sudah tugas, mau jadi bestseller kek, mau nggak, ada orang suka, ada orang nggak suka, it’s okay. Saya hanya menjalankan tugas,” katanya sambil tertawa.
Pernyataan ini tidak dalam rangka antikritik sebetulnya karena sebelumnya Dee juga sudah menjawab pertanyaan menarik dari seorang peserta diskusi terkait bagaimana cara Dee menanggapi ulasan pembaca yang kurang tergerak oleh karyanya.
Perspektif Dee terhadap hal ini adalah bahwa ia menempatkan pembaca di posisi yang selalu benar, baik terhadap pembaca yang menyukai karyanya maupun yang tidak.
Bahwa kisah-kisah yang tersaji di dalam kumpulan cerita Tanpa Rencana ini membawa pembaca ke dalam perjalanan emosional yang intens diekspresikan oleh Zula dalam diskusi.
“Saat membaca buku ini, saya menangis terus. Kalau tadi dikatakan bahwa cerita itu memilih penulisnya, bagi saya cerita juga memilih pembacanya,” ungkapnya.
Para peserta mengikuti keseluruhan acara dengan antusias.
Sebagai penutup, peserta diskusi juga mendapatkan kesempatan istimewa untuk berjumpa dengan Dee secara langsung dan mendapatkan tanda tangan Dee.
Acara meet & greet jadi bagian yang paling ditunggu-tunggu para penggemar Dee yang rela antre dengan tertib.
Acara bedah buku Tanpa Rencana berakhir pada pukul 15.30 WIB.
Meski dengan waktu yang terbatas, para peserta diskusi mengantongi banyak ilmu yang dibagikan secara murah hati oleh Dee Lestari.
(mmsw)
- Diskusi Buku Tanpa Rencana: Kolaborasi Prodi Sastra Indonesia dan Penerbit Bentang Pustaka Hadirkan Dee Lestari
- Mantra Malam Malam Vol III: Panggung Ekspresi dan Pameran Seni oleh Bengkel Sastra
- Antologi Puisi “Sastra Merayu: Mawar Merah Untuk Kekasihku” oleh Ananda Aditya Firdaus, Mahasiswa Sastra Indonesia USD
- Bengkel Sastra USD Memperingati Hari Puisi Sedunia dengan Panggung Bebas Berekspresi
- Prodi Sastra Indonesia Merayakan Kelulusan 26 Mahasiswanya Melalui Syukuran Wisuda
- Muhammad Syamsa, Mahasiswa Sastra Indonesia USD, Terbitkan Antologi Puisi “Selamat Datang Cinta”
- Bengkel Sastra USD Bersama Niang Gejur Gelar Pameran
- Seminar Sastra Indonesia: Mencari Jalan Baru Industri Kreatif
- Mahasiswa Sastra Indonesia USD Dampingi 8 Skolastik dari Myanmar dan Pakistan Belajar Bahasa Indonesia
- Jalin Kerja Sama dengan Yunnan Minzu University, Prodi Sastra Indonesia USD Siap Mengembangkan Pembelajaran BIPA di Tiongkok