Berita
Mengubah Distraksi Digital: Scroling to Growing
21-05-2026 11:43:35 WIB
Sabtu, 9 Mei 2026, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma sukses menyelenggarakan Seminar Lokal Pendidikan 2026, bertempat di Ruang Seminar Driyarkara. Mengangkat tema inspiratif "Mengubah Distraksi Digital: Scrolling to Growing," acara ini bertujuan memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai tantangan belajar di tengah arus informasi digital yang masif. Acara dipandu oleh dua pembawa acara, Ni Nyoman Tunjung Adi Putri dan Ganda Bintang Arista, yang memeriahkan suasana dengan jargon khas: "Seminar Lokal Pendidikan 2026: Stop Scrolling, Start Growing!".
Seminar diawali dengan sambutan dari Hana Nadin Manulang selaku Ketua Panitia, menegaskan bahwa seminar ini hadir sebagai wadah untuk mengubah cara pandang terhadap teknologi agar tidak hanya menjadi distraksi yang merusak fokus, melainkan sarana untuk mengembangkan kreativitas dan wawasan luas. Dilanjutkan dengan sambutan dari Lola Sihaloho selaku Gubernur BEM FKIP. Dalam sambutannya beliau merasa keresahan mengenai dominasi media sosial seperti TikTok dan Instagram yang memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out), sehingga sering kali mengganggu produktivitas akademik mahasiswa.
Memasuki acara inti, F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D., selaku Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma memberikan sambutan yang menekankan pentingnya refleksi diri bagi mahasiswa sebagai calon pendidik. Beliau menyebut mahasiswa saat ini sebagai "makhluk amfibi sosial" karena hidup di dua alam, yakni dunia digital dan dunia nyata. Beliau juga menyoroti data screen time mahasiswa yang tinggi dan mengingatkan bahwa sebelum memimpin kelas atau peserta didik (Gen Alfa), seorang calon guru harus mampu memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu dalam mengelola penggunaan gawai.
Sesi pertama seminar menghadirkan Bapak Jer Donald Sinaga, M.Pd., dengan topik "Tantangan Belajar di Era Digital" yang dipandu oleh moderator Elvina Valenia. Dalam paparannya, Pak Donald mengungkapkan data mengejutkan bahwa rata-rata mahasiswa Indonesia menghabiskan waktu 5,7 jam per hari untuk scrolling media sosial. Beliau menjelaskan dari sudut pandang psikologi dan neurologi bahwa perilaku scrolling memicu pelepasan dopamin hingga 400% yang menyebabkan adiksi. Selain itu, beliau menekankan bahwa otak memerlukan waktu sekitar 23 menit untuk kembali fokus setelah terdistraksi oleh gawai, sehingga manajemen gangguan (distraction management) menjadi sangat krusial bagi efektivitas belajar.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Dr. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., yang membawakan materi bertajuk "Smart Learning Strategy". Pak Damai mengajak mahasiswa untuk waspada terhadap "hyper-reality" di media sosial yang sering kali melebih-lebihkan realitas dan membuat orang kehilangan rasa syukur terhadap kehidupan nyata. Beliau membagikan strategi belajar cerdas dengan menggali potensi atau "versi terbaik" dari diri sendiri, sebagaimana pengalaman beliau yang aktif sebagai dosen, penulis cerpen, dalang, hingga pencipta lagu. Terkait teknologi, beliau menyarankan penggunaan AI (Artificial Intelligence) hanya sebagai teman diskusi atau brainstorming, namun validasi akhir harus tetap merujuk pada sumber aslinya.
Setiap sesi akan ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Kemudian pemberian suvenir kepada para narasumber, dan sesi foto bersama seluruh peserta. Sebagai penutup yang khidmat, seluruh hadirin menyanyikan lagu Himne Sanata Dharma dan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Saudari Clara. Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa FKIP tidak lagi hanya menjadi konsumen konten digital, melainkan mampu bertransformasi menjadi pribadi yang produktif dan terus bertumbuh (growing) di tengah tantangan zaman.
Seminar diawali dengan sambutan dari Hana Nadin Manulang selaku Ketua Panitia, menegaskan bahwa seminar ini hadir sebagai wadah untuk mengubah cara pandang terhadap teknologi agar tidak hanya menjadi distraksi yang merusak fokus, melainkan sarana untuk mengembangkan kreativitas dan wawasan luas. Dilanjutkan dengan sambutan dari Lola Sihaloho selaku Gubernur BEM FKIP. Dalam sambutannya beliau merasa keresahan mengenai dominasi media sosial seperti TikTok dan Instagram yang memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out), sehingga sering kali mengganggu produktivitas akademik mahasiswa.
Memasuki acara inti, F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D., selaku Dekan FKIP Universitas Sanata Dharma memberikan sambutan yang menekankan pentingnya refleksi diri bagi mahasiswa sebagai calon pendidik. Beliau menyebut mahasiswa saat ini sebagai "makhluk amfibi sosial" karena hidup di dua alam, yakni dunia digital dan dunia nyata. Beliau juga menyoroti data screen time mahasiswa yang tinggi dan mengingatkan bahwa sebelum memimpin kelas atau peserta didik (Gen Alfa), seorang calon guru harus mampu memimpin dirinya sendiri terlebih dahulu dalam mengelola penggunaan gawai.
Sesi pertama seminar menghadirkan Bapak Jer Donald Sinaga, M.Pd., dengan topik "Tantangan Belajar di Era Digital" yang dipandu oleh moderator Elvina Valenia. Dalam paparannya, Pak Donald mengungkapkan data mengejutkan bahwa rata-rata mahasiswa Indonesia menghabiskan waktu 5,7 jam per hari untuk scrolling media sosial. Beliau menjelaskan dari sudut pandang psikologi dan neurologi bahwa perilaku scrolling memicu pelepasan dopamin hingga 400% yang menyebabkan adiksi. Selain itu, beliau menekankan bahwa otak memerlukan waktu sekitar 23 menit untuk kembali fokus setelah terdistraksi oleh gawai, sehingga manajemen gangguan (distraction management) menjadi sangat krusial bagi efektivitas belajar.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Dr. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., yang membawakan materi bertajuk "Smart Learning Strategy". Pak Damai mengajak mahasiswa untuk waspada terhadap "hyper-reality" di media sosial yang sering kali melebih-lebihkan realitas dan membuat orang kehilangan rasa syukur terhadap kehidupan nyata. Beliau membagikan strategi belajar cerdas dengan menggali potensi atau "versi terbaik" dari diri sendiri, sebagaimana pengalaman beliau yang aktif sebagai dosen, penulis cerpen, dalang, hingga pencipta lagu. Terkait teknologi, beliau menyarankan penggunaan AI (Artificial Intelligence) hanya sebagai teman diskusi atau brainstorming, namun validasi akhir harus tetap merujuk pada sumber aslinya.
Setiap sesi akan ditutup dengan sesi tanya jawab yang dinamis. Kemudian pemberian suvenir kepada para narasumber, dan sesi foto bersama seluruh peserta. Sebagai penutup yang khidmat, seluruh hadirin menyanyikan lagu Himne Sanata Dharma dan diakhiri dengan doa penutup yang dipimpin oleh Saudari Clara. Melalui seminar ini, diharapkan mahasiswa FKIP tidak lagi hanya menjadi konsumen konten digital, melainkan mampu bertransformasi menjadi pribadi yang produktif dan terus bertumbuh (growing) di tengah tantangan zaman.
kembali
- Mengubah Distraksi Digital: Scroling to Growing
- Program Pertukaran Guru antara USD dengan St. Joseph Upatham School Thailand: Closing Ceremony
- Perkuat Strategi Digital, FKIP Universitas Sanata Dharma Targetkan Pertumbuhan Pendaftar Melalui Inovasi Konten Kreatif
- Perkuat Jejaring Internasional, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan USD Gelar Diskusi KOlaborasi Bersama St. Joseph Upatham School Thailand
- FKIP Universitas Sanata Dharma Perkuat Strategi Komunikasi Digital Melalui Pelatihan Konten Berbasis Kecerdasan Buatan
- Pejabat Struktural FKIP USD Melaksanakan Rapat Pembaharuan PLP dan PLP Internasional
- FKIP USD Sambut Guru St. Joseph Upatham School Thailand dalam Program Pelatihan Mengajar
- Sosialiasi PPKPT Mahasiswa FKIP USD
- Universitas Sanata Dharma Sosialisasikan Protokol PPKPT: Upaya Mewujudkan Kampus Ramah dan Bermartabat
- Orientasi Awal Tugas Ormawa FKIP USD
