Berita

Pembuka Rangkaian Lustrum VI Fakultas Farmasi USD: Bakti Sosial dan Penyuluhan Kesehatan "Usia Emas Tanpa Cemas Mengendalikan Hipertensi dengan Cerdas"

Mon, 24 Mar 2025

Yogyakarta, 23 Maret 2025 – Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) mengawali rangkaian Lustrum ke-6 yang bertema "Tiga Dekade Fakultas Farmasi USD: Sinergis, Bergerak, dan Berdampak" melalui kegiatan kolaborasi Bakti Sosial dan Penyuluhan Kesehatan. Acara bertajuk "Usia Emas Tanpa Cemas Mengendalikan Hipertensi dengan Cerdas" diselenggarakan di Gereja St. Maria Assumpta Babarsari, Yogyakarta pada Minggu, 23 Maret 2025. Kegiatan ini menitikberatkan pada edukasi pengendalian hipertensi melalui upaya promotif dan preventif bagi masyarakat lanjut usia.

"Hipertensi adalah penyakit degeneratif yang tak terhindarkan seiring bertambahnya usia. Meski demikian, progresivitas hipertensi dapat dicegah dan dibatasi agar tidak memicu berbagai komplikasi," jelas apt. Eustachia Diajeng Wandansari, M.Biomed., dosen pada Kelompok Keilmuan Farmakologi Fakultas Farmasi USD yang menjadi pembicara utama dalam penyuluhan tersebut.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PkM) ini dihadiri oleh Dr. apt. Dewi Setyaningsih selaku Dekan Fakultas Farmasi USD, didampingi apt. Putu Dyana Christasani, M.Sc. (Wakil Ketua Program Studi Sarjana Farmasi), Dr. apt. Yunita Linawati (Dosen Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker), serta Valentinus Jovani Febraananta (Gubernur Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Farmasi USD). Turut hadir pula Romo Gregorius Awan Widyaka, Pr. selaku Romo Kepala Paroki Babarsari serta Bapak Laurensius Antonius Ladjadjawa dan dr. Johanes Ary Labrianus Aquarianto mewakili Dewan Paroki Babarsari.

"Kami selaku perwakilan dewan paroki menyambut baik kegiatan ini dan berharap bisa menyusun MoU dengan Fakultas Farmasi agar program semacam ini terus berkesinambungan," ungkap Laurentius.

"Fakultas Farmasi USD dengan visinya meningkatkan martabat kesehatan masyarakat siap berkolaborasi dengan paroki untuk melayani warga," tutur Dr. apt. Dewi Setyaningsih. Beliau juga menyampaikan kesiapan sarana prasarana pembelajaran fakultas untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Berbagai kerja sama dengan para stakeholder turut memperkuat kapasitas fakultas dan kualitas lulusan.


Dalam paparannya, apt. Eustachia menyajikan data mengenai beban hipertensi di Indonesia. Berdasarkan laporan tahun 2024, pembiayaan BPJS untuk penanganan hipertensi beserta komplikasinya telah mencapai Rp 22 triliun. Selain itu, Survei Kesehatan Indonesia 2023 menempatkan DI Yogyakarta pada posisi kedua dengan proporsi penyandang hipertensi terbanyak setelah Daerah Khusus Jakarta. Tingginya prevalensi hipertensi dan minimnya pemahaman masyarakat tentang pengelolaan penyakit ini menegaskan bahwa edukasi kesehatan terkait hipertensi masih sangat dibutuhkan, terutama pada kelompok lansia yang berisiko tinggi.

Pemahaman mengenai pengendalian hipertensi dapat membuat lansia lebih tenang dan damai bersama kondisinya. Program “PATUH” menjadi kunci pengendalian hipertensi yang mencakup: Periksa kesehatan secara rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, Tetap diet dengan gizi seimbang, Upayakan aktivitas fisik dengan aman, dan Hindari asap rokok, alkohol, dan zat karsinogenik lainnya.


Peserta tidak hanya memperoleh edukasi kesehatan, tetapi juga mendapatkan pelatihan praktis dalam pengolahan tanaman herbal untuk mendukung pengendalian hipertensi. Herbal Garden Team (HGT), salah satu student club di FF USD, memperkenalkan teh bunga telang dan puding ubi ungu sebagai alternatif pendamping pengobatan, sementara mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker mengajarkan senam antihipertensi yang dapat dilakukan secara rutin di rumah. "Kombinasi edukasi, praktik pengolahan herbal, dan aktivitas fisik bertujuan memberikan solusi holistik bagi masyarakat, khususnya lansia, dalam mengelola tekanan darah tinggi," ujar Viona Grace Natalya, ketua panitia. Sebagai bagian dari rangkaian aksi, diselenggarakan pula kegiatan donor darah bekerjasama dengan PMI Kabupaten Sleman yang diikuti puluhan warga sekitar paroki.
 




Sesi diskusi dan tanya jawab yang dipandu Dr. apt. Yunita Linawati berlangsung antusias. Salah satu peserta menceritakan keresahannya, "Saya kadang bosan dan putus asa minum obat setiap hari tanpa henti. Bagaimana cara mengatasi perasaan ini?". Menanggapi pertanyaan tersebut, Dr. apt. Yunita menerangkan, "Perasaan bosan mengonsumsi obat jangka panjang adalah hal yang wajar. Namun, konsistensi pengobatan sangat penting untuk menghindari komplikasi berbahaya. Beberapa strategi bisa diterapkan, seperti penggunaan pengingat harian, dukungan keluarga, dan rutin melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan agar tekanan darah tetap terkontrol."



Melalui kegiatan ini, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran dan pemahaman masyarakat, khususnya lansia, tentang pentingnya pengendalian hipertensi, sehingga dapat mewujudkan kehidupan yang lebih sehat dan berkualitas pada usia emas. (ED)

 back
Archive