Berita

Fakultas Farmasi USD Berdayakan Masyarakat Desa Kepek dalam Pengendalian Vektor Demam Berdarah Dengue

Mon, 24 Mar 2025

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) melaksanakan program Pengabdian kepada Masyarakat-Program Unggulan (PkM-PU) bertajuk "Peningkatan Kapasitas Masyarakat Desa Dalam Pengendalian Vektor DBD: Pelatihan Inovatif Pembuatan Ovitrap" di Balai Padukuhan Tegalmulyo, Kalurahan Kepek, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, pada Kamis, 20 Maret 2025.


Kegiatan yang dipimpin oleh Dr. apt. Rini Dwiastuti selaku ketua tim pengabdi ini dihadiri oleh 31 peserta yang terdiri atas kader kesehatan dan masyarakat Desa Kepek di wilayah pelayanan Puskesmas Wonosari II. Adapun narasumber kegiatan adalah dr. Antonius Dwi Susanto selaku Kepala Puskesmas Wonosari II.
Inisiatif pengabdian masyarakat tersebut dilatarbelakangi oleh permasalahan prioritas yang dihadapi Puskesmas Wonosari II di Kabupaten Gunungkidul berupa keterbatasan fasilitas, sarana, dan prasarana yang memadai untuk menangani kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), khususnya dalam pembuatan ovitrap. Selain itu, jumlah tenaga medis yang terbatas terutama saat menghadapi lonjakan kasus DBD pada musim hujan, menyebabkan pelayanan mengalami banyak kendala dalam penanganan kasus. Keterbatasan ini berdampak pada kualitas pelayanan dalam proses diagnosis serta penanganan kasus DBD.

   

"Kegiatan pengabdian ini merupakan upaya konkret untuk memberdayakan masyarakat dalam pengendalian vektor DBD melalui pembuatan dan penggunaan ovitrap, yang merupakan salah satu metode pengendalian vektor nyamuk Aedes aegypti secara mandiri oleh masyarakat," ujar Dr. apt. Rini Dwiastuti.

Metode pelaksanaan pengabdian masyarakat terdiri dari dua kegiatan utama, yakni pembentukan Kader DBD Desa Kepek dan pelatihan pembuatan ovitrap yang dilanjutkan dengan pembagian ovitrap kepada masyarakat. Para peserta mendapatkan edukasi mengenai siklus hidup nyamuk Aedes aegypti, epidemiologi DBD, serta pengenalan dan cara pembuatan ovitrap sebagai metode pengendalian vektor yang efektif dan ekonomis.

dr. Antonius Dwi Susanto dalam paparannya menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam upaya pencegahan DBD. "Dengan memahami metode pembuatan ovitrap, masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam memutus siklus hidup nyamuk penyebab DBD di lingkungan tempat tinggalnya masing-masing," jelasnya.


Peserta pelatihan menunjukkan antusiasme yang tinggi selama proses pembuatan ovitrap. Mereka dibekali dengan pengetahuan tentang bahan-bahan yang diperlukan, teknik pembuatan yang tepat, serta panduan penempatan ovitrap yang strategis di lingkungan rumah.
 
Ibu Emi, salah satu Kader Kesehatan di Desa Kepek, mengungkapkan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat bagi warga Desa Kepek. "Kami merasa terbantu karena adanya kasus DBD yang akhir-akhir ini mulai merebak. Pelatihan pembuatan ovitrap ini sangat bermanfaat nantinya untuk Desa Kepek," ujarnya. Ia menambahkan bahwa sebagai salah satu kader kesehatan, ilmu ini akan dibagikan kepada masyarakat desa sehingga diharapkan dapat mengurangi angka kejadian kasus DBD di Desa Kepek. Menurut Ibu Emi, angka kejadian kasus DBD pada bulan Desember 2024 dan Januari 2025 tercatat sebanyak 12 kasus, hal ini menjadi perhatian khusus bagi kader kesehatan yang ada di Desa Kepek. Selain itu, para kader juga mendapatkan pengetahuan baru tentang berbagai jenis virus DBD.

Sementara itu, Ibu Erwati, salah satu warga Desa Kepek, mengekspresikan antusiasmenya dalam mengikuti pelatihan pembuatan ovitrap. "Saya merasa materi terkait DBD dan pembuatan ovitrap sangat mudah diterima dan sangat membantu," ungkapnya. Ia juga berpendapat bahwa pelatihan ini masih perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas karena informasi ini sangat penting untuk mengurangi jumlah perkembangan nyamuk DBD. "Penggunaan ovitrap ini diharapkan dapat memutus rantai perkembangbiakan nyamuk DBD," imbuhnya.

Sebagai tindak lanjut dari intervensi kesehatan masyarakat tersebut, akan dilakukan pemantauan keefektifan ovitrap serta pemantauan dan pelaporan berkala oleh kader setiap dua atau tiga minggu sekali. Data yang diperoleh akan digunakan sebagai bahan evaluasi dan pengembangan strategi pengendalian DBD di masa mendatang.

Melalui PkM-PU yang diselenggarakan ini, Fakultas Farmasi USD berharap dapat berkontribusi dalam upaya pengendalian DBD di Kabupaten Gunung Kidul, sekaligus meningkatkan partisipasi aktif masyarakat dalam pembangunan kesehatan di daerahnya. (ED/Farmasi)

 back
Archive