artikel

Pelatihan Peer Counselor Student Staff Pusat Layanan Konseling Universitas Sanata Dharma

Pelatihan Peer Counselor Student Staff Pusat Layanan Konseling Universitas Sanata Dharma

Pada hari Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 13.00–15.00 WIB telah dilaksanakan kegiatan Pelatihan Peer Counselor bagi Student Staff atau Asisten Pusat Layanan Konseling (PLK) Universitas Sanata Dharma yang bertempat di Ruang Koendjono, Gedung BAA Kampus 2 Universitas Sanata Dharma. Kegiatan ini merupakan rangkaian ketiga dari pelatihan Peer Counselor yang bertujuan untuk membantu asisten semakin mengenali, memahami, dan merefleksikan dirinya sebagai bekal dalam menjalankan peran sebagai pendamping sebaya di lingkungan kampus.     

Pelatihan dipandu oleh Vincent Eddy Kuncoro Hartono, M.Psi., Psikolog yang kerap disapa Mas Vincent, beliau merupakan konselor PLK Universitas Sanata Dharma serta telah berpengalaman mendampingi berbagai proses konseling. Pada rangkaian pelatihan sebelumnya, asisten telah diajak untuk mulai mengenali identitas diri melalui berbagai aktivitas reflektif. Pada pertemuan pertama, asisten diminta memilih satu benda yang dirasa paling menggambarkan dirinya, kemudian menjelaskan alasan memilih benda tersebut dan kaitannya dengan karakter pribadi masing-masing. Aktivitas tersebut membantu asisten mulai melihat dan memahami dirinya melalui simbol-simbol sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Selain itu, asisten juga diajak menuliskan perjalanan hidup secara bertahap berdasarkan rentang usia lima tahunan, mulai dari masa kecil hingga usia saat ini. Dari proses tersebut, asisten mencoba mengingat berbagai pengalaman yang membentuk dirinya, baik pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang meninggalkan kesan tertentu. Dalam proses refleksi tersebut, asisten kemudian diajak untuk “bertemu” dengan dirinya di masa lalu melalui latihan imajinatif, seperti mengucapkan terima kasih, meminta maaf, maupun menyampaikan hal-hal yang selama ini belum sempat diungkapkan kepada diri sendiri.

Pada pertemuan kedua, asisten lebih banyak diajak mengenali emosi dan berbagai faktor yang memengaruhi pembentukan diri. Asisten diminta menuliskan berbagai emosi yang sering dirasakan, bagaimana emosi tersebut muncul, bagaimana bentuk perilaku yang ditampilkan, serta pengaruh lingkungan, keluarga, maupun pengalaman hidup terhadap diri mereka. Setelah itu, asisten membuat lingkaran-lingkaran atau irisan yang menggambarkan bagian-bagian dalam diri, seperti sifat pemarah, egois, impulsif, periang, rajin, bijaksana, dan berbagai sisi lain yang dirasa melekat dalam diri masing-masing. Kegiatan tersebut membantu asisten menyadari bahwa diri manusia terdiri dari banyak bagian yang saling memengaruhi satu sama lain.

Pada pertemuan ketiga yang dilaksanakan kali ini, asisten kembali diajak mendalami bagian-bagian diri yang sebelumnya telah dibuat dalam bentuk irisan tersebut. Kegiatan diawali dengan latihan relaksasi dan refleksi melalui praktik memejamkan mata untuk membayangkan satu pengalaman menyenangkan yang pernah dialami. Asisten diminta mengingat suasana, perasaan, serta sensasi fisik yang muncul ketika membayangkan pengalaman tersebut. Setelah proses refleksi selesai, asisten kemudian menggambarkan pengalaman tersebut melalui gambar sederhana dan menceritakan pengalaman yang dirasakan selama proses membayangkan berlangsung. Dalam sesi ini, asisten juga diajak menyadari bahwa pengalaman emosional sering kali memengaruhi kondisi fisik, seperti munculnya rasa hangat, lega, tenang, ataupun perubahan ekspresi tubuh.

Selanjutnya, asisten diminta kembali melihat lingkaran atau irisan diri yang telah dibuat sebelumnya dan memilih satu bagian diri yang dirasa paling dominan, paling sulit diterima, atau paling sering muncul dalam kehidupan sehari-hari. Dengan pendampingan dari narasumber, asisten diajak melakukan refleksi mendalam melalui proses dialog dengan bagian diri tersebut. Dalam proses ini, asisten mencoba memahami alasan munculnya sisi tersebut, menanyakan apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh bagian diri tersebut, sekaligus mengucapkan terima kasih karena bagian tersebut dianggap pernah membantu melindungi diri dalam situasi tertentu.

Berdasarkan hasil evaluasi, asisten menggambarkan berbagai pengalaman batin yang muncul, seperti bertemu dengan sosok tertentu, melihat simbol-simbol, hingga merasakan emosi yang sebelumnya jarang disadari. Setelah latihan selesai, asisten diminta kembali ke “self” atau pusat diri, kemudian menggambarkan hasil pertemuan dengan bagian dirinya masing-masing dan membagikan pengalaman yang dirasakan selama proses berlangsung. Suasana pelatihan berlangsung hangat, reflektif, dan penuh keterbukaan, sehingga asisten dapat saling mendengarkan dan menghargai proses masing-masing.

Berdasarkan hasil refleksi dan evaluasi asisten, sebagian besar asisten merasa bahwa sesi praktik memasuki “lingkaran diri” menjadi bagian yang paling membantu dalam pelatihan kali ini. Beberapa asisten menyampaikan bahwa ketika diminta memejamkan mata dan menyelami alam bawah sadar, mereka menjadi lebih memahami sisi-sisi diri yang selama ini dipendam atau disembunyikan dari orang lain. Selain itu, asisten juga merasa lebih sadar bahwa sisi diri yang selama ini dianggap negatif ternyata merupakan bagian dari dirinya yang perlu diterima dan dipahami, bukan hanya ditolak.

Asisten lain juga menyampaikan bahwa sesi berdialog dengan salah satu bagian diri membuat mereka merasa benar-benar masuk ke dalam dirinya sendiri dan mencoba mengenal, berbicara, serta berdamai dengan sisi tersebut. Ada pula asisten yang merasa terbantu karena dapat melihat sudut pandang lain terhadap kepribadian yang sebelumnya kurang disukai. Proses refleksi tersebut membantu asisten menyadari bahwa setiap bagian diri memiliki alasan tertentu untuk muncul dalam kehidupan mereka.

Selain itu, beberapa asisten juga merasa terbantu dengan kegiatan menggambar dan visualisasi karena membantu memberikan bentuk terhadap pengalaman atau perasaan yang selama ini dirasa abstrak dan sulit dijelaskan. Kegiatan sharing antar- asisten juga dinilai membantu memperluas perspektif serta melatih empati ketika mendengarkan pengalaman dan proses refleksi teman- teman lainnya. Beberapa asisten juga menyampaikan bahwa sesi pengenalan emosi dan pengisian aspek kemampuan diri membantu mereka semakin memahami kelebihan maupun kekurangan yang dimiliki.

Melalui kegiatan pelatihan ini, asisten diharapkan semakin mampu mengenali dirinya secara utuh, memahami berbagai emosi dan pengalaman yang membentuk dirinya, serta mampu membangun penerimaan diri yang lebih baik. Proses tersebut diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi para Student Staff PLK dalam menjalankan peran sebagai peer counselor yang mampu hadir, mendengarkan, dan mendampingi orang lain dengan lebih reflektif dan penuh empati. Rangkaian pelatihan Peer Counselor ini masih akan berlanjut pada satu pertemuan berikutnya sebagai penutup dari keseluruhan proses pelatihan.

kembali