Berita

Seminar Nasional "Melampaui AI: Mendidik Manusia menuju Kecerdasan yang Bermakna"

02-10-2026 13:38:59 WIB

Senin, 28 September 2026, Program Studi Pendidikan Program Doktor (S3) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sanata Dharma (USD) sukses menyelenggarakan Seminar Nasional perdananya. Acara yang digelar secara hybrid di Ruang Seminar Driyarkara Kampus II USD dan disiarkan melalui platform Zoom Meeting ini mengusung tema "Melampaui AI: Mendidik Manusia menuju Kecerdasan yang Bermakna". Penyelenggaraan seminar nasional pertama bagi Program Doktor Pendidikan ini sekaligus menjadi bagian dari momentum perayaan 70 tahun FKIP USD. Dipandu oleh Prof. Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum. selaku moderator, kegiatan akademik ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Karlina Supeli, Albertus Bagus Laksana, S.J., S.S., Ph.D., dan Prof. Paulus Kuswandono, Ph.D.

Semnas 2

Rangkaian acara diawali dengan kata sambutan dari Dekan FKIP USD, FX. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa syukur atas pembukaan Program Doktor Pendidikan di lingkungan FKIP USD sebagai ruang pergulatan akademis yang berbobot. Beliau menggarisbawahi bahwa pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta media digital saat ini membawa tantangan nyata bagi dunia perguruan tinggi, khususnya ancaman fenomena hyperreality dan budaya serba instan yang berpotensi mengikis kedalaman proses belajar serta pencarian kebenaran ilmiah yang sejati.

Semnas 3

Sesi pemaparan materi pertama disampaikan oleh Dr. Karlina Supeli yang menekankan pentingnya pendidikan manusia berkeutamaan dalam melampaui logika efisiensi kecerdasan buatan. Beliau menegaskan bahwa hakikat perguruan tinggi dan pendidikan adalah pencarian kebenaran yang menuntut kesetiaan pada proses, kebebasan akademik, dan ketekunan. Dr. Karlina memperingatkan bahaya kecenderungan alih daya kognitif (cognitive outsourcing) dan nalar instrumental AI yang berisiko menurunkan daya kritis, kreativitas, serta pertimbangan budi nurani. Oleh karena itu, pendidikan humanistik harus mampu menggembleng pembentukan manusia utuh berlandaskan nilai competence, conscience, compassion, dan commitment (4C) yang ditempa melalui perjumpaan otentik dan pengalaman batin demi mewujudkan kecerdasan yang bermakna.

Semnas 4

Selanjutnya, Rektor Universitas Sanata Dharma, Albertus Bagus Laksana, S.J., Ph.D., mengulas krisis epistemologis, antropologis, dan politis yang dipicu oleh kepatuhan berlebihan pada teknologi (techno-nihilism). Beliau menekankan pentingnya konsep human flourishing, yaitu tumbuh kembang kemanusiaan yang utuh dengan mengintegrasikan ingatan, pemahaman, dan kehendak (intellectus amoris). Di era AI, proses pendidikan harus diproyeksikan sebagai tanggung jawab bersama dalam memikul bobot realitas melalui tiga momen terpadu, yaitu momen noetik (pengetahuan), momen etis (pembentukan suara hati), serta momen praksis dalam wujud tindakan nyata demi mengarahkan perkembangan teknologi bagi kemaslahatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Semnas 5

Pemaparan materi ketiga disampaikan oleh Prof. Paulus Kuswandono, Ph.D. yang mengajak komunitas akademis untuk "berjalan lebih pelan" guna merengkuh kemendalaman belajar di tengah eksplorasi AI yang masif. Beliau menyoroti ancaman krisis kalibrasi metakognitif, di mana ketergantungan pada teknologi dapat melemahkan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Dengan merujuk pada kerangka Gert Biesta yang mencakup kualifikasi, sosialisasi, dan subjektifitas, Prof. Paulus mengingatkan pentingnya otentisitas suara pribadi, verifikasi sumber, serta perjumpaan langsung di ruang kelas. Beliau menegaskan bahwa peran pendidik di era AI adalah sebagai kurator kebudayaan dan kemanusiaan yang nilainya tak tergantikan oleh algoritma mesin untuk membimbing peserta didik mencapai kecerdasan sejati.

Semnas 6

Rangkaian seminar dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang berlangsung dinamis, di mana para peserta baik secara luring maupun daring antusias mengajukan pertanyaan seputar implementasi pedagogi humanistik, dampak ekologis pusat data AI, hingga strategi menjaga optimisme pendidik. Seminar nasional perdana ini diakhiri dengan penyerahan cinderamata secara simbolis oleh Dekan FKIP USD kepada ketiga narasumber dan moderator, dilanjutkan dengan sesi foto bersama serta penutupan resmi melalui pementasan lagu Hymne Sanata Dharma.

Semnas 7


 kembali