Fakultas Bisnis dan Ekonomi
Berita

30 Tahun Perjalanan, Romo Spillane Luncurkan Buku tentang Spirituality and Work

04-05-2026 10:48:06 WIB

YOGYAKARTA – Setelah menempuh perjalanan panjang selama 30 tahun, Romo James J. Spillane, S.J. akhirnya meluncurkan buku berjudul “Spirituality and Work: How Your Spirituality Shapes Your Work and Life” pada Jumat, 24 April 2026, di Gedung Pasca Sarjana Kampus 1 Universitas Sanata Dharma. Buku yang diterbitkan oleh Gramedia ini ditargetkan bagi mereka yang mengalami krisis kesehatan jiwa, kekecewaan, kesepian, keputusasaan, serta kehilangan makna dalam pekerjaan.

Mengawali ceritanya, Romo Spillane—sapaan akrabnya—mengutip kata bijaksana: “Jalan seribu kilometer harus mulai dengan langkah yang pertama.” Langkah awal penulisan buku ini dimulai dari sebuah rekoleksi bagi umat Kristiani yang bekerja di Phoenix Hotel, Yogyakarta. Para peserta diajak merefleksikan pekerjaan mereka di bidang pariwisata dan pemenuhan iman sebagai orang Kristen.

Beberapa minggu setelah rekoleksi tersebut, pada September 1995, Romo Spillane pergi ke Roma dan bertemu dengan Romo Kepala Pro-Rektor Spiritualitas. Ia menceritakan pengalaman berharga di Yogyakarta. “Wah ini pertemuan bagus di Jogja, mendidik orang dari hotel dan mereka berminat pada spiritualitas,” kenangnya. Sang Romo kepala pun merespons, “Oke, Romo Spillane, tahun depan Anda bisa memberi kuliah spirituality of hospitality.

Pulang ke Yogyakarta, Romo Spillane rajin mengunjungi perpustakaan Kolese Santo Ignatius (Kolsani) untuk mencari bahan-bahan referensi. Ia mengaku terinspirasi oleh dua gaya mengajar yang berbeda dari dua universitas ternama di Boston: Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Boston terkenal dengan Harvard University dan MIT. Di Harvard, gaya mengajarnya profesor ke bawah (top down), profesor dianggap mahakuasa. Sedangkan di MIT, sikapnya jauh berbeda, dosen mau belajar dari unit-unitnya. Dalam bahasa Indonesia, kita punya dua kata: mendengar dan mendengarkan, jauh berbeda,” jelasnya.

Buku ini adalah hasil listening to what people talk about their work—hasil mendengarkan bagaimana orang berefleksi atas pekerjaannya,” tegas Romo Spillane.

Perjalanan berlanjut ketika Romo Spillane mengajar di Universitas Gregorian, Roma. Di sana, murid-muridnya adalah para rohaniwan Katolik dari berbagai ordo seperti Dominikan, Fransiskan, dan OMI. Fokus awal pengajaran adalah spiritualitas Katolik. Namun, seiring waktu, ia menyadari bahwa spiritualitas bukan hanya milik umat Katolik.

“Kami lihat bahwa orang lain juga memprioritaskan hospitality. Kami menerima buku tentang hospitality of Islam, banyak tulisan dari Quran, kitab hospitality. Orang Hindu dan orang Buddha juga memprioritaskan hospitality. Ibrahim adalah santo pelindung hospitality bagi orang Yahudi, Kristen, dan Islam,” ungkapnya.

Romo Spillane kemudian menghadiri pertemuan di Goa, India, dan bertemu dengan dosen dari sebuah universitas di Minnesota, Amerika Serikat. Dosen tersebut mendengar tentang kuliahnya di Gregorian dan mengajaknya mengajar di summer school, di mana banyak mahasiswa non-Katolik atau yang tidak tertarik dengan agama wajib mengikuti kuliah.

Kita mendesain kuliah di mana mereka mencoba mengintegrasikan hidup bekerja dengan hidup beragama,” katanya. Selama tujuh musim panas, ia mengajar di Minnesota, terus mengembangkan bahan ajar, lalu kembali ke Yogyakarta untuk membimbing, menyeleksi, dan bekerja.

Pada tahun 2004, Romo Spillane diterima sebagai ahli di Pusat Spiritualitas Ignasian di Boston College selama tiga bulan. Di sanalah ia merasa bahwa buku yang mulai ditulis sejak 1996 ini layak diterbitkan. Ia menemukan banyak pengingat luar biasa dalam bidang spirituality in the workplace.

Pandemi COVID-19 menjadi momentum penting. “Dua tahun banyak orang tidak bisa bekerja. Sesudah ini, saat kembali bekerja, sikap mereka berubah. Mereka tidak mau mengerjakan tugas yang membosankan. Muncul istilah silent resignation, yaitu orang tidak mau kembali ke tempat kerja. Ada juga istilah bored out, yaitu orang bukan burnout tetapi bored out, sangat bosan dengan kerjanya,” paparnya.

Manajemen di seluruh dunia sudah sadar bahwa yang diminta oleh orang adalah kerja yang mempunyai arti pribadi bagi mereka dan juga bagi masyarakat. Banyak orang bilang kita mengalami krisis dalam bidang kesehatan jiwa, banyak orang kecewa, sepi, putus asa, tidak punya korelasi untuk bekerja. Ini menjadi inspirasi bagi saya, dan syukurlah saya menemukan banyak artikel tentang spiritualitas,” tambahnya.

Ucapan Terima Kasih kepada Gramedia dan Berbagai Pihak
Romo Spillane menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Gramedia yang sangat tertarik menerbitkan buku ini. Ia juga berterima kasih kepada sekretarisnya, Ibu Astia, serta Pusat Penelitian LPPM USD yang mendukung penuh melalui Pusat Pariwisata di Sanata Dharma.

Terima kasih juga kepada banyak pihak di Jogja di bidang pariwisata yang membantu kami untuk mengerti dari bawah minat pada pariwisata. Dan terima kasih kepada Gramedia karena akhirnya mereka mulai menerbitkan buku ini,” ujarnya.

Romo Spillane menegaskan bahwa peluncuran buku ini bukanlah akhir dari perjalanan.

Tetapi saya hanya mau mengatakan bahwa perjalanan ini, dari seribu kilometer, belum selesai. Karena pada langkah berikutnya, Romo Sumarwan dan tim dari S2 MMIT akan melanjutkan buku dengan pusat yang bernama Emmaus Center for Spiritual Healings di Tawangmangu,” jelasnya.

Pusat ini diharapkan menjadi tempat bagi orang yang mengalami penyakit jiwa dan rohani untuk mendapatkan penanganan dalam suasana yang mendukung. “Harapannya, orang yang mengalami penyakit jiwa, penyakit rohani bisa ke sana dalam suasana yang membantu mereka untuk ikut tertantang dari dua rasul yang mau ke Emaus. Mereka kecewa sekali, putus asa, tetapi Yesus berkata, lihatlah kitab suci, lihatlah sabda Tuhan, dan ini akan menjadi sumber supaya sungguh-sungguh sembuh. Yang penting adalah omong dan saling mendengarkan,” tuturnya.

Romo Spillane berharap proyek ini dapat diperluas dan melibatkan berbagai agama.

Harapan kami, langkah berikutnya adalah memperluaskan proyek ini supaya ikut termasuk orang Islam, orang Hindu dari Bali, orang Buddha dari Candi Borobudur. Karena kami diberkati oleh Tuhan di tempat yang luar biasa, empat agama menuju ke jalan yang benar: Hindu, Buddha, Islam, dan Kristen. Ini sesuatu yang menjadi saksi yang diperlukan oleh dunia luar,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa banyak pihak sekarang datang ke Indonesia untuk melihat masyarakat dengan toleransi yang baik, supaya bersama-sama maju berkembang menurut panggilan dari Tuhan sesuai agama masing-masing.

Kami mohon doa supaya perjalanan ini tidak berhenti hari ini dengan penerbitan buku, tetapi agar buku ini menjadi awal membantu orang dari agama lain dan/atau tanpa agama, siapa saja yang mau mendengarkan suara di dalam hatinya,” pungkas Romo Spillane.

Ia mengutip seorang penulis terkenal sebelum pandemi yang menulis tentang pentingnya mendengarkan suara di dalam hati agar manusia dapat hidup, mengasihi, belajar, dan berkembang: life, love, learn, and be.

Supaya orang menerima manfaat dari tulisan ini dan memperdalam hidup rohani masing-masing,” tutupnya.

Peluncuran buku “Spirituality and Work” karya Romo James J. Spillane, S.J. menjadi tonggak penting dalam upaya menjawab krisis makna dan kesehatan jiwa di dunia kerja. Dengan perjalanan penulisan selama 30 tahun yang melintasi berbagai negara dan dialog lintas iman, buku ini tidak hanya menawarkan teori, tetapi juga ajakan untuk mendengarkan suara hati dan membangun praktik kerja yang lebih manusiawi, spiritual, dan penuh makna. (kf)

Kembali