BERITA

Dosen Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma menjadi salah satu keynote speaker di The 2nd International Conference on Applied Science and Smart Technologies (InCASST 2025)

Dosen Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma menjadi salah satu keynote speaker di The 2nd International Conference on Applied Science and Smart Technologies (InCASST 2025)

Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Sanata Dharma pada tanggal 15 Oktober 2025 menyelenggarakan The 2nd International Conference on Applied Science and Smart Technologies (InCASST 2025) dengan tema “Innovating for Sustainability: Digitalization, Green Energy, and Achieving Energy Independence for a Greener Future.” Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid, yaitu luring di Kampus 3 Paingan Universitas Sanata Dharma dan daring melalui platform konferensi online dan diikuti oleh peserta dari berbagai negara. Salah satu keynote speaker dalam acara ini adalah Dr. Andreas Prasetyadi, dosen Program Studi Teknik Mesin Universitas Sanata Dharma, yang menyampaikan pemaparan ilmiah terkait keterkaitan antara energi dan air dalam perspektif termodinamika.

Pak Pras

Dr. Prasetyadi membahas konsep “Energy–Water Nexus”, yaitu hubungan saling keterkaitan antara energi dan air dalam setiap tahap produksi, transformasi, hingga konsumsi. Ia menegaskan bahwa seluruh proses produksi energi — dari pembangkitan listrik hingga penggunaan akhir — membutuhkan air dalam jumlah besar, misalnya untuk sistem pendingin, pertambangan batu bara, dan pengolahan bahan bakar. Sebaliknya, setiap tahap siklus air juga memerlukan energi, seperti untuk pemompaan, pengolahan, dan distribusi air. Dr. Prasetyadi menyoroti ketimpangan distribusi sumber daya air di Indonesia, di mana sebagian besar air berada di Papua dan Kalimantan, sementara Pulau Jawa yang padat penduduk hanya memiliki sekitar 4% pasokan air nasional. Kondisi ini memperburuk persoalan kelangkaan air dan meningkatkan biaya energi serta dampak ekologisnya.

InCASST 2025

Dalam bagian kedua, ia memperkenalkan pendekatan entropi sebagai parameter evaluasi untuk memahami keterkaitan energi dan air secara menyeluruh. Entropi, menurutnya, dapat menggambarkan tingkat ketidakteraturan atau inefisiensi dalam sistem energi-air dan menjadi indikator keberlanjutan suatu teknologi. Ia menerapkan konsep ini dalam studi tentang proses pengeringan briket arang tempurung kelapa. Hasilnya menunjukkan bahwa penggunaan teknologi dehumidifier drying menghasilkan entropi hanya sepertiga dari metode hot-air kiln drying, sehingga lebih ramah terhadap keseimbangan energi dan air. Kesimpulannya, dengan memahami hubungan energi–air melalui perspektif termodinamika seperti entropi, kita dapat mengembangkan sistem yang lebih efisien dan berkelanjutan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Video lengkap: InCASST 2025

 kembali