Berita

MPBInd USD Hadir di PIBSI 2026, Angkat Transformasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di Era Ekosistem Digital

12-10-2026 11:57:18 WIB

   Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBInd) Universitas Sanata Dharma turut berpartisipasi dalam Pertemuan Ilmiah Bahasa dan Sastra Indonesia (PIBSI) ke-48 yang diselenggarakan pada 5–6 Oktober 2026 di Crystal Lotus Hotel Yogyakarta. Mengusung tema “Indonesian Language and Literature in the Era of Digital Humanities”, kegiatan ini menghadirkan akademisi, peneliti, dan pemerhati bahasa dan sastra dari dalam maupun luar negeri.

   PIBSI ke-48 diselenggarakan oleh Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai tuan rumah. Forum ilmiah ini menjadi wadah kolaborasi akademisi nasional dan internasional untuk berdiskusi, bertukar gagasan, serta memberikan kontribusi bagi perkembangan bahasa dan sastra Indonesia di tengah perkembangan digital humanities. Rangkaian kegiatan PIBSI berlangsung melalui proses pengiriman abstrak dan artikel ilmiah sejak Juli 2026 hingga pelaksanaan presentasi pada 5–6 Oktober 2026. Dalam forum tersebut, MPBInd Universitas Sanata Dharma berpartisipasi melalui artikel ilmiah berjudul “Transformasi Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Menghadapi Dominasi Ekosistem Digital Berbahasa Inggris: Kasus Sekolah Nasional Plus.” Artikel ini ditulis oleh Vicensia Araya Reinita, S.Pd., Fransisca Puspa Nevita Dewi, S.Pd., dan Dr. B. Widharyanto.

   Penelitian tersebut berangkat dari perubahan ekosistem belajar peserta didik yang semakin dipengaruhi oleh teknologi digital. Media sosial, mesin pencari, platform pembelajaran, hingga berbagai teknologi berbasis kecerdasan buatan menghadirkan sumber informasi yang sebagian besar menggunakan bahasa Inggris. Kondisi ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya di lingkungan sekolah nasional plus yang memiliki karakteristik bilingual.

    Melalui penelitian ini, penulis melihat bahwa dominasi bahasa Inggris dalam ekosistem digital tidak perlu diposisikan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Tantangan pembelajaran Bahasa Indonesia justru terletak pada bagaimana guru mengelola berbagai sumber dan praktik kebahasaan tersebut agar peserta didik tetap mampu menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa untuk berpikir, mengolah informasi, berkomunikasi, dan menghasilkan karya.

   Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan angket dan wawancara sebagai sumber data. Hasil penelitian menunjukkan adanya kebutuhan untuk melakukan transformasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi, tetapi juga pada pengelolaan praktik bilingual, pemanfaatan sumber digital, pengembangan kompetensi guru, penggunaan kecerdasan buatan secara kritis, serta penguatan Bahasa Indonesia sebagai bahasa literasi dan komunikasi akademik.

   Salah satu konsep yang menjadi bagian dari pembahasan adalah translanguaging, yakni penggunaan sumber-sumber kebahasaan secara fleksibel dalam proses pembelajaran. Dalam konteks penelitian ini, peserta didik dapat memanfaatkan sumber berbahasa Inggris untuk memperoleh informasi, mendiskusikan dan mengolah informasi secara bilingual, kemudian diarahkan untuk menghasilkan pengetahuan atau karya dalam Bahasa Indonesia. Dengan demikian, penggunaan bahasa Inggris tidak ditempatkan sebagai lawan Bahasa Indonesia, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang perlu dikelola sesuai dengan tujuan pembelajaran. Selain praktik bilingual, penelitian juga menyoroti penggunaan kecerdasan buatan dalam pembelajaran. AI dapat dimanfaatkan sebagai sumber atau stimulus awal, tetapi proses pembelajaran tetap perlu memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan gagasan, mengkritisi informasi, melakukan adaptasi, serta menghasilkan karya secara mandiri. Oleh karena itu, asesmen pembelajaran perlu memperhatikan proses berpikir dan perkembangan karya, bukan hanya produk akhir.

    Presentasi penelitian disampaikan oleh Vicensia Araya Reinita, S.Pd., sementara Dr. B. Widharyanto turut mendampingi dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Dalam sesi tersebut, salah satu pertanyaan yang diajukan peserta berkaitan dengan bentuk translanguaging dalam konteks penelitian. Diskusi tersebut memperkaya pembahasan mengenai bagaimana praktik bilingual dapat dikelola secara pedagogis sehingga tetap mendukung pencapaian tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia.

     PIBSI ke-48 sendiri berlangsung dalam beberapa rangkaian kegiatan, antara lain dua sesi pleno yang menghadirkan pembicara dari dalam dan luar negeri serta sesi presentasi pemakalah yang terbagi dalam enam panel. Kehadiran MPBInd Universitas Sanata Dharma dalam forum tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk berbagi hasil penelitian sekaligus terlibat dalam diskusi akademik mengenai perkembangan pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di tengah perubahan teknologi.

   Keikutsertaan dalam PIBSI ke-48 menjadi salah satu bentuk keterlibatan MPBInd Universitas Sanata Dharma dalam pengembangan kajian dan praktik pembelajaran Bahasa Indonesia yang responsif terhadap perkembangan zaman. Di tengah ekosistem digital yang semakin global, pembelajaran Bahasa Indonesia tidak hanya dituntut untuk mempertahankan relevansinya sebagai mata pelajaran, tetapi juga perlu memastikan bahwa Bahasa Indonesia tetap digunakan sebagai bahasa untuk berpikir, berkomunikasi, membangun pengetahuan, dan menghasilkan karya.
Melalui keterlibatan dalam forum ilmiah seperti PIBSI, MPBInd Universitas Sanata Dharma terus membuka ruang bagi mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan gagasan, melakukan kolaborasi akademik, serta memberikan kontribusi terhadap perkembangan pendidikan Bahasa Indonesia di era digital humanities.

 kembali