Kolom

Bahasa Indonesia Menjadi Bahasa Internasional, Mampukah?

01-11-2021 03:26:54 WIB 

Bahasa Indonesia merupakan simbol jati diri bangsa yang menandai seseorang, sekelompok, orang atau suatu bangsa. Jati diri ini dapat terlihat dengan adanya sarana pemersatu berbagai suku bangsa. Bahkan bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa resmi negara dengan fungsinya sebagai bahasa resmi kenegaraan, komunikasi tingkat nasional, pengantar pendidikan, seni, dan bahasa media massa.

Dr. Paul Thomas, peneliti Universitas Deakin, Australia beranggapan bahwa mempelajari bahasa Indonesia terlihat cukup mudah. Beliau mengira bahwa menguasai beberapa kalimat untuk sekadar berbincang-bincang dengan masyarakat sekitar seperti penjaga toko dan supir taksi sudah cukup baginya.

Namun, ternyata berbeda jauh ketika memahami bahasa untuk membaca surat kabar atau membaca sastra, waktu yang dibutuhkan bisa menghabiskan sepuluh tahun prosesnya sampai sekarang. Bahkan, bahasa Indonesia sendiri pada kenyataanya masih sulit untuk dipelajari dan membutuhkan waktu yang terbilang lama, mengingat bahasa Indonesia yang terlalu luwes dalam aspek struktur penyusun kalimat. Baik masyarakat Indonesia sendiri dan orang asing yang pasti kesusahan ketika mendapatkan kosa kata yang rancu atau tidak umum digunakan.

Dr. Paul Thomas menyatakan salah satu manfaat yang didapatkan setelah mengenal bahasa Indonesia. Kebebasan dalam berkomunikasi, bebas berbincang dengan bahasa yang beliau kuasai memiliki sisi positif dengan adanya dukungan masyarakat Indonesia yang terbuka dengan orang dari luar negeri, bahkan yang mampu berbahasa Indonesia.

Perkembangan bahasa Indonesia di Australia sendiri bergantung pada beberapa faktor. Salah satunya adalah status bahasa Indonesia di luar Indonesia sebagai bahasa internasional di Asia. Status tersebut yang kemudian menjadi dampak pada pengajaran bahasa Indonesia di Australia.

Lalu seberapa mampukah bahasa Indonesia mengambil alih menjadi bahasa internasional? Saat kenyataan melalui faktor kebudayaan, bahasa Indonesia masih belum bisa memengaruhi budaya di Australia yang masih terpengaruh budaya Amerika, dan Eropa.

Dilansir dari liputan “360” di MetroTV, bahasa Indonesia menjadi cukup populer di kalangan mahasiswa Hankuk University of Foreign Studies. Lee Eun Kyung, salah satu mahasiswa S2 merasa lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara mengenai sastra.

Ternyata karya-karya sastrawan Indonesia seperti Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer sangat digandrungi di Korea. Bahasa Indonesia menjadi peluang baru dalam dunia kerja, berhubung kerjasama Korea dan Indonesia yang banyak terjalin membuat kemampuan berbahasa Indonesia dibutuhkan banyak perusahaan Korea.

Barangkali penelitian menunjukkan bahasa Indonesia memiliki peluang dan prospek yang besar menjadi bahasa internasional di Asia Tenggara, namun bahasa Indonesia sendiri mengalami kendala yang datang dari dalam dan luar negeri. Kendala dari dalam negeri salah satunya sikap negatif masyarakat sendiri terhadap bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia belum menjangkau lebih jauh kelompok yang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar, akibat tidak meratanya pendidikan di Indonesia.[1]

Guru besar sastra Indonesia Hankuk University of Foreign Studies, Prof. Koh Young Hun menggunakan berbagai cara untuk memudahkan mahasiswa. Salah satunya dengan buku aplikasi. Peminat sastra Indonesia di Korea meningkat pesat sehingga membuat jurusan bahasa Indonesia terbilang populer dengan saingan yang cukup ketat.

Walaupun begitu, banyak mahasiswa Korea yang baru mengenal bahasa Indonesia. Sehingga untuk mengenal bahasa Indonesia sendiri relatif tidak terlalu mudah, meskipun struktur bahasa Indonesia yang tidak jauh berbeda dengan bahasa Inggris membuat mahasiswa cepat tanggap mempelajari bahasa Indonesia secara spesifik.

Berbagai negara mempelajari bahasa Indonesia hingga menjadikan bahasa Indonesia sebagai pelajaran wajib di sekolah. Australia, Jepang, Korea Selatan, Hawaii, Kanada, dan negara lainnya yang menggunakan bahasa Indonesia menjadikan peluang untuk mendapatkan pekerjaan ditinjau melalui kerjasama Indonesia dengan negara-negara lain yang semakin meningkat dan erat.

Meskipun bahasa Indonesia banyak dikenal dan dipelajari oleh beberapa negara, belum tentu juga bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa internasional. Melihat fakta bahwa bahasa Mandarin menjadi bahasa yang paling banyak digunakan. Dengan jumlah penduduk Tiongkok saat ini yang mencapai 1,38 miliar dan diperkirakan sekitar 25% dari total penduduk di dunia berbicara bahasa Mandarin.[2]Lantas masih mampukah bahasa Indonesia menerobos maju untuk menjadi bahasa internasional di Asia?

 

Referensi

Aprilyansyah, Ade. 2018. "Upaya Indonesia dalam Menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional di Asia Tenggara". Diakses dari https://ojs.unikom.ac.id/index.php/gps/article/view/2025/1362pada 26 Agustus 2021 pukul 10:05.

Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. 2020. "Opini Peneliti Asal Australia Tentang Potensi Bahasa Indonesia" diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=yE5srIFVNw4&feature=emb_imp_woyt pada 25 Agustus 2021 pukul 09:34.

"Bahasa Mandarin Paling Banyak Digunakan di Dunia". 2020. Diakses dari https://mediaindonesia.com/humaniora/328528/bahasa-mandarin-paling-banyak-digunakan-diduniapada 26 Agustus 2021 pukul 10:09.

"Mengapa Negara Lain Belajar Bahasa Indonesia? Inilah Negara yang Mempelajari Bahasa Indonesia". 2019. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=4yyT6Gm36gw pada 26 Agustus 2021 pukul 09:55.

"Perkembangan Bahasa dan Sastra Indonesia Di Korea" 2016. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=66Ddw1PpfUo pada 25 Agustus 2021 pukul 09:47.



[1] Disarikan dari Global Political Studies Journal, “Ade Aprilyansyah (2018)”, diakses dari https://ojs.unikom.ac.id/index.php/gps/article/view/2025/1362pada 26 Agustus 2021 pukul 10:05.

 

[2] Disarikan dari Media Indonesia.com, “Humaniora (2020)”, diakses dari https://mediaindonesia.com/humaniora/328528/bahasa-mandarin-paling-banyak-digunakan-di-duniapada 26 Agustus 2021 pukul 10:09.

 

Penulis: Bernadetha Wahyu Andriyanto | Gambar: Freepik

 kembali