Kolom

Lalu Kapan Berjumpa Lagi?

04-06-2024 14:07:20 WIB 

“Dia yang memberikan kenangan dan kasih sayang yang selalu terkenang” -wigatizz 

Ini bukan tentang pacar atau gebetan. Lalu siapakah dia? Manusia yang memberikan cerita diubahnya menjadi kenangan. Siapakah dia? 

Dalam kebersamaan ia mencurahkan kasih sayang. Siapakah dia? Cinta pertama anak perempuan. Ya, ayah, bapak, papa, papi, babe atau segala macam sebutan ayah kita. Tidak selembut ibu, tapi selalu tegas dalam setiap perkataan dan perbuatannya. 

Ayah tempat bercerita, tertawa, menangis, yang paling nyaman. Pelukannya sehangat pelukan ibu yang menenangkan.  

Perumpamaan ayah itu sebagai tulang punggung keluarga atau kepala keluarga. Namun bila ayah pergi bagaimana? Akankah cinta pertama ini dapat terganti? Tentu saja tidak. 

Apa yang ia tinggalkan di dunia fana ini? Harta benda? Ah, sepertinya semua orang meninggalkan harta benda yang menyiksa mengucapkan rindu dan bertemu. Lalu apa? 

Yah, kenangan yang membungkus kerinduan dan kasih sayang. Kepada siapa kita bercerita? Dimana pelukan sehangat kemarin? Di mana sapaan termanis? 

Itu semua tinggal kenangan yang akan selalu muncul dalam setiap perjalanan. Bukankah itu menyakitkan? Tentu saja. Tidak semudah pergi, hilang, dan lupakan, ayah selalu abadi di hati setiap anak. 

Ayah terlalu berjasa untuk dilupakan. Bagaimana rindu ini disampaikan? Kita sebagai manusia hanya dapat berdoa kepada pencipta agar ayah tenang di sana dan menangis karena tersiksa oleh kenangan yang muncul. 

Dalam film Lalu Dina terngiang-ngiang oleh kenangan bersama ayahnya. Kerinduan yang mendalam akan hadirnya sosok ayah. Ayah baginya sosok yang abadi terkenang dalam hati dan ingatannya. 

Dalam waktu bersamaan, ia mendapat pelanggan yang menceritakan bahwa baru saja membeli kue ulang tahun untuk ayah bossnya. Dari situ muncul ingatan saat merayakan ulang tahun ayahnya. 

Kenangan yang muncul seperti sengatan lebah. Ya, Dina merindukan sosok ayahnya. Kerinduan mendalam dari hati yang paling dalam. 

Lalu, bagaimana ia dapat merasakan kehadiran ayahnya kembali?

Film Lalu yang diproduksi oleh Studio AKUSIAP dengan sutradara Widya Arafah berhasil menyentuh hati penonton. 

Mengangkat cerita tentang kerinduan kepada sang ayah dapat membuat hati penonton bergetar. Dilihat dari unsur naratif, memang cerita ini sering diangkat menjadi tema-tema film. 

Namun, di sini memunculkan sisi berbeda, yaitu bersinggungan dengan pekerjaan sang aktor yang berhubungan dengan isi cerita. 

Melalui pekerjaan Dina yaitu agen curhat, ia mengenang kembali masa-masa bersama ayahnya. Bahkan, dalam pekerjaannya, ia berhasil merasakan kembali kehadiran sang ayah walaupun hanya sebentar. 

Meskipun latar tempat hanya berada di satu tempat, yaitu meja kerja Dina mampu memfokuskan penonton dengan perasaan Dina. 

Selain itu, berkat sinematografi yang tepat membuat film seperti menggambarkan perasaan aktor, terlihat pas, dan tidak berlebihan. Apalagi sang aktor mendalami peran secara totalitas. 

Membuat film  seperti sederhana tetapi pesannya dapat tersampaikan secara menyeluruh.

Ayah abadi dalam segala sisi

Film Lalu menceritakan seorang wanita yang merindukan kehadiran ayahnya yang telah berpulang kepada Tuhan. 

Dina bekerja sebagai agen tempat curhat. Di mana ia mendengarkan keluh kesah pelanggan yang beragam. 

Pada waktu itu pelangganya bercerita bahwa ia baru saja membelikan kue ulang tahun untuk ayah bossnya.  Dina hanya bisa terdiam membisu. 

Kata “Ayah” sangat sensitif di telinganya. Setelah sambungan terputus, muncul lagi kenangan bersama sang ayah. 

Saat meniup lilin bersama di hari ulang tahun ayah. Sangat jelas suaranya, wajahnya, dan senyumnya selalu membekas. Telepon pun berdering, Dina hampir saja membuka rekaman suaranya ayahnya.  

Seperti biasa Dina menyapa pelanggannya lalu mendengarkan keluh kesahnya. Tak disangka pelanggan ini bertanya siapakah yang akan Dina telepon saat ini. 

Dengan spontan Dina menjawab sang ayah. Sang pelanggan menawarkan untuk meniru suara ayahnya karena ia bisa menirukan suara orang lain. Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Dina lantas mengirimkan rekaman suara ayahnya. Kemudian betapa terkejutnya Dina dengan suara sang pelanggan, sangat mirip dengan suaranya ayahnya.  Pertanyaan yang dilotarkan membuat Dina menyelami kerinduan ini. Dina sambil menahan tangis, menyampaikan isi hatinya kepada suara tiruan itu. Namun tiba-tiba sambungan telepon terputus. Dina kehabisan waktu karena rasa ccanggungnya. Cepat-cepat ia menekan telepon agar tersambung lagi. Tapi apa daya, itu hanya suara tiruan ayahnya. Ya Dina kembali sadar. Sekilas ia membayangkan saat bersama ayahnya dulu, saat merayakan hari ulang tahun ayahnya.  Ia bekerja sampai esok menjemputnya dan tersadar bahwa sekarang adalah hari ulang tahun ayahnya. Dalam kertas yang ia sediakan, ia menulis “bercerita dengan ayah”.

Memang betul sosok ayah akan abadi di segala sisi. Dalam film kenangan bersama sosok ayah muncul dari sisi pekerjaan. 

Dina yang bekerja sebagai agen curhat, mendengarkan curhatan pelanggan. Tak disangka-sangka pelanggannya menceritakan cerita yang berhubungan dengan ayahnya. 

Dina yang masih merindukan ayahnya tentunya tersentuh. Hampir saja ia menangis mengenang sosok ayahnya. 

Namun, keberuntungan masih berpihak pada Dina. Pelanggannya dapat menirukan suara orang lain. 

Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Dina mengirimkan rekaman suara sang ayah. Dari suara tiruan ini, Dina kembali merasakan kehadiran sang ayah. 

Berlangsung cepat, sambungan telepon terputus dan Dina panik kehilangan moment berharga berbicara dengan ayahnya.

Skenario dan Sinematografi yang Apik

Dalam film Lalu, kisah yang sering diangkat menjadi film, kisah yang dekat dengan kehidupan kita, dan sebagian dari kita pasti merasakan. 

Kisah sederhana yang mampu menyentil hati seorang anak. Bermakna dalam sebuah ilustrasi bahwa sosok ayah tak terganti. 

Latar tempat yang memfokuskan penonton pada satu perasaan. Latar suasana dan latar waktu yang mendukung. Di saat sendirian, lembur di kantor pada jam malam. 

Menambah kesan bahwa Dina hanya sendirian di dunia ini. Tak hanya itu, aktor yang pandai untuk mendalami peran. Di samping itu semua, sinematografi yang bermain apik. 

Pencahayaan yang redup menambah suasana duka. Permainan transisi yang tepat tidak membuat film ini berlebihan. Kemudian, tata suara yang bagus, dalam film membuat penonton secara jelas mendengarkan percakapan meskipun melalui telepon. 

Adegan yang menarik bagi saya saat Dina tersadar bahwa suara ayahnya hanya suara tiruan dari pelanggannya. Menurut saya ekspresi Dina kena sekali, raut tersadarnya dapat.

Penutup yang tidak terduga, bahwa hari esok adalah hari ulang tahun ayahnya. Ulang tahun ayah yang mungkin menjadi hari dimana Dina menangis mengenang sosok ayahnya. Kenangan yang muncul seperti kaset rusak. Terus berputar di kepalanya.

Kerinduan yang Berteman pada Kesedihan

Dina disorot dalam film sebagai wanita yang merindukan kehadiran ayahnya. Usia bertambah rindu semakin menumpuk, kenangan semakin membekas. Hatinya sensitif saat orang-orang mengatakan kata “ayah”. 

Dalam film ini Dina dapat merasakan kehadiran ayahnya. Memang kerinduan ini yang menjadikan alasan kesedihan muncul hingga mata basah. Kesedihan muncul mengenang masa-masa suka bersama ayahnya. 

Rindu menggebu tapi tak juga bertemu, apa artinya? Ya akan tersiksa sendiri dengan kenangan yang ada. Atau menangis menyesali mengapa waktu tidak bisa berputar kembali. 

Berharap kepada Tuhan diberikan kekuatan untuk memutar waktu. Tapi apalah daya kita hanya manusia sempurna. Memang kehadiran sosok ayah berarti bagi kita anak perempuan. Entah bertambah usia, sosok ayah tidak tergantikan.

Penulis: Maria Tatag Prihatinningtyas Wigati

Gambar: Bioskop Online

 

 kembali