Kolom

Lelaki Berkain Merah Itu Memenggal Kepala

02-08-2021 04:57:11 WIB 

“Kayau… Kayau!” Teriakan itu terdengar sangat menakutkan. Seorang laki-laki berikat kain merah di kepala, sebelah tangannya memegang mandau. Lalu, dengan sekali ayunan tangan, kepala milik yang hidup terlepas dari tubuh.

Bagaimana perasaan kita ketika berada dalam gambaran suasana di atas? Cerpen berjudul “Pasar Berdarah” menceritakan kisah kelam di Pulau Borneo pada 2001 silam. Cerpen ini ditulis oleh Tria Melani Susana, seorang mahasiswa Sastra Indonesia angkatan tahun 2019 di Universitas Sanata Dharma.

Urusan pekerjaan sang suami mengharuskan seorang guru honorer yang berasal dari “Tanah Batak” untuk ikut serta tinggal di Tanah Dayak. Kepindahan mereka ke Kalimantan Tengah membawa sepasang suami istri tersebut pada suasana baru. Malam sangat sepi, jangkrik melengking nyaring bersama nyanyian burung terdengar entah dari mana asalnya. Demikianlah latar suasana di sekitaran rumah milik pasangan tersebut.

Ada seorang wanita paruh baya yang setiap sore memotong rumput di halaman rumahnya. Sesekali perempuan itu juga sibuk menyapu dedaunan jatuh. Dia adalah tetangga sang Tokoh Aku, perempuan yang baru saja menetap di tanah Dayak. Perempuan paruh baya itu dipanggil Tambi Lita dan pada alur cerita, perempuan paruh baya itu membantu merawat “Aku” di masa kehamilan.

Suatu hari perempuan Karo itu pergi ke pasar. Di pasar itulah mimpi buruk yang mengacaukan batinnya terjadi. Terdengar lengkingan keras dan orang-orang di pasar berlari ketakutan seraya berteriak memberi peringatan.

Pasar menjelma gelap kelam dan mimpi buruk. Orang-orang berlarian karena kedatangan sekelompok laki-laki berkain merah terikat di kepala. Manusia-mansuia berkain merah itu memegang mandau dengan kumpang terikat melingkari pinggang. Terlihat banyak mata tajam dan liar mengawasi segala sisi pasar.

Perempuan hamil itu berlari, tetapi langkah kakinya terhenti. Tepat di depan matanya, seorang lelaki berkain merah mengayunkan mandaunya. Satu tebasan mandau membuat satu kepala terlepas dari tubuh pemiliknya dan cairan darah pekat mengalir deras bagai arus sungai. Kemudian, pria bermandau itu membelah dada milik tubuh yang dipenggalnya. Ia meraup hati milik tubuh yang mati itu dan memakannya.

Setelah pembantaian itu, laki-laki berkain merah pun pergi sembari menenteng kepala yang dipenggal. Pusing, mual, dan lemas menyatu dalam diri perempuan hamil itu. Pandangannya kabur. Semua yang ada di hadapannya tampak gelap, lalu lenyap.

Dalam cerpen ini, Melani menceritakan tragedi kelam yang pernah terjadi di tanah Borneo. Pada 18 Februari 2001.  Perang antar etnis Madura dan Dayak terjadi di kota Sampit, Kalimantan Tengah. Perang tidak hanya terjadi di Sampit, tetapi juga merambat ke seluruh daerah yang ada di Kalimantan Tengah.

Melani menambahkan catatan dalam cerpennya dengan menerangkan bahwa sebelum melakukan perang, para pria Dayak melaksanakan ritual pemanggilan roh leluhur. Berdasarkan kesaksian seorang pria Dayak yang pernah ikut terlibat dalam Perang Sampit, dikatakan bahwa setelah melaksanakan ritual dia dapat membedakan Dayak dan Madura. Naluri membunuh secara spontan meningkat ketika merasakan keberadaan orang Madura dan akan melewati orang-orang non-Madura. Menurut saksi, yang berperang itu bukan lagi manusia, tetapi roh leluhur yang ada dalam tubuhnya.

“Pasar Berdarah” ditulis menggunakan sudut pandang orang pertama tunggal dengan kata ganti “Aku”. Dengan demikian, pembaca seolah-olah menempati posisi tokoh dan terlibat langsung dalam cerita. Hal itu akan membuat pembaca lebih mudah memahami isi cerpen dan secara tidak langsung akan turut merasakan tragedi yang menimpa tokoh.

Kekuatan cerpen ini juga terletak pada pemilihan latar dengan mengangkat Perang Sampit dan suasana Kalimantan yang sunyi kala itu. Selain itu, imaji visual mengenai kayau digambarkan dengan cukup jelas dalam susana menegangkan. Cerpen ini memiliki alur yang singkat dan ringkas. Dengan begitu, pembaca pemula akan merasa tidak bosan apabila membaca cerpen ini.

Berdasarkan ulasan Yoseph Yapi Taum, cerpen “Pasar Berdarah” ini ditulis dengan bahasa Indonesia yang cermat dan teliti sehingga enak dibaca. Dengan sudut pandang seorang perempuan dari etnis “Karo”, peristiwa “Pasar Berdarah” itu dipotret secara netral, tidak memihak salah satu suku yang bertikai, meskipun kengerian tetap tergambar di dalamnya.

Melani tidak  menggurui pembaca tentang perlunya membangun kehidupan bangsa yang rukun dan bersatu. Dia hanya menyajikan fakta mengerikan yang akan terjadi jika kita mengabaikan aspek fundamental di dalam kehidupan berbangsa di tanah air.

Cerpen dapat dibaca di sini.

 

Penulis: Yoseph Yapi Taum dan Maria Gelvina Maysha 

 kembali