Kolom

Juita yang Tak Se-amin

16-07-2021 08:40:52 WIB 

Cinta itu reaksi alamiah. Semua usia bisa merasakan cinta. Banyak ekspresi tentang cinta atau kasih sayang. Bisa kasih sayang antarsaudara, cinta dengan keluarga atau sahabat, bahkan cinta dengan lawan jenis. 

Cinta dengan lawan jenislah yang dirasakan oleh Latif, bujangan berusia 27 tahun yang bercerita tentang seorang gadis yang sanggup merampas hatinya dengan cara dan pertemuan yang sederhana.

Cerpen berjudul “Bianca” ini telah terbit di laman tempusdei.id dan ditulis oleh Bonar Bona Boni Sianipar, seorang mahasiswa semester 4 dari Program Studi (Prodi) Sastra Indonesia USD. Bonar (panggilan akrab) menceritakan pertemuan antara Latif dengan Bianca, seorang gadis relawan.

Aktivitas Latif sewajarnya, yaitu bangun di pagi hari. Tidak lupa mengucap syukur kepada Allah dengan salat, kemudian bersiap lari pagi. Latif yang tinggal sendiri sudah terbiasa dengan segala kemandirian. Dia mampu menyiapkan perlengkapannya sendiri dan memasak makanan yang enak.

Sebenarnya yang ingin dia lakukan tidak sekadar lari pagi. Ternyata dia bersemangat lari pagi karena dia selalu bertemu dengan seorang perempuan relawan yang suka membagikan sarapan pagi kepada para orang tua, orang muda, bahkan orang meminta di pinggir jalan, trotoar, dan di kolong jembatan. Dia juga selalu kebagian jatah makanan walaupun tidak meminta.

Pertemuan pertama dia menerima makanan karena dia duduk di pinggir jalan setelah lelah berlari, lalu perempuan itu datang dan memberinya. Di pertemuan selanjutnya, mungkin yang kelima, dia memberanikan diri untuk menolak.

Dia mendorong halus makanan pemberian perempuan itu karena dia merasa berkecukupan. Tetapi perempuan itu bersikeras memberinya karena sebelumnya sudah pernah mendapat makanan beberapa kali.

Latif menjelaskan bahwa selama ini dia memberi makanannya kepada orang yang membutuhkan dan meminta maaf. Perempuan itu malah bertanya mengapa dia meminta maaf dan tidak melakukan hal yang seperti dia lakukan sebelumnya. Latif pikir gadis ini keras kepala sekaligus baik.

Latif malah menawarkan diri menjadi relawan. Tentu perempuan itu membolehkan dengan senang hati dengan seruan “Halleluyah”. Lantas ucapan syukur yang berbeda dengan yang sering Latif ucapkan tersebut membuat pemikirannya runtuh untuk menyatakan perasaannya. Motivasinya untuk menjadi relawan berkurang, tetapi hal itu tidak menghalangi niatnya membantu sesama.

Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Bianca, atau Inka. Latif lantas memperkenalkan diri juga. Mereka banyak mengobrol. Gerakan relawan ini bernama “Bitika untuk hari”, dan ternyata perusahaan Latif yang mendanainya.

Pernah Latif menebak arti dari nama gerakan ini, dan tidak menemukan jawabannya. Mereka mengobrol dengan penuh tawa. Seketika Latif menjadi terpana dengan kesan yang diberikan Bianca.

Latif punya rencana, dia menelepon sekretarisnya dan meminta untuk mendata dan memberikan bentuk terima kasih kepada gerakan relawan ini, sekaligus untuk mendekatkan diri ke Bianca, mungkin, tentu tidak terang-terangan.

Kemudian Latif dan Bianca melanjutkan kegiatan membagikan makanan. Setelah semua selesai, Latif pamit pergi. Di tempat kerja Latif menyadari bahwa dia lupa mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bianca, padahal saat bertemu sempat disinggung oleh gadis itu. Tetapi dia teringat akan rencananya besok, maka dia semakin menggebu-gebu dalam menyelesaikan pekerjaan. Di malam hari dia berpikir oleh suatu kenyataan, mereka adalah manusia yang berbeda.

Cerpen Bonar Bona Boni Sianipar, "Bianca" mengisahkan dilema perbedaan agama di antara pasangan kekasih. Latif yang terbiasa salat dan Bianca yang terbiasa berseru, "Puji Tuhan, Halleluyah." Perbedaan itu menjadi perkara besar bagi Latif, yang sesungguhnya mulai jatuh cinta pada Bianca. "Perempuan relawan ini keras kepala pikir si bujang, paduan keras kepala dan kebaikan. Hal yang unik dimiliki seorang perempuan setelah ibu si bujang pastinya."

Akan tetapi, setelah mengetahui bahwa agama Bianca berbeda, Latif tidak jadi mengutarakan isi hatinya. Perbedaan itu, sepertinya, sukar dipertemukan. Itulah kenyataan yang dihadapi generasi milenial sekarang.

Gaya bahasa yang digunakan Bonar dalam cerpen ini cenderung santai, bahkan di beberapa bagian dia tampak berseloroh. Kita juga diajak berseloroh untuk ikut menafsirkan nama gerakan relawan itu, "Bitika untuk hari", yang tidak tuntas jawabannya. Dengan cara berseloroh itulah, Bonar menampikan alur cerpennya: tidak memberikan jawaban yang tuntas. Akan dia sedang mempertanyakannya?

 

Penulis: Yoseph Yapi Taum dan Marcella Tiara Azarine Jelita

 

Cerpen bisa dibaca di:

https://www.tempusdei.id/2021/06/5561/cerpen-bonar-bona-boni-sianipar-bianca.php

 kembali