Kolom

Kala ("Tenses") dalam Bahasa Indonesia

04-07-2021 17:39:21 WIB 

Bagi sebagian penutur bahasa Indonesia yang sedang mempelajari bahasa Inggris, kala (tenses) menjadi salah satu kesulitan besar selain pelafalan (pronunciation). Dari kesulitan itu, tidak sedikit yang berpikir, bahasa Indonesia tidak mengenal kala. Benarkah?

Perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa bahasa Indonesia mengenal kala. Mengatakan bahwa bahasa Indonesia tidak mengenal kala adalah sebuah salah kaprah.

Kala dalam bahasa Indonesia diwujudkan secara leksikal. Sementara itu, kala dalam bahasa lain ada yang diwujudkan secara morfemis melalui infleksi verba atau melalui imbuhan/afiks tertentu.

Kesalahkaprahan itu tidak bisa dilepaskan dari anggapan bahwa kala hanya dimiliki bahasa-bahasa Barat seperti bahasa Inggris mengingat sebagian besar penutur bahasa Indonesia pertama kali mengenal konsep kala ketika belajar bahasa Inggris di sekolah.

Kala yang ada di benak penutur bahasa Indonesia adalah perubahan verba/kata kerja (verb) seperti eat yang berubah menjadi ate dan eaten atau play yang menjadi played.

Dalam bahasa Indonesia, baik dalam waktu lampau (past), kini (present), maupun esok (future), kata makan tidak akan berubah bentuk. Kata makan tidak berubah menjadi *makun ataupun *maken apalagi *makaned.

Alhasil, tidak sedikit penutur jati bahasa Indonesia menganggap bahasa Indonesia itu tenseless. Di situlah letak salah kaprahnya.

Padahal, bahasa Indonesia mengenal kala karena dikenal kata-kata penanda kala seperti telah, sedang, dan akan. Hanya saja, kala tidak mengubah bentuk verba dalam bahasa Indonesia.

Itulah sebabnya, dikatakan di atas bahwa kala dalam bahasa Indonesia diwujudkan secara leksikal atau secara sederhana diwujudkan dengan menambahkan kata tertentu (berupa adverbia) sebelum verba sehingga terbentuklah sebuah frasa verbal. Misalnya, telah makan, sedang makan, dan akan makan.

Sementara itu, kala dalam bahasa lain ada yang diwujudkan secara morfemis, seperti bahasa Inggris. Morf atau morph bermakna 'bentuk'. Artinya, sistem kala berdampak pada pembentukan kata dalam bahasa tersebut.

Misalnya verba eat ketika digunakan dalam kala lampau (past tense) berubah bentuk menjadi ate. Contoh lain, verba play saat dipakai dalam kala lampau berubah menjadi played.

Perubahan eat menjadi ate disebut infleksi atau dalam morfologi disebut suplesi. Sementara itu, penambahan akhiran/sufiks –ed pada kata play menjadi played disebut pengimbuhan atau afiksasi.

Contoh lain dapat dilihat di bahasa Korea. Dalam bahasa Negeri Ginseng tersebut kala juga memengaruhi bentuk verba melalui pengimbuhan. Kata 먹다 (meogda) yang berarti 'makan' berubah menjadi 먹었다 (meog-eossda) pada kala lampau.

Jadi, bahasa Indonesia tetap mengenal kala. Hanya saja, pengungkapannya tidak sama dengan bahasa Inggris ataupun bahasa Korea.

Kala—dan juga hubungan gramatikal lain seperti kasus, gender, serta jumlah apakah tunggal atau jamak—dalam bahasa Indonesia tidak memengaruhi pembentukan kata. 

Penulis: Sony Christian Sudarsono 

 kembali