Kolom

Harapan di Tengah Kesulitan

01-07-2021 22:41:41 WIB 

Wabah virus korona membawa dampak yang sangat besar bagi manusia. Hampir seluruh aspek kehidupan manusia terkena imbasnya. Tentunya, segala yang berkaitan dengan kesehatan menjadi satu prioritas utama saat ini. Kita perlu mengapresiasi para tenaga kesehatan yang sudah bekerja siang dan malam untuk menangani pasien Covid-19 sekaligus pasien-pasien non-Covid-19 lainnya.

Pada masa ini, wajar rasanya jika kita sangat khawatir dengan kondisi kesehatan kita sendiri. Atau mungkin kondisi kesehatan orangtua kita, anak-anak kita, dan saudara saudari kita.

Namun, pernahkah terlintas di benak kita bagaimana kondisi kesehatan para tenaga kesehatan di luar sana?

Bagaimana perasaan para dokter dan perawat yang harus menyaksikan puluhan nyawa melayang di kasur rumah sakit setiap waktu?

Cerpen Laurenz Apiwhani Nurani Bunda, “Malaikat Tak Bersayap Milik Tuhan”, berkisah tentang pengalaman Dokter Anaya menangani pasien-pasien, baik yang terpapar Covid-19 maupun pasien dengan gangguan paru-paru.

Dokter Anaya harus rela untuk meninggalkan keluarganya karena menangani pasien Covid-19. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan jika ia tetap tinggal bersama keluarganya.

Setiap harinya, Dokter Anaya bertugas memeriksa pasien Covid-19. Sesungguhnya ia sudah sangat getir mengingat ia baru saja kehilangan rekan seperjuangannya, Suster Maryam.

Namun, dokter muda itu tetap berteguh hati. Ia selalu optimis akan hari esok. Dokter Anaya percaya, segalanya akan mungkin jika Tuhan menghendakinya.

Dokter Anaya sangat beruntung memiliki suami dan rekan kerja yang baik, yang membuatnya mengabdikan dirinya secara tulus dan total sebagai dokter.

Ada tiga pasien yang dilayaninya dengan penuh kasih sayang, yaitu seorang pastor, seorang dokter, dan seorang perawat bersama Shafira yang menderita penyakit bawaan akut. Ketiga orang itu disebutnya sebagai “Malaikat Tak Bersayap Milik Tuhan”.

Kekuatan cerpen ini terletak pada penggambaran latarnya, baik latar tempat (rumah sakit) maupun latar sosial (lingkungan hidup di tengah pandemi Covid-19 yang mendukung karya pelayanan para dokter).

Unsur-unsur cerpen lainnya seperti alur dan konflik, jika digarap dengan baik, tentu akan menjadikan cerpen ini berhasil. Cerpen tanpa dinamika alur dan konflik yang “mengubah nasib” tokohnya menjadi datar. Sebagai pemula, Laurenz Apiwhani Nurani Bunda sudah menunjukkan bakat bercerita yang baik.

Cerpen Laurenz dapat dibaca di sini.

 

Penulis: Yoseph Yapi Taum, Reni Nurari

 kembali