Kolom
Kebaikan hingga Akhir
Kita mungkin sering menjumpai orang-orang yang kurang beruntung di sekeliling kita. Mereka adalah orang-orang yang harus bersusah payah menghadapi kerasnya hidup di jalanan demi sesuap nasi. Bahkan, sisa makanan yang berasal dari tempat sampah pun terasa nikmat untuk perutnya yang sudah lapar. Penghinaan dan pengusiran dari orang lain menjadi hal yang biasa bagi orang-orang seperti mereka.
Sama halnya dengan kisah seorang anak yang harus rela menjadi pemulung untuk mempertahankan hidupnya di dalam cerpen yang berjudul “Deritanya Tuntas di Ujung Jalan” karya Veronika Ivanalia Aninda Putri, seorang mahasiswi prodi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma yang tayang di laman tempusdei.id.
Cerpen ini mengisahkan tentang perjuangan hidup seorang pemulung kecil menghadapi kerasnya kehidupan. Anak yang seharusnya mendapatkan kesempatan untuk bersekolah dan makan dengan layak, harus rela mencari makanannya sendiri. Halaman toko milik orang lain menjadi tempat favoritnya untuk beristirahat setelah lelah memungut sampah.
Ia selalu berjalan sambil memikul sebuah karung yang berisi barang-barang bekas yang ia dapatkan dari tempat sampah. Orang-orang yang melihatnya selalu mengusir dan membentak anak itu. Orang-orang merasa jijik jika mencium bau dari tubuhnya.
Ia selalu menahan lapar dan rasanya ingin sekali makan dengan layak di warung makan seperti orang lain. Namun, ia hanya mampu menikmati makanan sisa yang ia dapatkan dari tempat sampah. Bahkan air keran sudah mampu menyegarkan dahaganya.
Miris, uang hasil menjual barang-barang bekas yang ia kumpulkan dengan susah payah lenyap begitu saja di tangan dua orang preman. Saat ia sudah terkapar karena lelah berjalan dan menangis, dua orang penumpang mobil yang lewat di hadapannya menolong anak itu.
Mereka memberikan banyak makanan kepadanya. Ternyata masih ada orang-orang yang memiliki hati untuk menolongnya. Walaupun orang-orang itu belum bisa sepenuhnya dikatakan baik.
Cerpen Veronika Ivanalia Aninda Putri, "Deritanya Tuntas di Ujung Jalan" membawa kita menyaksikan "Sehari Bersama Seorang Pemulung". Suka duka pemulung itu tidak hanya kita “saksikan” tetapi juga kita “rasakan”. Pandangan dan perlakuan orang terhadap seorang pemulung ikut menyesakkan dada pembaca. Di antara “sesama” manusianya, ada orang “baik”, yakni orang yang secara tulus dan ikhlas memberikan makanan kepadanya. Ada pula orang jahat yang tega merampas hasil kerja kerasnya seharian. Kita barangkali ikut bergembira ketika sang pemulung membagikan makanan kepada sahabat-sahabatnya.
Kekuatan cerpen ini adalah memberikan sebuah gambaran yang mengingatkan kita pada nilai-nilai kemanusiaan yang mulai pudar dalam masyarakat kita. Kelemahan cerpen ini antara lain penggambaran karakter yang terlalu umum, tidak memiliki nama, dan hanya menjadi representasi pikiran-pikiran penulisnya.
Kematian tokoh pemulung di akhir cerita tampak seperti dipaksakan, karena tidak ada indikasi sebelumnya. Bahkan tokoh itu sedang bergembira karena mampu berbagi makanan kepada sesama pemulung. Jika kemahan-kelemahan ini diperbaiki, Veronica bakal menjadi seorang penulis cerpen yang baik.
Baca cerpen Veronica di sini!
Penulis:
Yoseph Yapi Taum dan Stevanny Yosicha Putri
- Materi Puisi Lama Membosankan? Ini Trik Membuat Caption Berkelas dengan Pantun, Gurindam, dan Syair!
- Lalu Kapan Berjumpa Lagi?
- Representasi Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Anak Melalui Film “Anak Lanang”
- Bertaut di Antara Masa Lalu dan Masa Depan
- Konflik Batin yang Sering Dialami Anak Rantau
- Garis Tepi Masa Purnabakti
- Ina Essy, Revolusi, hingga Perkara Uang Tunjangan
- Memori Luka 98 dan Gaung Kebengisan Orba: Resensi Cerpen "Clara" Karya Seno Gumira Ajidarma
- Jeda Semester: Beberapa Rekomendasi Buku untuk Mahasiswa Sastra
- Beragam Fungsi Tanda Hubung dalam Bahasa Indonesia