Kolom
Asa yang Pupus
Mengapa takdir begitu kejam mempermainkan hidupku. Seolah-olah semua ini memang pantas untukku. Asaku yang hampir terputus, lalu dirajut semua sia-sia. Karena asaku kembali terlantar di dalam.
Aku lirik dalam cerita pendek (cerpen) karangan Gita Indriani bertajuk “Terlantarnya Asa” memperkenalkan dirinya dengan berkeluh kesah mengenai kehidupannya. Kehidupan tokoh utama bernama Rena ini jauh dari ingar-bingar keluarga.
Sejak lahir, Rena tidak diperlakukan sebagaimana anak yang dikasihi oleh orang tuanya. Alih-alih kelahirannya dinantikan oleh orang tuanya, ia hanya dianggap sebagai kesalahan yang seharusnya tidak ada.
Keberadaannya di tengah keluarga membuat Rena mengalami tekanan yang luar biasa. Tekanan batin yang diperoleh dari perlakuan ketidakacuhan orang tuanya membuat ia ingin mengakhiri hidupnya. Namun, Tuhan berkehendak lain dengan membiarkan Rena untuk hidup.
Di kesempatan waktu yang lain, Rena akhirnya merasakan secercah kasih sayang oleh sang ibu. Ketika Rena beranjak untuk berangkat sekolah, ia sontak dibuat kaget oleh perilaku ibunya yang menperhatikan dan mengajaknya untuk pergi ke sekolah bersama.
Asa manis yang ditunggu oleh Rena akhirnya tiba. Akan tetapi, penantiannya untuk merasakan asa yang manis itu pupus.
Rena dituduh telah menjatuhkan adiknya dari tangga. Ia sudah mengakui bahwa peristiwa itu tidak disebabkan oleh dirinya. Sayang, ucapannya tidak diperhatikan sehingga Rena mesti dikurung dalam gudang usang.
Asa Menulis
Berangkat dari uraian singat cerpen itu, pengarang secara tidak langsung mencandrakan proses menulisnya.
“Menulis membuat orang bergulat dengan keliarannya. Semakin gelisah, semakin berbobotlah tulisannya,” demikian kata Sindhunata.
Menulis bukan pekerjaan yang mudah. Menulis bukan pekerjaan yang menyenangkan. Menulis adalah keperihan dan kepedihan untuk menemukan diri kita yang tenggelam dalam berbagai kedangkalan.
Mahasiswi program studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma dalam cerpennya “Terlantarnya Asa” memperlihatkan pergulatan yang intens dengan kegelisahannya tentang tokoh aku lirik yang lahir dari rahim wanita yang tidak menghendakinya. Perlakuan diskrimitatif, tidak manusiawi, dan kebencian yang dirasakan dalam dadanya digoreskan dengan pena tajam yang menusuk perasaan pembaca. Inilah kekuatan cerpennya: menyajikan konflik dan klimaks yang sangat menarik.
Akan tetapi, penggarapan naratif, alur, dan latar dalam cerpen ini belum terlalu berhasil dibandingkan dengan penggambaran konflik cerita. Kita seperti membaca sebuah sketsa yang jika digarap dengan serius, dapat menjadi sebuah cerpen yang berhasil.
Cerpen ini memperlihatkan bahwa Gita Indriani memiliki bakat bercerita yang baik. Dia masih memerlukan jam terbang yang lebih banyak, mengasah lebih tajam lagi keterampilan menulisnya dengan mengelaborasi semua aspek cerpen, khususnya penggarapan karakter dan penggambaran latar.
Cerpen karya Gita dapat dibaca di sini.
Penulis: Yoseph Yapi Taum dan Leonardus Ardi Agung Prasetyo Nugraha
- Materi Puisi Lama Membosankan? Ini Trik Membuat Caption Berkelas dengan Pantun, Gurindam, dan Syair!
- Lalu Kapan Berjumpa Lagi?
- Representasi Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Anak Melalui Film “Anak Lanang”
- Bertaut di Antara Masa Lalu dan Masa Depan
- Konflik Batin yang Sering Dialami Anak Rantau
- Garis Tepi Masa Purnabakti
- Ina Essy, Revolusi, hingga Perkara Uang Tunjangan
- Memori Luka 98 dan Gaung Kebengisan Orba: Resensi Cerpen "Clara" Karya Seno Gumira Ajidarma
- Jeda Semester: Beberapa Rekomendasi Buku untuk Mahasiswa Sastra
- Beragam Fungsi Tanda Hubung dalam Bahasa Indonesia