Kolom
Pembenaran yang Tidak Benar
Mungkin ada anak yang tidak direncanakan oleh kedua orang tuanya. Tetapi semua anak lahir dengan rencana Tuhan. Sudah sepantasnyalah setiap kehidupan meskipun masih dalam rupa janin dijaga, dipelihara, dan dikembangkan.
Sayangnya hal itu tidak terjadi pada sang malaikat kecil milik Aku lirik dalam cerpen “Malaikat Kecilku Telah Hilang di Tanganku Sendiri” karya Nelly Anjani Br Sembiring, mahasiswi Prodi Sastra Indonesia USD yang tayang di laman tempusdei.id.
Dikisahkan seorang mahasiswi bermimpi membanggakan kedua orang tua yang sudah susah payah menguliahkannya. Di satu sisi, hatinya tertambat pada seorang laki-laki yang kemudian menjadi kekasihnya. Hingga akhirnya, hubungan sepasang kekasih itu melampaui batas norma susila yang berlaku di masyarakat.
Ada sebab tentu ada akibat. Api tentu menghasilkan asap. Hubungan cinta lelaki dan perempuan menghasilkan buah cinta yang oleh sang mahasiswi disebut malaikat kecil.
Namun, ketika banyak pasutri yang bertahun-tahun mengharapkan hadirnya sang buah hati, si mahasiswi dan kekasihnya yang mendapatkan buah cintanya yang terlarang berdebat tentang kelanjutan hidup sang malaikat kecil.
Dari sekian banyak pilihan bijak yang bisa diambil si mahasiswi, manakah yang akhirnya dia pilih?
"Tugas manusia adalah menjadi manusia," demikian kata Multatuli, nama pena Eduard Douwes Dekker. Jalan kehidupan dengan lika-likunya sering kali membuat manusia menjadi binatang. Cerpen "Malaikat Kecilku Telah Hilang di Tanganku Sendiri" menggambarkan perjuangan manusia menjadi manusia.
Aku lirik, si mahasiswi, "harus" menggugurkan janin di dalam rahimnya karena sang pacar ingkar janji dan ia tidak mau mengecewakan kedua orang tuanya. Ada seribu satu alasan untuk membenarkan “pengguguran janin” tetapi tindakan menggugurkan itu merupakan sebuah perilaku binatang, pembunuh berdarah dingin.
Di dalam cerpen ini ada gambaran “rasa bersalah” yang menghukum aku lirik. Ada persoalan gender, perempuan sebagai vilnerable target. Ada persoalan adat istiadat dan kasih sayang, penghargaan atas jerih payah orang tua.
Cerpen ini membagikan sebuah pengalaman kemanusiaan yang dapat menimpa siapa saja. Apapun kondisi dan alasannya, manusia harus tetap berjuang untuk menjadi manusia yang semakin manusiawi.
Keputusan untuk membunuh malaikat kecil tentu bukan sebuah keputusan manusiawi. Inilah pesan tersembunyi cerpen ini.
Cerpen “Malaikat Kecilku Telah Hilang di Tanganku Sendiri” bisa dibaca di sini.
Penulis: Yoseph Yapi Taum & Sony Christian Sudarsono
- Materi Puisi Lama Membosankan? Ini Trik Membuat Caption Berkelas dengan Pantun, Gurindam, dan Syair!
- Lalu Kapan Berjumpa Lagi?
- Representasi Peran Keluarga dalam Pembentukan Kepribadian Anak Melalui Film “Anak Lanang”
- Bertaut di Antara Masa Lalu dan Masa Depan
- Konflik Batin yang Sering Dialami Anak Rantau
- Garis Tepi Masa Purnabakti
- Ina Essy, Revolusi, hingga Perkara Uang Tunjangan
- Memori Luka 98 dan Gaung Kebengisan Orba: Resensi Cerpen "Clara" Karya Seno Gumira Ajidarma
- Jeda Semester: Beberapa Rekomendasi Buku untuk Mahasiswa Sastra
- Beragam Fungsi Tanda Hubung dalam Bahasa Indonesia