Berita

"Hidup itu Perjuangan: Di dalamnya tidak hanya 1 warna, melainkan ada ragam warna" ~ My disability is the greatest gift from God – Wuri (2005) ~

kembang 1
Pada hari Sabtu, 25 Mei 2024 di Ruang Drost, Kampus III Paingan Universitas Sanata Dharma telah terselenggara kuliah umum Psikologi Perkembangan yang diampu oleh Bu Slyvi dan Bu Anantasarii. Dengan berfokus pada sharing narasumber utama, yaitu Bu Wuri Handayani, seorang dosen dengan disabilitas fisik yang sejak 2018 aktif mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Gajah Mada, beliau menceritakan terkait perjalanan disabilitasnya.

Sebagai pengantar, Bu Slyvi selaku dosen pengampu memberikan materi singkat terkait tema kuliah umum yang berfokus pada pendekatan peristiwa kehidupan (the life events approach) yang memandang bahwa peristiwa kehidupan sebagai keadaan yang membebani individu dan memaksa mereka untuk mengubah kepribadiannya. Selain itu terdapat pendekatan peristiwa kehidupan kontemporer (contemporary life events approach) yang menekankan bahwa bagaimana peristiwa kehidupan mempengaruhi perkembangan individu tidak hanya bergantung pada peristiwa kehidupan, tetapi juga pada faktor-faktor mediasi seperti dukungan kesehatan dan keluarga, adaptasi individu terhadap peristiwa kehidupan, konteks tahap kehidupan, konteks sosiohistoris. Materi ini  merupakan jembatan untuk sesi selanjutnya yang berfokus pada perjalanan disabilitas Bu Wuri yang mengalami disabilitas fisik ketika ia berada pada fase usia dewasa muda.

Sabtu, 11 September 1993 sepertinya menjadi suatu tanggal membekas dalam ingatan Bu Wuri karena ini adalah titik awal perubahan permanen dalam kehidupannya. Bu Wuri sebagai anggota Wanala (Mahasiswa Pecinta Alam) jatuh ke dalam jurang dengan kedalaman 20 meter saat pendakian di Gunung Penanggungan dan kemudian di rawat dengan total 40 hari di RSUD Dr. Soetomo. Akibat dari kecelakaan tersebut, Bu Wuri mengalami disortasi vertebrata yang membuatnya lumpuh mulai dari punggung hingga ke area bawah.  Setelah diijinkan pulang, Bu Wuri menjalani masa pemulihan dengan dikelilingi afeksi teman serta keluarga terkasih. Kendati demikian, seiring berjalannya waktu tampak bahwa teman-teman Bu Wuri pun menjadi sibuk dan timbullah fase cemas di hidup Bu Wuri. Beliau merasakan sakit, gugup, kehilangan rasa percaya diri, putus asa, ketakutan, dan kemarahan, serta kecemasan atas ketidakpastian mengenai masa depan. Fase ini semakin memburuk dan berlanjut menjadi fase depresi dimana Bu Wuri harus melakukan  penyesuaian social dan merasa menjadi beban keluarga karena sangat bergantung pada bantuan orang lain. Setiap malam Bu Wuri menangis dam terus menangis. Hingga suatu ketika, Pak Udin yang sekarang menjabat status sebagai suami mengatakan “Memang menangis membuatmu bisa berjalan lagi?” Atas pertanyaan tersebut, meskipun tidak berhenti nangis, namun Bu Nuri mengimbangi dengan  berpikir ingin membuat bangga keluarga. Akhrnya, beliau mulai berpikir positif, kembali melanjutkan studi sekaligus melakukan penyesuaian  diri hingga ia bisa menerima diri seutuhnya bahkan menyelesaikan gelar PhD, mendirikan LSM untuk penyandang disabilitas, dan aktif menjadi tenaga pengajar.
kembang 2
Tentu perjalanan Bu Wuri tidak semudah mengetik tiap kalimat pada tulisan ini. Ragam penolakan yang beliau rasakan hanya karena ia memiliki cacat fisik ketika mendaftar sebagai dosen ataupun PNS ia gunakan sebagai bahan bakar semangat dalam memperjuangkan hidupnya. Ditambah dengan sosok suami terkasih, yaitu Pak Udin yang kerap menemani beliau menjadikan hidupnya semakin berwarna.

 “Kita semua punya cita-cita, tapi belum tentu semua bisa sesuai. Ketika ada situasi yang tidak sesuai harapan, jangan putus asa karena masih ada banyak jalan. Jadi, semangatlah dan jangan pedulikan bully an ataupun komentar negatif orang lain.” – Bu Wuri, 25 Mei 2024
kembang 3

Yulian Janeth ( Student Staf )
kembali