Web Fakultas SIA Mahasiswa SIA Orangtua
Artikel

Hari Lebah Sedunia: Upaya Konservasi Lebah Demi Kehidupan di Bumi

Oleh Hendra Michael Aquan

Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan 20 Mei sebagai Hari Lebah Sedunia. Peringatan ini dimulai sejak 2018, atas dasar usulan Pemerintah Slovenia yang diajukan pada Desember 2017. Tanggal 20 Mei dipilih bertepatan dengan kelahiran Anton Janša, pelopor pembudidayaan lebah moderen, tepatnya tahun 1734.

Tujuan digelarnya perayaan ini adalah untuk menggugah dan meningkatkan kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya peran lebah sebagai serangga penyerbuk. Kontribusi besarnya bukan hanya bagi ketersediaan pasokan pangan, tetapi juga bagi kualitas kesehatan ekosistem kita.

Ada 20.000 spesies lebah di seluruh dunia dan banyak dari lebah ini yang menurun. Lebah benar-benar memenuhi kebutuhan kita dalam banyak hal — penyediaan makanan, kesejahteraan manusia. Keanekaragaman dan ekosistem yang sehat bergantung pada lebah.

Salah satu peran lebah di alam, salah satunya adalah sebagai penghasil madu. Ada tiga jenis lebah yang menjadi pilihan para pembudidaya. Ketiga jenis tersebut antara lain lebah asli (Apis cerana) lebah hutan (Apis dorsata), dan lebah unggul (Apis mellifera).

Dari ketiga jenis lebah tersebut, A. mellifera banyak diminati peternak lebah Indonesia. Hal ini disebabkan karena A. mellifera memiliki tingkat produktifitas yang tinggi. Data produktifitas setiap koloni A. mellifera yang dicatat Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta mencapai 35-40 Kg per tahun.

Data Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial (RLPS) pada tahun 2000 mencatat setidaknya rata-rata produksi lebah Indonesia setiap tahunnya mencapai 4.000 ton. Dari jumlah tersebut, 25% nya berasal dari A. mellifera.

Melihat asal usulnya, A. mellifera bukanlah lebah asli Indonesia. Lebah ini masuk Indonesia sebagai hadiah saat Presiden Suharto berkunjung ke Australia pada tahun 1974. Hasil penelitian menemukan bahwa ada 24 subspesies A. mellifera. Analisis morfometrik serta wilayah persebarannya menunjukkan ada empat kelompok garis keturunan (lineage) yakni; Afrika, Eropa Utara dan Barat, Eropa Selatan, dan Timur Tengah.

Lebih lanjut, penelitian Hidayat menegaskan bahwa subspesies A. mellifera yang ada di Indonesia termasuk kedalam kelompok garis keturunan dari Eropa Selatan dengan persebaran alaminya di Italia. Lebah ini masuk ke Indonesia melalui Australia.  

Sampai saat ini Pulau Jawa masih menjadi pusat peternakan A. mellifera dengan area sebaran meliputi Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur. Beberapa penelitian menunjukkan adanya ancaman pada produktifitas A. mellifera. Beberapa faktor di antaranya adalah overpopulasi, berkurangnya habitat pakan dan penggembalaan karena alih fungsi lahan.

Tanaman sumber pakan yang digemari oleh A. mellifera adalah pohon kapuk randu (Ceiba pentandra). Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa saat ini masyarakat sudah tidak meminati kapuk dan beralih ke bahan sintetis seperti dracon atau busa. Akibatnya kapuk randu tidak lagi diminati petani. Menurunnya produksi kapuk randu diduga ikut mempengaruhi turunnya populasi lebah A. mellifera.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, ada tiga upaya penting yang penting dilakukan guna menjaga kelestarian populasi lebah. Upaya tersebut sebagai berikut:

(1) Di tingkat individu perlu kesadaran dan kerelaan menanam beragam tanaman asli, yang berbunga pada waktu berbeda sepanjang tahun; melindungi koloni lebah liar bila memungkinkan;  melindungi sarang lebah; membeli madu mentah dari petani lokal; membeli produk dari hasil pertanian berkelanjutan; menghindari penggunaan pestisida, fungisida atau herbisida; serta membantu melestarikan ekosistem hutan.

(2) Di tingkat peternak dan petani dilakukan dengan cara serta membuat pagar hidup; melakukan diversifikasi tanaman sebanyak mungkin dan/atau menanam tanaman yang menarik di sekitar lahan pertanian; dan yang paling pentin adalah mengurangi atau berhenti sama sekali menggunakan pestisida.

(3) Di tingkat pembuat kebijakan. Pembuat kebijakan perlu melibatkan masyarakat setempat dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini adalah kelompok masyarakat adat, yang kesehariannya sangat bergantung pada kelestarian ekosistem serta keanekaragaman hayati.

Ketiga rekomendasi di atas perlu dilakukan secara bersamaan guna menjamin kelestarian masa depan lebah di masa depan. Selamat hari lebah 2021!

 kembali