Artikel
Artikel refleksi ini merupakan tulisan Alessandra Josephine, mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi angkatan 2022. Tulisan ini sudah terbit melalui kanal platform online yang bisa diakses di sini.
...
Bagaimana rasanya dihargai dan dicintai secara keseluruhan? Bagaimana rasanya jika kekurangan dan kelebihan kita dianggap sebagai suatu harmoni? Bagaimana rasanya merdeka dalam menyampaikan segala hal? Semua hal itu saya rasakan di sini, di Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
.....
Untuk banyak orang, istilah cura personalis mungkin jarang didengar. Namun, untuk mereka yang bertumbuh dalam lingkungan pendidikan Yesuit (Serikat Yesus), istilah ini seharusnya tidaklah asing. Dalam bahasa Indonesia cura personalis adalah peduli pada pribadi seutuhnya.
Cura personalis adalah suatu filosofi yang mendorong institusi Yesuit untuk tidak hanya melihat seseorang hanya berdasarkan apa yang ng-akademik atau isi kepala, namun juga hati, jiwa dan raganya — keseluruhan pribadi seseorang, intinya. Hal ini berakar kuat dari spiritualitas Santo Ignatius Loyola, pendiri Serikat Yesus. Filosofi inilah yang kemudian membentuk pengalaman saya selama berkuliah.
Saya sudah berkuliah di institusi Yesuit selama kurang lebih tiga tahun. Pada detik-detik sebelum masa perkuliahan, banyak sekali cerita di media sosial mengenai kejamnya dunia perkuliahan. Dosen killer, lingkungan pergaulan yang tidak sehat, ketidakpedulian kampus terhadap kondisi mahasiswa, dan lain sebagainya. Sebagai seseorang yang merasa masih kecil, mendengar hal-hal tersebut menjadi suatu ketakutan luar biasa. Nampaknya, saya akan sulit untuk survive dalam lingkungan perkuliahan.
Pada waktu itu, saya sudah membayangkan bagaimana betapa memuakkannya perkuliahan saya nanti. Saya merasa akan terpenjara, tidak bebas dan terbebani dengan kondisi kejam perkuliahan. Namun, ketika saya benar-benar terjun dalam dunia perkuliahan, saya malah merasa jauh lebih merdeka.
Di Universitas Sanata Dharma, saya masuk program studi Pendidikan Biologi. A bold move — untuk saya yang tidak sepintar itu dalam mata pelajaran ini selama duduk di bangku sekolah. Seumur-umur saya bersekolah, kegiatan di laboratorium sangatlah terbatas — mengingat saya dibesarkan oleh COVID-19 selama SMA. Saya khawatir bukan main ketika membayangkan betapa buruknya kinerja saya nanti ketika di laboratorium.
Saya sudah menebak-nebak bahwa tidak akan ada yang peduli apabila kinerja saya buruk di lab. Saya sudah menerka-nerka betapa bodo amatnya dosen-dosen terhadap struggle saya (dan mungkin teman-teman saya) ini. Sepertinya, tidak akan ada yang cukup peduli dan kepikiran.
Namun nyatanya, ternyata dosen-dosen saya kepikiran dan sangat peduli sampai ke situ. Teman-teman saya dibimbing dengan baik, diajarkan bagaimana cara memegang alat-alat lab dan bahkan diajarkan cara menyusun laporan yang baik. Saya cukup kaget sih saat diajarkan cara menyusun laporan, karena saya merasa sepertinya itu suatu hal yang seharusnya sudah diajarkan selama SMA.
Namun prodi saya mungkin sadar betul bahwasanya kami angkatan COVID yang ilmunya mungkin sudah terlanjur meluap dan… ternyata belum tentu semua SMA belajar hal yang sama.
Hal menarik lain yang saya lihat saat awal-awal berkuliah di sini adalah melihat betapa besarnya effort dosen-dosen saya untuk menghafal nama mahasiswa baru — saya dan teman-teman saya. Saya tahu, ada suatu teori yang mengatakan bahwa menghafal nama orang adalah suatu langkah untuk membuat orang merasa dihargai… tapi untuk apa? Bukankah dosen-dosen ‘seharusnya’ masuk kelas (kalau mau), mengajar (kalau sempat), dan memberikan tugas? Kenapa harus susah payah menghafal nama mahasiswa?
Seiring bertambahnya semester, prodi saya terus menunjukkan keanehan-keanehan lainnya. Prodi saya semakin tidak terlihat seperti ‘perkuliahan yang diceritakan orang-orang Twitter’ dan ekspektasi saya, hahaha.
Keanehan itu adalah: dosen-dosen saya kerap kali bertanya ‘mengapa?’ ketika suatu hal terjadi. Misalkan, saya pernah terlambat mengumpulkan tugas karena menghadapi suatu kendala. Saya akhirnya meminta maaf kepada dosen pengampu (waktu itu Bu Nia) karena mengumpulkan terlambat via WhatsApp. Seharusnya (menurut folklore per-Twitter-an), Bu Nia seharusnya tidak usah membaca pesan saya, tidak perlu memaafkan dan bisa langsung menjejeli ‘0’ pada nilai tugas saya. Terlambat itu suatu kelalaian ‘kan?
Namun ternyata, Bu Nia malah menjawab WhatsApp saya:
“Oke Evin.
Ada apakah?”
Di balik kendala, tentu saja saya harus menceritakan alasannya. Tapi… kenapa juga harus peduli dengan kendala saya? Karena merasa bingung harus mengarang seperti apa — saya tidak pandai mengarang, saya akhirnya menjelaskan alasan sesungguhnya di balik kendala saya kepada Bu Nia.Respon Bu Nia semakin di luar nalar saya.
“Okay. Take your time Evin”
Tidak hanya itu, ada lanjutannya lagi. Sesaat setelah kendala itu, Bu Nia mem-follow up cerita saya ketika berpapasan di kampus. Gimana? Sudah selesaikah kendala itu?
kembali
- Perlindungan dan Pelestarian Air: Mbah Sadiman dan Nguras Sumber di Girimulyo
- Optimasi Konservasi Air Melalui Kecerdasan Buatan: Pendekatan Berkelanjutan Dalam Manajemen Kualitas Air
- Pengelolaan Air Limbah Pabrik Gula Madukismo Untuk Pemenuhan Kebutuhan Air Bersih dengan Inovasi Permeable Pavement dan Rain Water Harvesting
- Transformasi Kesadaran Ekologis Melalui Mata Kuliah Healing Earth Guna Mengatasi Krisis Lingkungan Global
- Menyingkap Pesona Alam Ekspedisi ke Curug Siluwok, Mengger Malang, Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo: Eksplorasi Alam dan Potensi Wisata
- Menelusuri Jejak Perubahan Iklim Kuno dan Evolusi Aedes Aegypti
- Pembelajaran Berbasis Mini Proyek Berbantuan Aplikasi Kecerdasan Buatan: Mengeskplorasi Adaptasi Epigenetik Kehidupan Manusia di Ekstraterestrial
- Calon Guru Wajib Paham Taksonomi Bloom Revisi
- 25 April 1953 : Ketika Sebuah Paper Mengubah Perkembangan Ilmu Biologi Dunia