Berita
Komunikasi Partisipatif dalam Proses Formasio
oleh: Monica E. Madyaningrum, Ph.D.
Formasio merupakan istilah yang umumnya dipakai dalam proses pendidikan para calon imam, biarawan atau biarawati gereja Katolik yang dilaksanakan di seminari-seminari atau novisiat. Istilah formasio digunakan karena proses pendidikan di seminari atau novisiat bukan semata-mata ditujukan untuk mengembangkan aspek intelektual dari para calon imam, biarawan dan biarawati namun lebih dari itu, proses pendidikan tersebut dimaksudkan untuk mendampingi dan mengembangkan seluruh aspek diri dan spiritualitas para calon imam, biarawan dan biarawati supaya bisa mencapai kematangan pribadi dan panggilannya (Schuth, 2016).
Menimbang proses dan tujuan formasi, maka tak jarang bahwa proses pendampingan pada para calon imam, biarawan dan biarawati membutuhkan relasi interpersonal yang jauh lebih kompleks daripada sekedar relasi antara guru dan murid. Para pastor, biarawan dan biarawati yang bertugas sebagai pendamping (biasanya disebut para formator) seringkali harus melakukan banyak peran sekaligus seperti menjadi orang tua, pengawas, role model, dan bahkan konselor (McCormack, 2020). Kompleksitas peran inilah yang seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi para formator. Di zaman sekarang, tantangan ini bisa menjadi lebih rumit karena adanya isu kesenjangan generasi (generation gap) antara para formator dan para calon Imam, biarawan dan biarawati yang didampingi (biasanya disebut formandee) (Oakley, 2017).
Saat ini, kebanyakan para formandee merupakan para remaja yang umumnya lahir di akhir tahun 90-an hingga 2000. Di sisi lain, para pastor, biarawan dan biarawati yang mendapat tugas sebagai formator, umumnya merupakan bagian dari generasi baby boomer atau mereka yang lahir di akhir tahun 50-an hingga pertengahan 60-an. Perbedaan tahun kelahiran ini menjadi penanda adanya kesenjangan generasi antara para formator dan formandee. Mereka lahir, tumbuh dan besar di konteks zaman yang sangat berbeda. Pengalaman-pengalaman formasio yang dulu diterima oleh para formator ketika mereka masih berstatus sebagai formandee bisa jadi sudah tidak sepenuhnya efektif untuk diterapkan kepada para calon pastor, biarawan atau biarawati yang sekarang mereka dampingi.
Latar belakang situasi semacam inilah yang memunculkan kebutuhan untuk mengeksplorasi dan mengembangkan strategi-strategi pendampingan formandee yang lebih responsif dengan tantangan zaman dan karakteristik sosio-psikologis yang menjadi ciri umum dari remaja masa kini. Berangkat dari pengalaman penulis memfasilitasi sejumlah forum pengembangan kapasitas bersama para formator yang tergabung dalam Komisi Seminari – Konferensi Wali Gereja Indonesia pada bulan Oktober 2019 dan April 2022, dalam tulisan ini penulis akan membahas secara singkat model komunikasi partisipatif sebagai salah strategi pendampingan formandee yang lebih sesuai dengan karakteristik sosio-psikologis remaja masa kini.
Remaja masa kini dan komunikasi partisipatif
Remaja masa kini cenderung dibesarkan dalam iklim pengasuhan keluarga dan pendidikan formal yang semakin menekankan pola komunikasi yang bersifat dua arah. Hal ini sangat berbeda dengan pengalaman sebagian besar generasi baby boomers. Sebagai anak-anak dan remaja, generasi baby boomers cenderung mengalami pola komunikasi yang bersifat satu arah dalam relasi mereka dengan figur orang tua, pengasuh ataupun pendidik. Pola komunikasi yang umum terjadi adalah figur pengasuh atau pendidik berbicara dan anak atau murid pasif mendengarkan (Swanzen, 2018).
Pola komunikasi satu arah semacam inilah yang semakin jarang dialami oleh remaja masa kini. Sejak anak-anak, generasi ini cenderung dibiasakan dan diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat, pemikiran, bahkan untuk berbeda pendapat dengan figur pengasuh atau pendidik. Hal ini misalnya tercermin dalam model-model pendidikan formal di bangku sekolah dasar ataupun menengah yang semakin banyak menggunakan model-model pembelajaran yang menuntut partisipasi aktif peserta didik. Makin hari sudah semakin jarang ditemui model pendidikan formal yang mengandalkan ceramah guru dan murid hanya diminta pasif mendengarkan serta mencatat.
Menimbang generasi ini cenderung dibesarkan dalam iklim pengasuhan dan pendidikan semacam ini, maka akan menjadi lebih sulit untuk membentuk perilaku generasi ini dengan semata-mata mengharapkan kepatuhan mereka pada figur otoritas (orang tua, guru, pendamping, mentor). Akan menjadi tantangan bagi kedua belah pihak (pendidik dan anak didik), apabila pembentukan perilaku pada generasi milenial dilakukan dengan model pendekatan “Kamu harus menuruti apa yang saya katakan karena saya gurumu”. Remaja masa kini bisa jadi akan bersikap resisten pada model pendidikan atau pengasuhan semacam ini. Konteks sosial semacam inilah yang mendorong dikembangkannya strategi-strategi komunikasi partisipatif dalam pendidikan bagi para remaja masa kini. Selain lebih sesuai dengan model pengasuhan dan pendidikan yang banyak dialami remaja masa kini, model komunikasi partisipatif juga dipandang lebih efektif untuk memfasilitasi terbangunnya komunikasi dua arah yang reflektif.
Photo elicitation conversation sebagai salah satu bentuk Komunikasi partisipatif
Komunikasi partisipatif adalah model dialog yang inklusif yang memberi kesempatan bagi semua pihak yang terlibat dalam komunikasi untuk saling mengutarakan pendapat, mendengarkan dan didengarkan (Singhal & Devi, 2003). Umumnya komunikasi partisipatif hanya bisa terjadi ketika semua pihak yang terlibat dalam dialog merasa aman dan nyaman untuk mengutarakan pendapat dan pemikirannya tanpa merasa khawatir dihakimi atau digurui. Komunikasi partisipatif merupakan hal yang sangat penting dalam proses formasio karena melalui komunikasi semacam inilah seorang formator akan mempunyai akses untuk sungguh memahami cara pandang, orientasi sikap dan keyakinan para formandee sebagaimana tercermin melalui pendapat dan pemikiran yang mereka ungkapkan.
Salah satu teknik komunikasi partisipatif yang bisa digunakan untuk memfasilitasi terjadinya dialog reflektif antara formator dan formandee maupun antar formandee sendiri adalah photo-elicitation conversation (Harper, 2002). Dengan teknik ini, formator dapat memahami cara berpikir dan orientasi sikap formandee tentang suatu topik melalui tanggapan dan komentar-komentar formandee atas foto-foto yang berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan. Secara teknis, strategi komunikasi ini biasanya dilaksanakan dengan meminta formandee mengambil foto yang berkaitan dengan topik yang sedang dibicarakan.
Masing-masing formandee kemudian diberi kesempatan untuk mengutarakan makna foto itu, alasan yang mendasari pemilihan foto tersebut dan keterkaitannya dengan topik yang sedang dibicarakan. Melalui refleksi formandee atas foto-foto yang diambilnya inilah, formator akan terbantu untuk memahami kerangka berpikir dan orientasi sikap dari para formandee terkait topik yang sedang dibicarakan. Dengan memberi kesempatan kepada formandee untuk memilih dan mengambil foto sesuai preferensi mereka, metode ini mendorong terjadinya komunikasi yang partisipatif karena stimulus atau starter pembicaraan ditentukan sendiri oleh para formandee. Teknik ini juga memberi kesempatan pada formator untuk mengenal dengan lebih baik para formandee tanpa formandee merasa diinterogasi.
Sebagai contoh, untuk memahami cara para formandee memaknai panggilannya, alih-alih menggunakan cara bertanya yang directive (apa makna panggilan bagimu), formator bisa mendapatkan informasi yang lebih kaya dan bernuansa, dengan meminta formandee untuk mengambil foto yang mereka rasa paling menggambarkan makna panggilan bagi mereka. Ketika para formandee menarasikan alasan yang mendasari pilihan mereka atas foto tersebut dan makna apa yang ingin disampaikan melalui foto tersebut, formator akan terbantu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam dan bernuansa dibanding sekedar mengandalkan jawaban formandee atas pertanyaan directive: “Apa makna panggilan bagimu?”
Daftar pustaka
Harper, D. (2002). Talking about pictures: A case for photo elicitation. Visual studies, 17(1), 13-26.
McCormack, E. J. (2020). A guide to formation advising for seminary faculty: Accompaniment, participation, and evaluation. Catholic University of America Press.
Oakley, D. (2017). Seminary education and formation: The challenges and some ideas about future developments. International Studies in Catholic Education, 9(2), 223-235.
Schuth, K. (2016). Seminary formation: Recent history-current circumstances-new directions. Liturgical Press.
Singhal A., & Devi K. (2003). Visual voices in participatory communication. Communicator, 37, 1–15.
Swanzen, R. (2018). Facing the generation chasm: The parenting and teaching of generations Y and Z. International Journal of Child, Youth and Family Studies, 9(2), 125-150.
Kegiatan Kursus Formator – Komisi Seminari Konferensi Wali Gereja Indonesia pada bulan April 2022. Kegiatan ini diikuti oleh 21 formator dari berbagai seminari dan novisiat di Indonesia.
Kembali
Arsip