Berita
Whole Person Education dan pembelajaran yang responsif dengan konteks sosial-budaya pembelajar
oleh: Monica E. Madyaningrum, Ph.D.
Whole person education (WPE) merupakan sebuah paradigma pendidikan yang menekankan pentingnya proses pembelajaran yang menyeluruh. WPE mengidealkan proses pendidikan yang bisa memfasilitasi pengembangan optimal para pembelajar baik secara intelektual, sosial, maupun moral dan spiritual (Chan & Chan, 2021). WPE sendiri hanyalah satu istilah dari banyak konsep serupa yang menggambarkan orientasi pendidikan yang menyeluruh, seperti misalnya holistic education (Miller, dkk., 2019) atau di Indonesia ada istilah pendidikan manusia seutuhnya. Sejak awal sejarah perkembangan pendidikan formal di Indonesia, konsep pendidikan menyeluruh pun sudah menjadi roh dari filosofi pembelajaran para tokoh pendidik pemula seperti misalnya Ki Hadjar Dewantara. Tulisan ini dimaksudkan sebagai sebuah refleksi tentang bagaimana semangat pendidikan menyeluruh diterjemahkan dalam praktek belajar mengajar sehari-hari di perguruan tinggi.
Tulisan ini secara khusus dilatarbelakangi pengalaman penulis mengikuti kursus singkat tentang WPE yang diselenggarakan oleh Universitas Sanata Dharma bekerja sama dengan United Board, sebuah lembaga internasional yang berfokus pada pengembangan kapasitas institusi pendidikan tinggi di Asia. Bekerjasama dengan Fakultas Psikologi, Universitas Katolik Musi Charitas (UKMC), dana ini digunakan untuk menyelenggarakan program lokakarya Whole Person Education (WPE), yang dilaksanakan sepanjang bulan November – Desember 2019 di kampus UKMC di Palembang.
Tentu saja ada banyak kemungkinan bagaimana semangat WPE bisa diterjemahkan dalam konteks pendidikan tinggi masa kini. Salah satunya adalah dengan menghadirkan pengalaman pembelajaran yang kontekstual dengan keseharian para pembelajar. Ketika ruang-ruang kelas menghadirkan pengalaman yang koheren dengan situasi yang dialami dan dijumpai para pembelajar dalam keseharian mereka, maka mahasiswa akan lebih mampu membangun koneksi yang bermakna antara apa yang mereka pelajari di bangku kuliah dengan apa yang sehari-hari mereka hadapi. Melalui pengalaman semacam inilah, mahasiswa akan lebih terbantu untuk mengembangkan kepekaan dan komitmen sosial pada masyarakatnya.
Program kuliah kerja nyata merupakan salah satu contoh klasik bagaimana institusi pendidikan tinggi berupaya membangun koneksi yang koheren antara pengetahuan serta ketrampilan yang ditawarkan di universitas dengan kondisi masyarakat. Semangat semacam ini pulalah yang tertangkap dalam kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka, yaitu semangat untuk menghadirkan pengalaman pembelajaran yang responsif dengan konteks sosial-budaya masyarakat. Dalam kebijakan MBKM, semangat menghadirkan pembelajaran yang kontekstual ini secara konkrit diterjemahkan melalui program-program pembelajaran berbasis pengalaman seperti magang dan asistensi.
Dalam pengalaman penulis, selain memerlukan aktivitas-aktivitas yang bersifat praktek langsung di lapangan, pembelajaran yang kontekstual juga memerlukan satu proses dasar yang lebih sederhana yaitu menumbuhkan kebiasaan untuk membawa pengalaman-pengalaman yang otentik ke dalam kelas. Istilah pengalaman otentik di sini merujuk pada situasi riil yang menjadi bagian dari keseharian para pembelajar. Penulis memandang penting proses ini karena hilangnya otentisitas merupakan salah satu persoalan klasik dalam dunia pendidikan di negara kita. Hilangnya otentisitas ini ditandai dengan dinormalkannya penggunaan materi, situasi dan proses pembelajaran yang tidak koheren dengan pengalaman keseharian para pembelajar. Kecenderungan semacam ini bisa dengan mudah dijumpai di berbagai jenjang pendidikan mulai bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi.
Salah satu contoh klise yang menggambarkan kecenderungan ini misalnya adalah kebiasaan kolektif sebagian besar para murid sekolah dasar untuk menggambar pemandangan dua gunung dengan matahari yang muncul di tengah-tengahnya ketika mereka diminta menggambar pemandangan. Selain mengilustrasikan proses penyeragaman imajinasi dan kreasi, kebiasaan klise ini juga menggambarkan betapa tidak otentiknya pengalaman pembelajaran yang dialami para siswa-siswi tersebut. Apapun konteks ekologis sehari-hari mereka: tinggal di komplek perumahan, tinggal di pesisir pantai, atau tinggal di perkampungan padat penduduk, mereka tidak akan membawa hal-hal tersebut ke dalam karya gambar mereka, karena terlanjur terbiasa untuk melihat bahwa dunia sekolah dan hidup sehari-hari mereka merupakan dua wilayah yang tak terkoneksi.
Melalui kebiasaan-kebiasaan semacam inilah akhirnya para pembelajar menjadi terbiasa untuk meletakkan pengalaman bersekolah atau berkuliah mereka sekedar sebagai sebuah ‘upacara formal’ yang harus diikuti dan diselesaikan meski tidak ada koneksi yang berarti dengan pengalaman keseharian mereka. Ketika kebiasaan ini telah begitu tertanam dalam, maka para pembelajar menjadi terbiasa untuk abai atau tidak lagi resah ketika ada inkoherensi antara apa yang mereka pelajari di bangku sekolah/kuliah dengan apa yang dijumpai dan dialami dalam keseharian mereka. Kebiasaan untuk mengabaikan atau untuk tidak lagi resah inilah yang pada akhirnya akan mematikan daya kritis dan kepekaan sosial pembelajar.
Berangkat dari amatan dan pengalaman semacam inilah penulis berpandangan bahwa pada level personal, upaya mewujudkan pengalaman pembelajaran yang kontekstual bisa dimulai dengan membiasakan siswa/mahasiswa untuk mendialogkan situasi otentik yang mereka jumpai dan alami dalam keseharian mereka dengan pengetahuan yang mereka pelajari di sekolah/universitas. Hal ini misalnya bisa dimulai dengan mengajak siswa/mahasiswa untuk terbiasa merefleksikan sejauh mana pengetahuan formal yang mereka dapatkan sejalan dengan pemahaman yang mereka peroleh melalui pengalaman keseharian mereka. Melalui kebiasaan semacam ini, diharapkan para siswa/mahasiswa menjadi terbiasa untuk mengasah kepekaan sosial mereka yang merupakan salah satu pilar utama pendidikan yang menyeluruh.
Daftar Acuan
Chan, B. S., & Chan, V. C. (Eds.). (2021). Whole person education in east Asian universities: Perspectives from philosophy and beyond. Routledge.
Miller, J. P., Nigh, K., Binder, M. J., Novak, B., & Crowell, S. (Eds.). (2019). International handbook of holistic education. Routledge.
Kembali
Arsip