Berita
Pengayaan untuk Guru dan Pegawai Putri di Yayasan De Britto: “Menemani Remaja Putra Bertumbuh di Kolese De Britto”
oleh: Dr. Agnes Indar Etikawati M. Si, Psikolog
Sebagai sekolah menengah atas yang homogen, SMA De Britto hanya menerima siswa berjenis kelamin laki-laki. Oleh karena itu para guru dan pegawai, khususnya para guru putri, perlu lebih mengenal dan memahami karakteristik remaja laki-laki agar dapat mendampingi para siswa dalam mengembangkan potensi akademik maupun pribadinya. Berdasarkan keterangan para guru, terdapat setidaknya dua permasalahan menyangkut para siswa laki-laki di SMA De Britto. Pertama, siswa laki-laki memiliki energi yang lebih besar dan cenderung suka berdebat sehingga hal ini sering membuat para guru putri kewalahan. Kedua, para siswa laki-laki kurang memiliki kesadaran dan kepekaan secara emosional sehingga mereka kurang dapat mengungkapkan perasaan dengan cara yang tepat dan sering kurang tepat dalam menanggapi keadaan orang lain.
Menimbang semua permasalah di atas, maka dilaksanakanlah pengayaan berupa psikoedukasi mengenai karakteristik remaja laki-laki berserta keterampilan sosial yang diperlukan oleh seorang guru. Sasaran dari psikoedukasi ini adalah para guru dan pegawai putri di Yayasan De Britto. Tujuan dari dilaksanakannya psikoedukasi ini adalah meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang siswa remaja putra sehingga para guru dan pegawai putri di Yayasan De Britto dapat menunjukkan sikap dan tindakan yang tepat dalam pendampingan atau pelayanan pada siswa remaja putra. Psikoedukasi memuat dua pokok materi yakni mengenai “Karakteristik siswa remaja laki-laki dan Keterampilan sosial guru.”
Psikoedukasi dilaksanakan pada tanggal 11 sampai 12 Oktober 2024 , bertempat di aula pertemuan Kampoeng Media. Di awal hari pertama, peserta diminta untuk membagikan pengalamannya berinteraksi dengan para siswa. Pengalaman ini kemudian dibahas dengan menggunakan materi tentang karakteristik remaja laki-laki Gen Z yang disampaikan oleh Dr. Agnes Indar Etikawati, Psikolog. Setelah lekturet dan tanya jawab terkait materi, peserta diajak untuk berdinamika dalam permainan (games) yang dipandu oleh mahasiswa. Games bertujuan untuk menyadarkan para peserta pada hal-hal penting dalam komunikasi, sebagai persiapan memasuki materi tentang keterampilan sosial khususnya tentang komunikasi. Setelah games, pererta diminta untuk berdiskusi dalam kelompok kecil untuk menyusun rumusan tentang harapan dan action plan dalam mendampingi para siswa. Pada hari kedua, peserta diajak untuk melakukan diskusi kasus yang menyangkut keterampilan sosial seorang guru. Setelah diskusi kasus, materi kembali disampaikan oleh nara sumber yakni mengenai keterampilan sosial guru khususnya terkait aspek komunikasi dan regulasi emosi. Psikoedukasi di hari kedua diakhiri dengan presentasi kelompok mengenai harapan dan action plan.
Kembali
Arsip