Berita

Isu Budaya dalam Penelitian Kualitatif

oleh: Monica E. Madyaningrum, Ph.D.

          Salah satu hal yang mendasari berkembangnya penelitian kualitatif adalah semangat untuk menghasilkan pengetahuan yang bisa dengan lebih detail dan kaya mendeskripsikan pengalaman hidup seseorang dalam konteks sosialnya (Denzin & Lincoln, 2017). Dengan pemahaman semacam ini maka penting bagi seorang peneliti kualitatif untuk memastikan bahwa proses dan hasil penelitian mereka bersifat kontekstual dengan latar belakang atau setting budaya di mana studi dilaksanakan. Apalagi kalau penelitian tersebut dibangun dengan mengacu pada paradigma constructivist. Paradigma ini berpandangan bahwa cara seseorang memaknai dan mendeskripsikan pengalamannya akan selalu dipengaruhi oleh konteks sosial-budaya orang tersebut (Crotty, 1998).

 Lokakarya Metodologi Mix Method dalam Penelitian Kesehatan (LOTUS Institute Yogyakarta), 10 dan 21 November 2021

          Berangkat dari pandangan semacam ini, isu atau faktor budaya telah lama menjadi perhatian dan bahan ulasan dalam berbagai literatur akademis tentang penelitian kualitatif. Salah satu gagasan yang berulangkali digarisbawahi dalam artikel-artikel tersebut adalah pentingnya peneliti kualitatif memiliki kepekaan pada protokol budaya setempat. Gagasan ini meyakini bahwa baik buruk kualitas data yang dihasilkan dalam sebuah penelitian kualitatif juga akan ditentukan oleh seberapa baik pemahaman peneliti atas tatanan dan praktik budaya yang ada dalam komunitas tempat penelitian dilaksanakan (Pelzang & Hutchinson, 2017).
          Mengacu pada pemahaman tentang pentingnya kepekaan budaya dalam praktek penelitian kualitatif, dalam artikel ini penulis akan mengulas soal ‘keterbukaan dua arah’ sebagai salah satu bentuk kepekaan budaya yang penulis pelajari dari pengalaman melakukan penelitian kualitatif di konteks masyarakat Jawa yang berlokasi di Yogyakarta. Secara garis besar, keterbukaan dua arah penulis definisikan sebagai kesediaan peneliti maupun individu yang diteliti untuk saling mengungkapkan diri (Harrison, dkk., 2001). Mengacu pada pengalaman penulis melakukan penelitian kualitatif yang melibatkan studi lapangan selama enam bulan di sejumlah desa di kabupaten Bantul, Yogyakarta, penulis belajar bahwa keterbukaan dua arah menjadi salah satu praktek budaya yang penting untuk diperhatikan agar studi kualitatif yang dilakukan bisa menghasilkan data yang lebih naturalistik dan lebih kaya.
          Dalam literatur penelitian kualitatif telah banyak diulas tentang pentingnya rapport (pendekatan) untuk membangun atmosfer proses pengambilan data yang lebih kondusif. Rapport pada dasarnya adalah proses ketika peneliti berusaha mengembangkan interaksi yang lebih nyaman dan natural dengan individu atau kelompok yang diteliti. Proses rapport biasanya dioperasionalkan dalam bentuk peneliti bersama individu yang diteliti melakukan aktivitas ringan bersama atau percakapan yang tidak harus terkait langsung dengan isu yang akan diteliti. Tujuan utama dari aktivitas-aktivitas tersebut adalah untuk meminimalisir kekakuan atau kecanggungan yang bisa muncul dari rasa terasing satu sama lain, karena kecanggungan semacam ini dapat menghambat munculnya data yang kaya dan natural (King, dkk., 2018)
          Rapport memang telah banyak dibahas dalam literatur akademis tentang penelitian kualitatif. Namun demikian, dalam implementasinya proses rapport cenderung dilihat sebagai aktivitas yang bersifat bersifat satu arah, yaitu lebih banyak difokuskan pada upaya-upaya untuk membuat partisipan penelitian merasa lebih nyaman dan lebih mau membuka diri untuk mengungkapkan hal-hal yang menjadi fokus atau topik penelitian. Padahal, keterbukaan semacam ini juga diperlukan dari pihak peneliti. Dengan kata lain, seringkali dalam studi kualitatif, seorang peneliti meminta partisipasi untuk mau membuka diri dan mengungkapkan banyak hal sementara si peneliti sendiri tidak banyak melakukan pengungkapan diri pada partisipan. Selain membuat relasi penelitian menjadi tidak adil, dalam pengalaman penulis relasi semacam ini juga menghambat munculnya data yang lebih kaya dan naturalistik. Dalam literatur akademis tentang penelitian kualitatif, relasi semacam ini bahkan dipandang sebagai bagian dari praktek penelitian yang kurang etis (Guillemin & Heggen, 2009).
 
Pelatihan Penggunaan Software Pengolahan Data Kualitatif (LOTUS Institute Yogyakarta), 24 – 25 Juni 2022 dan 1 – 2 Juli 2022

          Selama dua tahun berturut-turut yaitu tahun 2021 dan 2022, penulis diundang oleh LOTUS Institute Yogyakarta (LIY) menjadi narasumber kegiatan lokakarya yang mereka adakan secara daring. Hampir 100 partisipan terlibat dalam dua kegiatan tersebut.  Dalam pengalaman penulis, partisipan tampak lebih rileks dan terbuka dalam percakapan, ketika penulis juga mau membuka diri dan ditanyai oleh partisipan. Dalam konteks percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, pertanyaan-pertanyaan yang bagi sebagian kalangan dianggap pribadi (misalnya, sudah menikah atau belum, kalau sudah menikah berapa jumlah anak yang dimiliki, dan sejenisnya) merupakan pertanyaan-pertanyaan yang dianggap wajar untuk ditanyakan dalam rangka seseorang memetakan posisi sosial lawan bicara. Mendapat pertanyaan-pertanyaan semacam ini bisa jadi memunculkan ketidaknyamanan tertentu bagi sebagian orang. Bahkan sangat mungkin pertanyaan-pertanyaan semacam ini dirasakan sebagai pertanyaan yang intrusif. Namun demikian, kalau pertanyaan-pertanyaan tersebut diletakkan dalam konteks percakapan sehari-hari masyarakat Jawa, sangat mungkin lawan bicara yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak bermaksud bersikap intrusif. Pola relasi dan tata linguistik dalam budaya Jawa cenderung bersifat hirarkis. Cara seseorang berelasi dan berkomunikasi satu sama lain seringkali diarahkan oleh posisi sosial seseorang dalam hirarki tersebut. Pengalaman inilah yang menjadi salah satu contoh kecil bagi penulis tentang pentingnya kepekaan pada protokol budaya dalam pelaksanaan studi-studi kualitatif.



Daftar Pustaka

Crotty M. (1998). The foundation of social research: meaning and perspective in the research process. SAGE

Denzin, N. K., & Lincoln, Y. S. (Eds.). (2017). The Sage handbook of qualitative research. SAGE.

Guillemin, M., & Heggen, K. (2009). Rapport and respect: Negotiating ethical relations between researcher and participant. Medicine, Health Care and Philosophy, 12(3), 291-299.

Harrison, J., MacGibbon, L., & Morton, M. (2001). Regimes of trustworthiness in qualitative research: The rigors of reciprocity. Qualitative Inquiry, 7(3), 323-345.

King, N., Horrocks, C., & Brooks, J. (2018). Interviews in qualitative research. SAGE.

Pelzang, R., & Hutchinson, A. M. (2017). Establishing cultural integrity in qualitative research: Reflections from a cross-cultural study. International Journal of Qualitative Methods, 17, 1-9.

  Kembali Arsip