Suatu kali, saya mendengar seorang guru SD kelas 1, mengeluhkan kesulitannya dalam menjalin kedekatan dengan anak didiknya di masa pandemi Covid-19. Begini ungkapan yang sekilas saya dengar dari Bu Menur, “Pandemi ini benar-benar menyusahkan. Saya bingung bagaimana caranya bisa mendekati anak-anak baru melalui media daring. Mereka masih belum kenal saya dan situasinya masih belum memungkinkan untuk saling bertemu.”
Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini membawa banyak persoalan di ranah pendidikan formal. Program belajar dari rumah, yang mau tidak mau harus dilakukan di masa pandemi ini, membuat para guru, anak didik maupun juga orang tua menghadapi berbagai permasalahan. Guru mengalami kesulitan dalam mencari metode pembelajaran yang pas bagi anak didik yang sangat beragam kondisinya. Murid merasa tidak termotivasi mengikuti pembelajaran daring. Sedangkan orang tua tidak kalah pusingnya dalam mencari metode pendampingan yang sesuai dengan kondisi keluarga.
Salah satu permasalahan yang terjadi dalam situasi belajar dari rumah adalah ketiadaan interaksi tatap muka secara langsung antara anak didik dan guru. Anak didik dan guru tidak dimungkinkan lagi untuk bertemu dalam satu ruang yang sama. Interaksi antara anak didik dengan guru sekarang dilakukan tidak secara langsung dengan menggunakan berbagai platform teknologi, seperti
whatsapp, google classroom, zoom, dan lain sebagainya.

Sumber : Ilustrasi diambil dari pelangikasih.or.id
Minimnya interaksi antara guru dan anak didik secara langsung ini, salah satunya mengakibatkan berkurangnya ikatan emosional / kedekatan antara anak didik dengan sekolah dan guru. Anak didik tidak bersemangat saat mengerjakan tugas sekolah. Anak didik juga tidak menikmati bertemu tatap muka secara tidak langsung melalui media daring,
Ikatan emosional atau kedekatan antara anak didik dan guru adalah hal penting untuk dibangun, terutama pada anak didik-anak didik baru. Ikatan emosional yang erat antara anak didik dengan guru akan sangat mendukung proses pembelajaran dari rumah saat ini. Anak didik akan lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan pembelajaran, dan lebih dapat menikmatinya.
Salah satu cara yang dapat dilakukan guru untuk membangun kedekatan dengan anak didik di tingkat sekolah dasar adalah dengan membacakan cerita. Melalui kegiatan ini, guru mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan anak didik menggunakan materi yang menyenangkan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan guru dalam merancang kegiatan ini. Pertama, kenali rentang perhatian anak didik. Anak didik perlu memberikan perhatian yang cukup agar bisa mendengarkan cerita dengan baik. Dengan mengenali rentang perhatian anak didik, guru dapat mengatur durasi kegiatan ini agar sesuai dengan kondisi anak.
Kedua, kenali kemampuan berbahasa anak. Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengenali kemampuan berbahasa anak adalah dengan mendengarkan seberapa panjang anak didik dapat menyampaikan gagasannya. Guru dapat menghitung berapa kata yang umumnya anak didik gunakan dalam satu kalimatnya. Pengenalan kemampuan berbahasa anak ini dibutuhkan dalam mencari buku cerita yang sesuai. Jangan pilih buku cerita yang panjang kalimatnya jauh melebihi kemampuan anak.
Ketiga, kenali minat dan keseharian anak. Guru perlu mengenali minat anak agar dapat memilih tema cerita yang dekat dengan minat ataupun kondisi anak didik ehari-hari. Cerita dengan tema yang familiar dengan anak didik, terutama anak-anak SD kelas rendah akan membuat mereka mudah larut dalam jalinan cerita.
Agar kegiatan membaca cerita ini menjadi lebih menyenangkan, saat membacakan cerita, guru perlu melakukan hal-hal berikut ini:
1. Menggunakan intonasi yang bervariasi dan artikulasi yang jelas.
2. Menunjukkan ekspresi wajah dan bahasa tubuh sesuai isi cerita.
3. Menunjukkan gambar yang relevan dengan isi cerita.
4. Memberikan pertanyaan untuk memprediksi cerita selanjutnya (misal: kira-kira setelah ini apa yang terjadi?)
Penting untuk memperhatikan ekspresi dan respon anak didik selama kegiatan membacakan cerita ini. Informasi mengenai ekspresi dan respon anak didik akan menjadi bahan evaluasi bagi guru untuk kemudian dapat memperbaiki kegiatan ini.