Artikel Populer
18/09/2026
Apakah kita sudah berperilaku aman saat berkendara?
oleh: Diana Permatasari S. Psi. M. Sc.
Kecelakaan lalu lintas merupakan masalah yang tidak ada hanya di Indonesia tetapi juga di seluaruh dunia. Menurut data dari website WHO (World Organization Organization) Sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas jalan. Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab utama kematian bagi anak-anak dan kaum muda berusia 5–29 tahun.Sebanyak 92% kematian akibat kecelakaan lalu lintas di dunia terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun negara-negara tersebut memiliki sekitar 60% dari total kendaraan di dunia.
Beberapa penyebab dari kecelakaan lalu lintas antara lain:
1. Infrastruktur jalan yang kurang baik
Infrastruktur jalan misalnya saja Kondisi jalan yang berlubang dan tidak diperbaiki, lampu jalan yang kurang terang.
2. Kendaraan yang bermasalah
Kendaraan yang aman memainkan peran krusial dalam mencegah kecelakaan dan mengurangi kemungkinan terjadinya cedera serius. Misalnya pembatasan usia kendaraan yang layak jalan.
3. Hukum yang tidak tegas
Aturan lalu lintas terkait mengemudi dalam keadaan mabuk, penggunaan sabuk pengaman, batas kecepatan, helm, dan perangkat keselamatan anak tidak ditegakkan, aturan-aturan tersebut tidak akan mampu mewujudkan penurunan yang diharapkan dalam jumlah kematian dan cedera akibat kecelakaan lalu lintas.
4. Perilaku individu dalam berkendara
Penyebab ini merupakan penyebab yang paling besar dalam terjadinya kasus kecelakaan dalam berlalu lintas.
Perilaku berkendara adalah cara pengemudi bertindak saat mengemudi dalam situasi lalu lintas nyata dengan kendaraan, kondisi jalan, dan kondisi lingkungan tertentu. Menurut Sullman (2006) Perilaku berkendara adalah tindakan nyata yang ditunjukkan pengemudi di jalan raya yang dipengaruhi oleh faktor internal (seperti emosi, sikap, dan tingkat stres) serta faktor eksternal (kondisi lalu lintas dan lingkungan jalan). Tanpa disadari, perilaku berkendara merupakan perilaku yang kompleks. Pengendara di saat bersamaan perlu mengendalikan diri serta memberikan perhatian pada situasi sekitar serta memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat dalam merespon situasi yang berubah-ubah. Beberapa faktor yang mempengaruhi pengendara dalam berkendara antara lain: (1) Pengetahuan dalam berkendara, (2) Pengalaman, (3) Kondisi fisik (kemampuan berespon, panca indra dalam menangkap informasi, serta kelelahan), (4) kebiasaan dalam berkendara (driving habits) (5) psikologis pengendara (misalnya usia pengendara, kepribadian seperti kepribadian suka mencari sensasi, pemarah, pencemas dll)
Menurut riset terdapat beberapa tipe orang dalam berkendara:
1. Perilaku mengemudi agresif
Perilaku berkendara agresif memiliki intensi untuk melukai atau mencelakai pengguna jalan lain secara fisik maupun psikologis. Contoh perilaku mengemudi agresif yang umum meliputi menyalakan lampu (menyorotkan lampu) ke arah pengemudi lain, meneriaki pengemudi lain, memotong jalur kendaraan lain, dan bahkan menabrakkan kendaraan ke kendaraan lain.
2. Perilaku mengemudi berisiko
Perilaku mengemudi yang berisiko—yang tidak disertai niat mencelakai orang lain—semata-mata melibatkan motif egois pengemudi, seperti memenuhi keinginan sesaat (misalnya: Membuka HP, saat HP berbunyi berkendara, berhenti atau belok mendadak karena tiba-tiba ingin berhenti), mencari sensasi seperti perilaku seperti memacu kendaraan dengan kecepatan sangat tinggi atau mengendarai kecepatan sangat rendah, membuntuti kendaraan di depan terlalu dekat (*tailgating*), menerobos lampu merah, sering berpindah lajur, tidak mengenakan sabuk pengaman, serta mengemudi dalam keadaan mabuk.
3. Perilaku mengemudi yang aman (positif)
Perilaku mengemudi yang aman untuk menjaga lingkungan lalu lintas atau pengguna jalan lain, serta untuk membantu dan bersikap sopan. Berbeda dengan perilaku mengemudi yang agresif dan berisiko. Keamananan diri dan pengguna lalu lintas lain adalah yang utama, aturan lalu lintas, regulasi, dan aspek keselamatan bukanlah pertimbangan utama dalam perilaku mengemudi yang positif; sebaliknya, perilaku ini lebih berfokus pada lingkungan lalu lintas dan pengemudi lain guna mendukung kelancaran berkendara serta memperbaiki kondisi lalu lintas.
Berkendara aman di lalu lintas merupakan PR dari lapisan individual hingga pemerintah. Beberapa intervensi yang telah dilakukan antara lain: kampanye kesadaran berkendara yang aman, kursus mengemudi untuk peningkatan keterampilan, serta sistem pemantauan di dalam kendaraan sebagai langkah keselamatan. Lalu bagi pengendara yang masih di usia muda (<18 tahun), adanya hukuman tidak hanya bagi pelaku tetapi juga bagi orang tua. Namun begitu, berperilaku aman saat berkendara merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing. Berikut adalah tips yang bisa dilakukan supaya berkendara aman: (1) Pastikan fisik yang baik dalam berkendara, (2) Persiapkan juga kendaraan dalam kondisi yang baik, (3) Mindfulness/ kesadaran dalam berkendara supaya dapat fokus, tenang, dan konsentrasi. Berdasarkan hasil-hasil riset mindfulness dapat mengurangi keinginan mengekspresikan rasa marah, kecemasan, agresifitas dalam berkendara. Maksud dari kesadaran dalam berkendara yaitu here and now (hadir sepenuhnya) dan paham risiko saat berada di lalu lintas.
Ilustrasi: Magnific
Kembali
Arsip