“Pilih si X aja buat jualan keliling kampus. Lumayan nambah dana usaha program kita. Tinggal suruh dia senyum-senyum centil ke kakak tingkat, pasti jualannya laku banget”.
Wajarkah kita marah jika ada orang lain yang bercanda tentang tubuh? Pertanyaan ini membuat kita bingung bagaimana sebaiknya merespon ujaran-ujaran fisik yang memiliki arti merendahkan salah satu pihak. Ada dua pendapat ekstrim berbeda. Di satu pihak marah karena merasa dilecehkan, sementara pihak lain justru menyasar reaksi para pengkritik yang dianggap berlebihan, terlalu sensitif, dan tidak bisa menangkap guyonan.
Perbedaan pendapat ini bukan sekedar perbedaan selera humor, tapi manifestasi dari seksisme. Seksisme adalah nilai, sikap, dan perilaku yang membatasi, merendahkan, dan menghakimi orang lain hanya karena jenis kelaminnya. Seksisme tidak hanya menimpa perempuan yang tubuhnya kerap jadi objektifikasi, tapi juga laki-laki terkait dengan bagaimana perilaku ideal laki-laki.
Seksisme terwujud dalam berbagai bentuk normalisasi yang timpang. Misalnya menilai hasrat seksual laki-laki sebagai kodrat sehingga “sudah sewajarnya” pikirannya selalu terkait seksualitas, mereduksi prestasi perempuan karena fisiknya, laki-laki pantang meluapkan emosi, bahkan anggapan laki-laki yang mengerjakan tugas domestik termasuk sebagai golongan laki-laki takut istri.
Perilaku seksis sebetulnya adalah salah satu bentuk dari kekerasan simbolik. Gagasan ini dikemukakan oleh Pierre Bourdieu. Kekerasan simbolik terjadi secara halus karena memengaruhi cara kita berpikir melalui kebiasaan sehari-hari. Cirinya adalah pihak yang punya kuasa merasa berhak merendahkan dan menghakimi pihak lain, sementara pihak yang didominasi mewajarkan perilaku pihak yang berkuasa. Akibatnya kedua belah pihak merasa baik-baik saja hidup di dalam sistem yang tidak adil, karena sudah terbiasa. Pewajaran perilaku seksis membentuk skema berpikir untuk memaklumi pelecehan di ranah publik. Pewajaran bahasan tubuh membuat individu memandang diri atau pihak lain sebagai objek untuk dinilai. Bukan subjek yang berdaulat.
Ada beberapa gagasan yang dapat dilakukan untuk memutus budaya perilaku seksis.
Pertama, sadari terlebih dahulu apakah kita melakukan perilaku seksis atau tidak? Jika ternyata kita masih punya sikap seksis, sadari dan lakukan perubahan dengan landasan menghargai martabat manusia.
Kedua, mulai tegas menolak semua bentuk perilaku seksis. Jika kondisinya tidak memungkinkan untuk melakukan perlawanan frontal, Anda dapat segera menjauh dari pelontar ujaran seksis. Jika Anda berdaya melawan, sampaikan dengan tegas bahwa Anda menolak semua jenis obrolan dan candaan yang merendahkan. Sadari kemungkinan reaksi Anda dicap baperan. Namun Anda perlu yakin bahwa mengubah kebiasaan butuh keteguhan hati dan upaya panjang.
Ketiga, ciptakan budaya relasi aman. Berhenti menghina orang lain karena jenis kelamin, tubuh, pakaian, atau pilihan hidup seseorang. Pandang manusia sebagai subjek yang berdaulat. “Perlakukanlah orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan”.
Ilustrasi: pinterest