Artikel Populer
20/04/2026
Mengapa dunia kerja mengagetkan? Mahasiswa, siapkah bekerja?
oleh: Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si
Kecemasan mahasiswa memasuki dunia kerja
Kecemasan saat memasuki dunia kerja adalah hal yang umum pada rentang usia 18-25 tahun, yaitu pada fase Emerging adulthood. Menurut Jeffret Arnett, pencetus konsep tersebut, remaja pada fase ini sedang merasakan eksplorasi identitas diri, ketidakpastian, fokus pada diri sendiri, dan perasaan “di antara”. Hal tersebut menyebabkan perasaan cemas, karena mahasiswa ingin merasakan hal baru, tetapi ada ketidakpastian yang muncul dalam hidup mereka. Terutama pada masa kini yang dirasakan oleh Gen Z, dimana kompetisi dalam pekerjaan semakin ketat karena keterbatasan lapangan pekerjaan dan ekspektasi tinggi terhadap pekerjaan yang memperkuat perasaan cemas. Namun, perlu diketahui bahwa ketidakpastian dan perasaan cemas ini adalah hal yang umum untuk dialami oleh semua mahasiswa pada rentang umur tersebut sebagai tugas perkembangannya. Masa peralihan dari kuliah ke pekerjaan menuntut kemandirian penuh dan tanggung jawab. Hal ini sering memicu quarter-life crisis, yang mana individu merasa cemas mengenai arah hidup, pilihan karier, dan pencapaian dibandingkan orang lain.
Mempersiapkan diri sebagai Gen Z emerging adulthood memasuki dunia kerja
Gen Z dalam fase emerging adulthood dapat mempersiapkan beberapa hal sebelum memasuki dunia kerja.
-
Kesiapan psikologis. Menyiasati persaingan kerja, Gen Z harus selalu siap dalam menghadapi perubahan, tantangan, dan tuntutan sepanjang perjalanan karir, dan menganggap setiap perubahan maupun tantangan sebagai sarana untuk pengembangan diri. Sehingga jika tidak tahan dengan suatu pekerjaan tidak mudah untuk berhenti dan pindah pekerjaan, karena dengan mencoba memahami situasi yang dialami maka proses pengembangan diri terjadi.
-
Kesiapan kompetensi. Hal yang membedakan setiap mahasiswa adalah kompetensi, baik hard skill maupun soft skill seperti komunikasi, problem solving, critical thinking, dst. Mahasiswa harus bertanya kepada diri sendiri kompetensi apa yang sudah dimiliki saat ini dan apa yang dapat dikembangkan.
-
Kesiapan menemukan makna kerja. Gen Z perlu memahami bahwa pekerjaan tidak selalu ideal sesuai dengan apa yang mereka mimpikan. Pekerjaan, terutama pada masa awal bekerja, merupakan fase belajar dan pendukung proses belajar, bertumbuh, dan bertahan. Jika Gen Z tetap memiliki kepercayaan pekerjaan harus ideal, maka masa awal melakukan pekerjaan akan terasa berat karena adanya kesenjangan harapan dan realita yang kemudian dapat memicu kecemasan, keinginan berhenti, dan merasa salah pilihan hidup.
Cara agar tidak overthinking memikirkan masa depan
Kecemasan muncul karena seseorang rentan membandingkan diri sendiri dan terlalu fokus pada tujuan, sehingga perlu mengubah pola pikir untuk tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain dan selalu fokus pada progress, bukan tujuan. Pekerjaan pertama adalah tempat untuk belajar dan berkembang, bukan tujuan. Jika sudah mendapatkan pekerjaan dan merasa tidak sesuai maka kita perlu refleksi apakah hal tersebut dikarenakan kita masih di fase adaptasi atau benar-benar tidak cocok dengan diri kita? Pikirkan pelajaran dan skill baru apa yang dapat dibawa untuk masa mendatang, sehingga saat resign nantinya, setidaknya kita sudah mendapatkan ilmu dan pengembangan diri.
Peran sebagai orang tua mendampingi anak dalam fase emerging adult
Orang tua perlu memberikan pendampingan secara tepat dengan memberikan support dan bukan pressure, dengarkan anak tanpa membandingkan. Kemudian memberikan validasi bahwa perasaan cemas yang dirasakan adalah hal yang wajar dirasakan, dan selalu membantu anak untuk eksplorasi dan bukan menentukan pilihan.
Illustrasi: Freepik
Kembali
Arsip