Artikel Populer
22/01/2026

Fenomena Rendahnya Motivasi Belajar STEM Khususnya Matematika di Indonesia: Peran Pengajar dalam Mengatasi Tantangan Pendidikan

oleh: Kafka Ridho Ramadhan

   Berdasarkan hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia menempati peringkat 68 dari 80 negara di dunia terkait STEM (Sains, Technology, Engineering, and Mathematics) khususnya kemampuan matematika di Indonesia pada tahun 2022. Pada tahun sebelum-sebelumnya terkhusus untuk kategori matematika, Indonesia memperoleh skor 387 di tahun 2015 dan skor 379 di tahun 2018 dengan peringkat 7 dari bawah (73). Untuk kategori kinerja sains, Indonesia memperoleh skor 403 di tahun 2015 dan skor 396 di tahun 2018 dengan peringkat 9 dari bawah alias peringkat 71 (Tohir, 2019). Hasil PISA yang dikemukakan tersebut dapat menjadi motivasi bagi para guru di Indonesia untuk lebih bekerja keras dalam mempersiapkan siswa yang lebih berkualitas. Guru masih dominan memberikan pembelajaran hanya pada penguasaan konten saja. Hal ini menjadikan siswa paham pada konten namun tidak memiliki keterampilan dalam penerapannya terutama untuk memecahkan masalah. Pembelajaran yang hanya sekedar penguasaan konten tidak dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa bahkan merasa bosan dan tidak tertarik karena hanya terus menerus belajar teori. Sering muncul pertanyaan siswa mengenai untuk apa materi pelajaran itu dipelajari. Pertanyaan tersebut bisa menjadi dasar bagi guru untuk membuat rencana pembelajaran yang lebih inovatif yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan motivasi belajar siswa. Selain mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, menjadikan pembelajaran di sekolah lebih bermakna merupakan hal yang penting untuk menumbuhkann motivasi belajar siswa.
   Pada kenyataannya motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika masih tergolong rendah. Berdasarkan penelitian Kurniati (2022) menyatakan bahwa motivasi belajar siswa yang rendah dapat dilihat dari siswa yang kurang antusias dalam mengikuti pelajaran, dimana masih ada siswa yang bermain sendiri, serta tidak memperhatikan guru saat menjelaskan di dalam kelas. Lestari (2015) dalam penelitiannya menyatakan bahwa motivasi belajar siswa pada mata pelajaran matematika dengan nilai 50,95% berada pada kategori rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kurangnya ketekunan dalam belajar, kurang senang untuk bekerja mandiri, kurangnya minat dan ketajaman perhatian dalam belajar, prestasi dalam belajaryang rendah. Maka dari itu perlu dilakukan perbaikan untuk meningkatkan motivasi siswa, karena jika tidak dilakukan perbaikan dapat menyebabkan menurunnya prestasi belajar siswa. Hal ini sejalan dengan pendapat Saeed dan Zyngier (2012), yang menyatakan bahwa motivasi belajar menjadi syarat dan elemen yang diperlukan dalam kegiatan belajar. Hasil penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar mereka. Hal ini menyebabkan siswa lebih bersemangat menyelesaikan tugas yang diberikan meskipun sulit.

   Motivasi memberikan semangat seorang pelajar dalam melakukan kegiatan belajarnya (See & Novianti, 2020.) Maka dari itu, kita perlu melakukan penerapan atau pendekatan STEM yang mampu membuat siswa-siswi merasa senang dan memiliki curiousity atau motivation yang besar, serta STEM memiliki hasil yang sangat luar biasa untuk mengembangkan critical thinking, collaboration, creative thinking, dan juga communicative, menurut Eagan et al. (2013). Dari pernyataan ini sudah jelas bahwa pendekatan STEM yang diimplementasikan pada kebutuhan pendidikan di Indonesia sangat bagus dan menginput hasil yang sangat luar biasa. Matematika pada saat ini sangat penting selain untuk meningkatkan logika bisa juga untuk meningkatkan kemampuan tahan banting siswa-siswi, yaitu dengan menggunakan teknik Scratch yang diterapkan di matematika khususnya geometri agar mereka (para pembelajar) bisa memahami dengan tepat dan cepat.

   Maka dari itu perlu metode khusus agar pembelajar tidak mudah untuk takut atau membuat stigma negatif terhadap ‘matematika’, metode ini atau teknik ini diberi nama Teknik Scratch (Matematika) yang dikembangkan oleh Lifelong Kindergarten research group di MIT (Massauchusetts Institute of Technology), ialah sebuah teknik atau metode pemrosesan visual dengan drag and drop methode seperti bermain serta menyusun rangkaian puzzle yang diterapkan pada bidang Matematika khususnya geometry. Integrasi bidang ilmu engineering dan technology dalam STEM pada pembelajaran transformasi geometri yaitu membuat rancangan percobaan menggunakan scratch kemudian mempraktikannya untuk menemukan sebuah konsep transformasi geometri. Selain itu siswa juga dapat mengeksplor kemampuannya dengan menggunakan konsep dari transformasi geometri untuk membuat sebuah rancangan yang memvisualisasikan konsep tranfsomasi geometri atau bahkan siswa dapat membuat sebuah rancangan minigamesataupun animasi lainnya. Dengan pendekatan STEM berbantuan scratch yang diaplikasikan pada materi transformasi geometri dapat membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dengan harapan motivasi belajar matematika siswa dapat meningkat lebih baik.

   Hasilnya siswa mulai memahami jalannya proses pembelajaran. Dorongan dan semangat belajar siswa dengan adanya pemberian proyek yang harus dikerjakan siswa secara berkelompok. Guru mulai menggiring siswa untuk dapat menyelesaikan proyek tepat waktu dan menjanjikan penghargaan bagi proyek siswa yang dianggap paling baik. Ini berkorelasi dengan teori Martin Seligman. Langkah tersebut memicu harapan siswa untuk berusaha lebih keras belajar. Siswa tidak merasa bosan karena tugas yang diberikan tidak hanya sekedar menghitung melainkan merakit alat tertentu dan memanfaatkannya dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Artinya motivasi belajar siswa meningkat dalam kategori sedang. Kemudian, motivasi muncul karena adanya daya dorong dari internal atau eksternal seperti feedback positif yang diberikan oleh guru untuk murid agar tidak gampang ‘demotivated’ serta peran teman sebaya juga sangat penting untuk mendukung daya juang yang individu miliki dan menjadi support system yang baik bagi internal individu tersebut.

   See & Novianti (2020) mengatakan bahwa motivasi dapat muncul dalam diri seseorang apabila ada stimulasi dari luar walaupun pada dasarnya motivasi berasal dari dalam diri yang dapat kita lihat dalam bentuk aktivitas, dari pernyataan ini artinya bahwa jika motivasi sudah muncul tetapi individu tidak bergerak atau tidak menunjukkan aksi nyata, artinya sama saja individu mengalami ‘demotivated’. Komitmen terhadap tujuan atau goals sangat menentukan motivasi serta performa siswa-siswi. Motivasi tidak mengenal realitas, motivasi hanya mengenal aksi. Kemudian menurut Vygotsky, diri sendiri adalah kunci untuk menjadi manusia yang penuh. Umur 18 tahun, rata-rata manusia mengalami kebingungan identitas menurut Erik-Erikson. Oleh karena itu ini adalah tugas guru di sekolah agar mereka mampu membentuk diri sepenuhnya dengan cara memberikan wawasan yang mampu mendorong pemikiran siswa-siswi untuk terus tumbuh sebagaimana mestinya, serta memberikan pemahaman bahwa belajarlah untuk memenuhi kebutuhan standar diri sendiri bukan untuk orang lain, dan yang sangat penting adalah feedback is the key atau feedback adalah kunci utama dari keberhasilan siswa-siswi, tentunya feedback positif. Jika guru menyinggung keberhasilan sebelumnya yang dialami oleh murid, murid akan lebih terpacu daya juang hingga motivasinya. Selain itu, guru jangan selalu membuat stigma bahwa ‘anak yang pandai matematika adalah anak yang pintar dan pantas untuk terus disokong’, statement tersebut membuat siswa-siswi merasa minder dan otomatis membuat alam bawah sadar mereka mulai terbentuk secara negatif ketika mendengar kata ‘matematika’. Hal ini memang sangat kompleks bagi guru. Guru harus bisa memahami bahwa kemampuan setiap kognitif siswa-siswi berbeda-beda dan inilah tantangan sesungguhnya yang akan dialami oleh guru. Pertama, guru harus bisa memahami bahwa disini kita belajar bersama serta tekankan jika mereka mengalami kebingungan tentang materi yang diberikan oleh guru, guru wajib memberikan kesempatan bertanya kepada murid. Kedua, guru harus bisa memberikan feedback positif untuk hal apa saja entah murid melakukan kegagalan ataupun keberhasilan, tetap memberikan feedback positif untuk menumbuhkan motivasi yang ada dan terus bertumbuh di diri siswa-siswi.

   Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan antusiasmenya dalam melakukan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu (Instrinsic Motivation) atau dari luar individu (Ekstrinsic Motivation). Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja, maupun dalam kehidupan lainnya. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang. Dalam konteks studi psikologi, Sondang dan Makmun (2004) mengemukakan bahwa untuk memahami motivasi individu dapat dilihat dari beberapa indikator, di antaranya yaitu durasi kegiatan; frekuensi kegiatan; persistensi pada kegi- atan; ketabahan, keuletan, kemampuan dalam mengahadapi rintangan dan kesulitan; devosi dan pengorbanan untuk mencapai tujuan; tingkat aspirasi yang hendak dicapai dengan kegiatan yang dilakukan; tingkat kualifikasi prestasi atau produk (output) yang dicapai dari kegiatan yang dilakukan; dan arah sikap terhadap sasaran.

Menurut Sardiman (2001) terdapat dua macam motivasi belajar sebagaimana berikut.
  1. Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif dan berfungsinya tanpa harus dirangsang dari luar, karena di dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melaksanakan sesuatu. Apabila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik maka secara sadar akan melakukan kegiatan dalam belajar dan selalu ingin maju sehingga tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Hal ini dilatar- belakangi keinginan positif bahwa yang akan dipelajari akan berguna di masa yang akan datang
  2. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya karena ada perangsang dari luar. Motivasi dikatakan ekstrinsik apabila peserta didik menempatkan tujuan belajarnya di luar faktor-faktor situasi belajar. Berbagai macam cara dapat dilakukan agar siswa termotivasi untuk belajar.
   Kemudian terdapat teori motivasi yang dikembangkan oleh Maslow (2006) pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti rasa lapar, haus, istirahat dan seks; kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual; kebutuhan akan kasih sayang (love needs); kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

   Fenomena rendahnya motivasi belajar matematika di Indonesia tidak hanya disebabkan oleh faktor kognitif, tetapi juga kondisi psikologis, pedagogi, dan strategi pembelajaran yang digunakan guru. Data PISA menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran yang hanya berfokus pada konten atau penghafalan tentang suatu materi serta konsep tidak lagi relevan dengan kebutuhan siswa abad ke-21. Penerapan STEM berbantuan metode Scratch terbukti membantu meningkatkan minat, kreativitas, dan pemahaman konsep matematis siswa. Lebih jauh, motivasi belajar akan tumbuh ketika guru mampu memberikan umpan balik positif (positive feedback), memahami kebutuhan psikologis siswa, dan menciptakan lingkungan belajar yang aman serta suportif. Dengan demikian, peningkatan kualitas guru menjadi kunci dalam membangun generasi pembelajar yang kompeten dan berdaya saing global.

Daftar Pustaka:
Herwati, dkk. Motivasi Dalam Pendidikan: Konsep, Teori, Aplikasi / Penulis, Herwati, dkk; editor, Ira Atika Putri. -- Malang: PT. Literasi Nusantara Abadi Grup, 2023.

Ma’wa, A. J., Toto., & Kustiawan, A. (2022). Pengaruh model pjbl-stem dalam pembelajaran ipa pada materi bioteknologi terhadap motivasi belajar siswa. J-KIP (Jurnal Keguruan dan Ilmu Pendidikan). 3(1), 307-314.

Nikmah, M. ., Yudiyanto, Y., Wahyuni, S., & Ikashaum, F. (2022). Motivasi Belajar Matematika Siswa Saat Pembelajaran Daring. Kognitif: Jurnal Riset HOTS Pendidikan Matematika, 2(1), 19–25. https://doi.org/10.51574/kognitif.v2i1.416

Setiawati, D. A. O., Suweken, G. ., & Suparta, I. N. . (2025). Pengembangan Modul Pembelajaran Transformasi Geometri Dengan Pendekatan Science, Technology,
Engineering, and Mathematics Berbantuan Scratch Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Matematika Siswa. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6(4), 1945–1965. https://doi.org/10.59141/japendi.v6i4.7681

Sumanti, V., Amprasto, A., & Suhandoko, A. D. J. . (2025). Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis STEM - Project Based Learning Untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kritis Dan Keterampilan Kolaborasi Siswa SD. Jurnal Pendidikan Indonesia, 6(1), 130–155. https://doi.org/10.59141/japendi.v6i1.6665


Illustrasi: Freepik

  Kembali Arsip