Artikel Populer
22/01/2026
Oversharing (Pengungkapan Diri yang berlebihan di media sosial)
oleh: Sylvia Carolina M. Y. M. M. Si
Pengungkapan diri atau self disclosure menurut Wheeless dan Grotz (1976) adalah pesan atau informasi tentang diri sendiri yang disampaikan kepada orang lain. Dalam membagikan pesan dan informasi ada prasyarat yang memungkinkan agar penyampaian dapat terjadi, yaitu individu mengizinkan dirinya dipahami oleh orang lain, serta percaya bahwa pihak lain berkehendak baik (misalnya tidak menyebarkan permasalahan atau rahasia yang disampaikan). Pengungkapan diri menurut Joseph dan Florea (2019) adalah tindakan sengaja membagikan informasi intim atau pribadi tentang diri sendiri kepada orang lain. Pengungkapan diri merupakan proses membagikan informasi yang sebelumnya tidak diketahui orang lain, berubah menjadi pengetahuan bersama antara dua orang, kelompok, maupun dalam organisasi.
Dalam perkembangan media digital dan terjalinnya komunikasi dengan penggunaan media sosial, pengungkapan diri juga terjadi. Umumnya pengguna media sosial lebih mengenal istilah “oversharing” alih-alih menggunakan istilah pengungkapan diri. Pengertian oversharing adalah bentuk pengungkapan diri yang berlebihan, yang seharusnya ada batasan mana yang pantas atau tidak pantas untuk diceritakan.
Tujuan pengungkapan informasi seseorang tergantung dari konteksnya, dalam suatu kelompok untuk memperkuat rasa percaya anggota kelompok dan identitas kelompok. Dalam suatu pertemanan atau persahabatan, akan berguna untuk meningkatkan rasa percaya, keakraban, dan pengertian satu sama lain.
Menurut Wheeless dan Grotz (1976) ada lima dimensi yang membentuk pengungkapan diri, yaitu:
- Faktor Intensitas, yaitu isi pesan yang disampaikan tergantung pada konteks dan keakraban yang dimiliki antar individu.
- Faktor Kuantitas. Terkait dengan frekuensi dan durasi kemunculan proses pengungkapan diri.
- Valensi adalah proses evaluasi mengenai isi informasi. Evaluasi berdasarkan persepsi yang dimiliki individu. Evaluasi yang dimaksud adalah mengenai pesan yang disampaikan apakah bersifat positif atau negatif.
- Kejujuran adalah mengenai keakuratan atas isi informasi. Proporsi yang sesuai atas kenyataan.
- Kedalaman suatu informasi yang disampaikan.
Berbeda dengan Wheeless dan Grotz, Devito (2019) menjelaskan ada beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya pengungkapan diri, yaitu:
- Besarnya kelompok. Umumnya pengungkapan diri terjadi di kelompok yang lebih kecil.
- Perasaan menyukai. Orang lebih membuka diri pada individu yang disukai, dirasa dekat, dan membuatnya merasa aman.
- Proses dua arah (dyadic). Pengungkapan diri terjadi karena ada pihak yang bersama kita melakukan hal tersebut.
- Kompetensi. Pihak yang melakukan pengungkapan diri dianggap memiliki sikap percaya diri sehingga berani untuk mengungkapkan cerita tentang dirinya.
- Kepribadian. Orang yang ekstrovert cenderung lebih mudah untuk mengungkapkan diri.
- Topik. Individu cenderung lebih membuka diri pada topik yang menarik bagi dirinya
- Jenis kelamin. Jenis kelamin dapat mempengaruhi pengungkapan diri, namun bukan dilihat secara biologis melainkan berdasarkan peran seks/gender. Peran seks biasanya dikenal sebagai maskulin, feminine, androgini atau tak terbedakan. Wanita yang kecenderungannya maskulin kurang terbuka dibandingkan wanita yang feminine.
Pengungkapan diri yang berlebihan di media sosial atau oversharing tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh teori–teori di atas. Oversharing yang terjadi di media sosial bukan mempunyai tujuan utama untuk mempunyai kedekatan dan rasa percaya pada pihak lain, namun lebih untuk menampilkan diri dengan harapan mendapatkan pujian, dalam bentuk banyaknya likes dan followers. Bahkan ketika suatu yang diposting bukan suatu hal yang sebetulnya tidak pantas untuk diceritakan kepada orang lain.
Daftar Pustaka:
DeVito, J.(2019). The Interpersonal Communication Book. McMillan
Joseph, J.J., & Florea, D. (2019), Clinical Topics in Social media. IGI global
Wheeles, L.R. & Grotz, J.(1976) Conceptualization and measurement of reported self disclosure.Conceptualing and Measuring Self Disclosure, 2(³),338-345.
Illustrasi: Freepik
Kembali
Arsip