Artikel Populer
07/10/2025

Mengembangkan Perilaku Altruistik Dalam Kehidupan Sehari-hari

oleh: Diana Permatasari S. Psi. M. Sc.

Tahukah Anda bahwa menurut laporan World Giving Index 2024 dari Charities Aid Foundation (CAF), Indonesia terpilih menjadi negara paling dermawan di dunia, dengan skor mencapai 74 dari 100 poin. Posisi ini berhasil dipertahankan sejak tahun 2017, ketika itu Indonesia pertama kali meraih peringkat pertama dengan merebut posisi Myanmar. Terdapat 3 pertanyaan yang digunakan untuk menghitung World Giving Index dari suatu negara, yakni sebagai berikut (1) Pernahkah kamu mendonasikan uang ke lembaga sosial? (2) Pernahkah kamu membantu orang asing atau seseorang yang tidak kamu kenal yang butuh bantuan? (3) Pernahkah kamu menjadi relawan di sebuah organisasi? (sumber: Goodstats.id)
Bagaimanakah konsep dari perilaku menolong dalam psikologi?

Perilaku menolong itu bisa dijelaskan dengan konsep perilaku prososial dan altruisme. Pertama, Perilaku prososial adalah perilaku menolong yang akibatnya menguntungkan atau bermanfaat bagi orang lain (Staub, 1978; Wispe, 1972). Penekannya pada ”konsekuensi” dari memberikan pertolongan, yakni meringankan atau membebaskan penderitaan orang yang ditolong. Sementara perilaku altruistik merupakan bentuk spesifik dari perilaku prososial. Selain mengandung unsur kesukarelaan dan pengorbanan, perilaku altruistik juga tidak mengharapkan imbalan (Walter & Piliavin, 1972).

Apa sajakah karakteristik dari orang yang memiliki perilaku altruistik?

Beberapa ciri orang berperilaku altruistik yaitu (1)Tanpa Pamrih: Motivasi utama adalah untuk membantu orang lain, bukan untuk mendapatkan keuntungan pribadi. (2) Ketulusan: Tindakan dilakukan secara sukarela dan murni dari keikhlasan. (3) Kepedulian Tinggi: Memperhatikan dan mengutamakan kesejahteraan orang lain. (4) Kebalikan Egoisme: Berbeda dengan egois yang lebih mementingkan diri sendiri.

Apa sajakah faktor yang mempengaruhi orang untuk memiliki perilaku altruistik?

Perilaku altruistik dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor Internal (dari dalam individu) yang meliputi: (1) Empati: Kemampuan untuk merasakan atau memahami perasaan orang lain menjadi pemicu kuat perilaku altruistik, terutama ketika merasakan penderitaan orang lain. (2) Suasana hati: Seseorang dalam suasana hati yang baik (mood positif) cenderung lebih altruistik. (3) Kondisi emosional: Kemampuan untuk mengelola perasaan dan merasakan belas kasih (compassion) dapat mendorong tindakan altruistik. (4) Kepercayaan atau nilai yang diyakini. Faktor kedua yaitu faktor eksternal (dari luar individu) yang meliputi: (1) Kehadiran orang lain: Semakin banyak orang yang ada, semakin kecil kecenderungan seseorang untuk menolong karena adanya penyebaran tanggung jawab (efek bystander). (2) Desakan waktu: Seseorang yang sedang terburu-buru atau memiliki sedikit waktu cenderung kurang bersedia menolong dibandingkan orang yang santai. (3) Norma sosial: Adanya norma masyarakat atau aturan yang mendorong untuk menolong dapat memicu perilaku altruistik. (4) Konformitas/ikut-ikutan. Misal melihat orang lain menolong bisa memicu orang lain untuk ikut menolong

Bagaimana dan kapan mengembangkan perilaku altruistik?

Perilaku altruistik dapat dikembangan dengan mengembangkan faktor-faktor yang berpengaruh yang telah disebutkan di atas, baik secara internal maupun eksternal seperti memberikan contoh nyata, nilai-nilai agama, mengembangkan rasa empati. Perilaku altruistik dapat dikembangan pada anak sejak dini. Berdasarkan hasil riset Balita usia 14-18 bulan menunjukkan perilaku menolong secara spontan seperti menawarkan makanan atau mengambil barang yang terjatuh, bahkan dengan mengorbankan diri sendiri.

Illustrasi: Freepik

  Kembali Arsip