Artikel Populer
05/08/2025

NPD (Narcissistic Personality Disorder): LABEL VS DIAGNOSIS

oleh: Cornelius Siswa Widyatmoko, M.Psi.

Belakangan ini, dalam perbincangan sosial, sering kita dengar seseorang menyatakan bahwa si A atau si B adalah NPD (Narcissistic Personality Disorder). Namun, apakah pernyataan tersebut tepat?
 Pertama-tama perlu kita pahami bahwa NPD adalah istilah teknis dalam dunia Kesehatan Mental. Istilah teknis semacam ini digunakan dalam konteks atau tujuan tertentu, yaitu untuk menyehatkan pasien/klien. Istilah teknis  tersebut digunakan dalam ruang lingkup tertentu sebagai penanda yang presisi terhadap suatu objek, misalnya atap (GRC, gypsum, eternity), bawang (merah, Putih kating, Bombay), garam (garam meja, garam dapur, garam krosok, garam Himalaya), handphone (android, iphone, GSM, BBM), genteng (Kebumen, Godean, pabrikan), keris (luk 3, luk 5, luk 7; tangguh Pajajaran, Majapahit, Mataram, dan seterusnya).

 Dalam komunikasi sehari-hari, kita tidak memerlukan penggunaan istilah sedetail itu, karena keterbatasan pikiran manusia untuk mengklasifikasi objek untuk suatu hal yang tujuannya atau kegunaannya sama. Namun, dalam konteks relasi interpersonal, yang didorong oleh keinginan berkompetisi dan pencarian harga diri, penggunaan istilah teknis ditujukan agar pendengar mempunyai kesan terhadap pembicara, yaitu bahwa si pembicara dipandang kompeten atau mempunyai posisi yang lebih tinggi. Misalnya, jika saya menyebut keris tertentu sesuai kodifikasinya (jumlah luk, jenis Tangguh, jenis pamor, dan sebagainya), maka pendengar akan mempunyai Kesan bahwa saya orang yang kompeten dalam bidang perkerisan.

 Pada umumnya orang yang mengerti setengah-setengah justru ingin dianggap tahu dan suka menggunakan istilah teknis, sementara orang yang sungguh-sungguh tahu akan berusaha menyederhakan istilah yang dipakai.

 Pemberian label diagnosis pada seseorang mempunyai efek. Efek pada reputasi sosial, dapat menjelekkan karakter seseorang. Kemudian, pada pribadi, dapat memberikan efek seperti, menciutkan nyali.

 Maka dari itu, penting bagi pendengar untuk tidak terpancing oleh emosi yang ingin dibawakan oleh pembicara. Emosi tersebut umumnya digunakan supaya pendengar mempunyai kesan tentang pembicara, dan pendengar mempunyai kesan tentang objek atau orang yang dibicarakan.



Ilustrasi sampul: freepik

  Kembali Arsip