Artikel Populer
15/06/2025

Passion or Purpose?

oleh: Agung Santoso, Ph.D.

Passion or Purpose?
Pernahkan anda mendengar anjuran berikut ini: “Follow your passion” atau “Do what you love”? Banyak orang mempercayai anjuran tersebut dan mempraktekannya dengan mencari pekerjaan atau bidang pendidikan yang mereka sukai. Namun demikian, benarkah passion menjadi sesuatu yang harus dikejar dalam menentukan bidang pendidikan atau pekerjaan yang akan digeluti? 
Apa itu Passion?
Passion dapat didefinisikan sebagai perasaan yang kuat untuk meraih pilihan/nilai yang dianggap penting oleh seseorang, yang memunculkan niat dan tindakan untuk mengekspresikan pilihan atau nilai tersebut (Jachimowicz, 2019a). Lebih lanjut, Jachimowicz menjelaskan secara detail elemen-elemen dalam definisi tersebut. “Perasaan yang kuat” menunjukkan bahwa passion merupakan kondisi afektif yang mendalam dan kuat (intense), tetapi tidak harus berupa emosi positif. Passion ini ditunjukan pada target yang mencerminkan nilai-nilai atau pilihan-pilihan yang dianggap penting dan menarik. Passion akan membuat seseorang secara konsisten terlibat, mengalami, serta berinteraksi dengan nilai-nilai atau hal yang dianggapnya penting. De Palma (2020) menemukan empat gambaran akan passion khususnya dalam dunia kerja sebagai ekspresi dari ketertarikan (attraction), kegembiraan (enjoyment), motivasi, dan kegigihan (perseverance).

Persepsi Keliru tentang Passion
Pandangan keliru yang pertama adalah bahwa passion bersifat menetap. Pandangan ini akan membuat kita berpikir bahwa passion harus ditemukan atau muncul begitu saja dalam diri kita, bukan sesuatu yang kita kembangkan dengan sengaja. Pandangan ini dapat membuat seseorang berganti-ganti pekerjaan demi mencari pekerjaan yang “tepat” atau memilih tidak mempelajari hal baru karena, kita tidak punya passion dalam hal atau pekerjaan tersebut (Jachimowicz, 2019b). Lebih jauh, pandangan ini membuat seseorang dapat dengan mudah menyerah mempelajari hal baru karena dirasa sulit serta tidak menyadari bahwa passion juga dapat memudar seiring waktu.
Pandangan keliru yang kedua adalah bahwa mengejar passion diartikan sebagai mengejar apa yang disukai, dan mengaitkan passion dengan mengejar apa yang membuat seseorang senang. Pandangan ini berbeda dengan definisi yang telah dipaparkan sebelumnya yang mengaitkan passion dengan apa yang dinilai penting: kontribusi yang ingin diberikan. Studi yang dilakukan Jachimowicz (2019a) dan O’Keefe, Dweck, dan Walton (2018) menemukan bahwa jika seseorang mengaitkan passion dengan apa yang disukai atau yang membuat senang, maka mereka justru cenderung mengalami kegagalan (dalam 9 bulan ke depan) karena ketika apa yang mereka kerjakan menjadi sulit sehingga tidak lagi menyenangkan, dan mereka akan menganggapnya bukan lagi sebagai passion mereka. Oleh karena itu, passion tidak secara kuat terkait dengan kinerja seseorang. Passion memberikan kinerja yang baik hanya jika diiringi kegigihan untuk mencapai tujuan.
Pandangan keliru ini juga dapat mengakibatkan seseorang yang merasa memiliki passion untuk mengerjakan atau mempelajari sesuatu, tidak memiliki antisipasi akan kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi. Mereka mengharapkan akan senantiasa memiliki motivasi terus-menerus tanpa menyadari bahwa passion dapat memudar (O’Keefe, Dweck, & Walton, 2018).
Passion merupakan ketertarikan yang dapat dikembangkan seiring dengan usaha untuk menguasai suatu keahlian. Pandangan bahwa passion dapat berkembang dapat mendorong seseorang mempelajari hal-hal baru dan tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan kesulitan. Passion perlu dikaitkan dengan tujuan (purpose) dan kebermaknaan, serta perwujudan nilai-nilai yang dianggap penting, sehingga tercapainya tujuan menjadi lebih penting daripada kesenangan yang diperoleh.

Perangkap dalam Obsesi “Mengejar Passion”
Mengejar passion seringkali dianggap sebagai usaha yang dapat dilakukan semua orang. Namun demikian, studi Cech (2021) menunjukkan bahwa orang-orang yang benar-benar dapat mengejar passion cenderung berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas. Mereka yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke atas ini adalah mereka yang dapat ‘menunda’ memperoleh pekerjaan untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan passion mereka atau yang dapat ‘memilih’ bidang minat untuk dipelajari karena, dukungan ekonomi untuk menjalani pendidikan dengan topik yang ‘mahal’.
Passion juga seringkali dimanfaatkan oleh banyak institusi untuk mengaburkan ketidaksetaraan ekonomi (Cech, 2021). Misalnya, salah satu ilustrasi dalam buku Cech menunjukkan bahwa pekerjaan berat yang dilakukan seorang pembuat batu bata, dengan bayaran yang kecil, membuatnya harus bekerja enam belas jam sehari untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarganya. Namun demikian, pekerjaan berat dengan upah kecil ini dipandang oleh seorang dari kelas ekonomi atas sebagai “Oh, he must really love bricks!”, alih-alih memandangnya sebagai adanya penindasan ekonomi pada pembuat batu bata tersebut.
Lebih jauh lagi, passion dituntut oleh para penerima kerja karena ‘ideologi’ tentang kerja seperti itu memberikan manfaat besar bagi pemberi kerja. Mereka seringkali mencari, bahkan secara eksplisit menuntut pelamar kerja memiliki passion dalam bidang kerja yang akan digeluti (Cech, 2021). Riset yang dilakukan oleh Kim, dkk (2019) menunjukkan bahwa passion seringkali digunakan sebagai legitimasi untuk menyuruh karyawan mengerjakan pekerjaan remeh yang tidak ada kaitannya dengan bidang kerja yang digeluti atau meminta mereka bekerja lembur tanpa bayaran. Perlakuan buruk seperti ini dilakukan dengan asumsi bahwa karyawan yang passionate akan dengan sukarela mengerjakan pekerjaan seperti itu dan bahwa pekerjaan merupakan ‘upah’ itu sendiri.
Jebakan lain dalam mengejar passion adalah bahwa orang-orang yang passionate cenderung untuk terlalu percaya diri akan kinerja mereka (Bailey dkk, 2014). Mereka jarang meminta umpan balik dan informasi yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pekerjaan mereka. Dalam jangka panjang, perilaku ini akan membuat mereka lebih sering gagal atau menunjukkan kinerja yang memburuk.

Purpose: Sebuah Alternatif
Tindakan yang didasarkan tujuan memiliki lebih banyak kelebihan dibandingkan tindakan yang didasarkan pada passion. Misalnya, penelitian Yeager dkk (2014) menemukan bahwa siswa-siswa yang memiliki tujuan yang lebih tinggi dari dirinya sendiri (self-transcendent) menunjukkan minat belajar dan perilaku regulasi diri yang lebih baik sehingga meningkatkan prestasi belajar mereka. Lebih jauh, siswa-siswa tersebut cenderung lebih gigih dalam menghadapi kesulitan, dalam proses belajar mereka. Selain itu, beberapa studi menunjukkan pula bahwa tindakan yang didasarkan pada tujuan yang bersifat prososial cenderung meningkatkan motivasi, kinerja dan komitmen (Grant & Shandell, 2022; Soren & Ryff, 2023). Study Soren dan Ryff juga menunjukkan kesejahteraan psikologis dalam jangka waktu lama pada orang-orang yang bertindak berdasarkan tujuan yang berarti.

Rekomendasi
Hindari jebakan passion sebagai alasan atau bahkan tuntutan untuk mengabaikan keadilan, kesetaraan, dan kesejahteraan, baik fisik maupun psikologis. Passion tidak boleh dimaknai sebagai kerja tanpa upah atau penghargaan lain. Upah dan penghargaan dibutuhkan untuk mempertahankan kesejahteraan seseorang agar tetap menghidupi tujuan yang diyakininya, sehingga menjadi bahan bakar bagi menyala-nyalanya passion.
Fokuslah pada menemukan tujuan yang bermakna, yang lebih besar dari diri sendiri, didasarkan pada nilai-nilai yang diyakini benar, atau kontribusi yang dapat diberikan. Penelitian Yeager dkk (2014) misalnya menunjukkan bahwa siswa-siswa yang diminta untuk memikirkan bagaimana materi yang mereka pelajari dapat membuat mereka mampu berkontribusi pada masyarakat, akan membuat mereka lebih gigih ketika mengalami kesulitan dalam belajar. Penelitian ini juga berlaku dalam dunia kerja: ketika seseorang mengetahui bahwa kerja yang dilakukannya dapat membantu orang lain, orang tersebut cenderung akan memiliki kepercayaan diri, kesadaran diri, dan harga diri yang lebih tinggi.
Daripada mencari passion, cobalah untuk meningkatkan ketrampilan dan kompetensi terlebih dahulu, yang didasarkan pada usaha mencapai tujuan yang bermakna. Passion akan muncul mengikuti kegigihan dalam melatih diri dan meningkatkan kompetensi.
Salah satu cara untuk menemukan tujuan atau makna dalam apa yang dikerjakan adalah job/learn crafting. Job/learn crafting adalah usaha untuk secara proaktif memodifikasi tugas-tugas, hubungan antar individu, dan pendekatan-pendekatan dalam bekerja/belajar agar dapat lebih sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini, dan kekuatan-kelemahan diri, misalnya: membangun relasi kerja yang berbeda dengan sejawat, mendefinisikan ulang apa yang membuat pekerjaan mereka bermakna atau berkontribusi pada orang lain, atau mengubah cara mendekati, atau menyelesaikan masalah agar lebih sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini, dan lain-lain.
Cara lain menemukan tujuan adalah dengan secara aktif dan sengaja melakukan refleksi mengenai nilai-nilai utama atau tujuan-tujuan hidup. Menyediakan waktu untuk memikirkan bagaimana pekerjaan yang dilakukan dapat berkontribusi pada kelompok yang lebih luas dari dirinya sendiri, dapat meningkatkan rasa kebermaknaan kerja, dan hidup membuat seseorang lebih tangguh menghadapi hambatan.
Menemukan mentor dan role model juga dapat membantu seseorang terinspirasi dan menemukan tujuan, serta kebermaknaan dalam hidup. Kesempatan untuk berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang inspiratif dalam menemukan tujuan dan kebermaknaan hidup dapat membantu seseorang menjadi model bagi seseorang dalam menjalani hidup yang penuh makna.


Daftar Acuan:
Jachimowicz, J., Guenoun, B., To, C., Menges, J., & Akinola, M. (2017, December 7). Pursuing Passion through Feelings or Values: How Lay Beliefs Guide the Pursuit of Passion. https://doi.org/10.31234/osf.io/qj6y9
Schwartz, C. E., & Sendor, R. M. (1999). Helping others helps oneself: response shift effects in peer support. Social science & medicine, 48(11), 1563-1575.

 

Ilustrasi sampul: freepik

  Kembali Arsip