Artikel Populer
13/05/2025

Budaya Flexing

oleh: Dr. Yohanes Heri Widodo

Flexing dalam bahasa umum disebut dengan perilaku pamer. Orang yang melakukan flexing biasanya memiliki kebutuhan untuk memamerkan hal-hal yang dia pandang bernilai dan berharga serta jarang dimiliki oleh banyak orang. Ada banyak hal yang bisa dipamerkan dalam flexing. Mulai dari hal-hal yang tampak jelas terlihat karena bernilai secara materialistik seperti pamer mobil mahal, rumah mewah, pakaian bagus, hingga pamer pada hal-hal yang bersifat lebih terselubung misalnya kepandaian, kekuasaan, kesalehan, dan sebagainya.

Dalam kehidupan sehari-hari yang terjadi di masyarakat kita, flexing atau perilaku pamer ini tampaknya sudah menjadi sebuah budaya. Berbagai kalangan mulai dari anak-anak hingga usia tua, dari orang yang tergolong kaya bahkan juga mereka yang masuk dalam golongan orang dengan tingkat kesejahteraan menengah ke bawah, tidak luput dari dorongan untuk melakukan flexing ini.

Fenomena yang menarik untuk dilihat saat ini adalah terjadinya pro dan kontra mengenai bisa atau tidaknya diadakan perayaan perpisahan atau wisuda dengan memakan banyak biaya, khususnya di sekolah-sekolah menengah, sekolah dasar, atau bahkan lembaga pra sekolah seperti TK dan PAUD. Mereka yang tidak setuju dengan adanya perayaan yang memakan banyak biaya untuk perpisahan atau wisuda di sekolah-sekolah berpendapat bahwa acara ini bukanlah hal yang substansial dalam sebuah proses pendidikan dan akan membebani orang tua siswa lewat beban finansial yang besar nilainya. Hal ini tampak lebih terasa jika orang tua siswa berasal dari keluarga yang tidak mampu.

Sebaliknya mereka yang mendukung diadakannya acara ini berpendapat bahwa lewat acara ini akan ada momen atau kenangan penting yang terjadi ketika para siswa selesai menempuh pendidikan di sebuah jenjang sekolah. Bagi mereka yang setuju, acara ini juga merupakan sebuah momen ketika mereka bisa menunjukkan siapa dirinya entah lewat prestasi, status, kepopuleran, atau kekayaan yang bisa dilihat lewat pakaian dan aksesoris yang dimiliki. Hal ini tampaknya menjadi sesuatu yang penting tidak hanya bagi siswa tapi bagi orang tua siswa yang memang membutuhkan sebuah momen untuk menunjukkan hal-hal berharga yang dimilikinya.

Apa yang menyebabkan orang melakukan perilaku pamer? Perilaku pamer sebenarnya dilatarbelakangi oleh dorongan dasar untuk mencari pengakuan dari orang lain terhadap apa yang dimiliki dalam kehidupannya. Dorongan untuk mencari pengakuan ini berakar dari perasaan rendah diri atau inferioritas yang dimiliki. Merasa diri menjadi orang yang tidak berharga menimbulkan perasaan yang tidak nyaman dalam diri individu yang mengalaminya. Oleh karenanya, individu kemudian berusaha menghilangkan perasaan tidak nyaman itu dengan meningkatkan harga diri yang dimiliki.

Meningkatkan harga diri merupakan hal wajar yang dilakukan oleh hampir semua orang agar bisa melihat diri dan kehidupannya menjadi lebih positif. Akan tetapi, cara-cara yang dipilih untuk meningkatkan harga diri itu bisa tergolong menjadi cara yang adaptif dan cara yang tidak adaptif. Mereka yang meningkatkan harga diri dengan cara yang adaptif akan berusaha untuk meningkatkan kualitas diri lewat berbagai proses pembelajaran dan menekuni hal-hal yang diperlukan untuk bisa mencapai peningkatan kualitas dirinya. Sebaliknya, mereka yang menggunakan cara-cara yang tidak adaptif untuk meningkatkan kemampuan kualitas dirinya akan berusaha untuk melakukan berbagai perilaku yang tergolong perilaku negatif salah satunya dengan perilaku pamer.

Dengan menunjukkan sesuatu yang dianggap bernilai dan jarang dimiliki oleh orang lain, orang yang melakukan perilaku pamer akan merasa bahwa dirinya berharga dan layak untuk dihargai. Bagi mereka yang melakukan perilaku meningkatkan harga diri terhadap lingkungan mereka secara adaptif cenderung untuk tidak meremehkan dan merendahkan orang lain. Sebaliknya, mereka yang berusaha meningkatkan harga dirinya dengan cara-cara yang tidak adaptif umumnya akan merasa dirinya menjadi berharga dengan membandingkan dirinya dengan orang lain dan melihat orang lain tersebut sebagai pribadi yang lebih tidak berharga.

Perbandingan atau kompetisi yang dilakukan inilah yang menjadi sebuah sisi gelap dari mereka yang berusaha meningkatkan harga dirinya lewat perilaku pamer. Dampak lainnya, mereka yang melakukan perilaku pamer juga akan merasa lebih sensitif terhadap penilaian orang lain. Mereka juga akan menjadi lebih takut karena sebenarnya menyadari bahwa apa yang mereka pamerkan sebenarnya merupakan hal-hal yang bersifat lebih rapuh atau tidak permanen sehingga sewaktu-waktu hal tersebut bisa hilang dari diri mereka. Hal ini tentunya menimbulkan perasaan cemas dan takut akan kehilangan apa yang dianggap berharga tersebut.


Ilustrasi sampul: freepik

  Kembali Arsip