Artikel Populer
16/04/2025

Dahsyatnya Memaafkan

oleh: Dr. A. Tanti Arini M. Si., Psikolog

Memaafkan: mudah diucapkan sulit dilakukan
Manusia dalam membangun hubungan dengan orang lain selalu akan berhadapan dengan risiko disakiti (dan atau menyakiti) orang lain. Ketika kita merasa disakiti oleh orang lain, respon alami kita adalah melawan atau menghindari. Respon tersebut dapat memberikan konsekuensi yang negative untuk kita, untuk hubungan dan bahkan untuk kesehatan masyarakat secara lebih luas. Di situlah budaya memaafkan menjadi sangat penting. Sebagai contoh dalam tradisi lebaran di Indonesia, lebaran menjadi momen untuk saling bermaaf-maafan. Persoalannya memaafkan tidak semudah diucapkan. Selama orang masih terus mengingat kejadian yang membuat sakit hati bahkan menyimpan dendam, perilaku maaf-maafan tidak serta merta yang bersangkutan sudah saling memaafkan.

Memaafkan apakah sama dengan melupakan?
Melupakan merupakan bentuk respon menghindar dari rasa amarah akibat tersakiti. Kenyataannya orang tidak sungguh-sungguh lupa, ketika ingat Kembali kejadian disakiti maka amarah muncul bahkan bisa lebih besar dan menimbulkan rasa dendam. Oleh karena itu, melupakan tidak sama dengan memaafkan. Memaafkan juga tidak sama dengan membenarkan perilaku orang lain yang telah menyakiti kita. Definisi memaafkan menurut APA (American Psychological association) kurang lebih adalah secara sadar kita tidak lagi membenci orang yang telah bertindak salah, tidak adil atau menyakiti atau melukai kita; Memaafkan juga tidak semata menerima apa yang terjadi atau sekedar tidak marah; Memaafkan merupakan transformasi atas dasar kemauan sendiri terhadap perasaan, sikap dan perilaku kita sendiri, sehingga kita tidak lagi didominasi oleh rasa benci dan justru dapat mengekspresikan belas kasih, kebaikan hati pada orang yang telah menyakiti. Berdasar definisi tersebut esensi dari memaafkan adalah berkurangnya dorongan untuk dendam, sebaliknya dorongan untuk berbuat baik pada orang yang menyakiti menjadi meningkat.

Memaafkan diri sendiri
Memaafkan tidak melulu ditujukan pada orang lain yang menyakiti. Memaafkan juga sangat penting ditujukan pada diri sendiri. Memaafkan diri sendiri seringkali lebih sulit. Kebanyakan orang terjebak dengan rasa bersalah yang berlebihan sehingga memicu depresi atau sebaliknya terus mencari pembenaran atas perilaku salah yang pernah terjadi. Memaafkan diri sendiri adalah mengatasi perasaan negative yang dialami karena kesalahan yang secara objektif pernah dilakukan sampai pada proses menerima dan menghargai diri sendiri. Dengan memaafkan orang lebih berbelas kasih pada diri sendiri sehingga bisa berkembang lebih baik. Orang yang dapat memaafkan diri sendiri juga akhirnya lebih mudah untuk memaafkan orang lain.

Efek memaafkan untuk kesehatan mental
Berdasar definsi memaafkan, maka memaafkan adalah isu dalam diri individu. Kemauan orang untuk memaafkan orang yang telah menyakiti dirinya akan menyembuhkan banyak luka selain memperbaiki hubungan. Kita bisa memaafkan orang lain bahkan tanpa harus membangun relasi dengan orang yang telah menyakiti kita. Hasil-hasil penelitian menunjukkan orang yang bisa memaafkan lebih tidak mudah mengalami masalah-masalah psikologis seperti depresi, marah, dan cemas. Selain itu orang yang cenderung bisa memaafkan juga lebih rendah sensitifitas interpersonalnya (misal rasa tidak mampu atau inferior) dan juga lebih tidak mudah terganggu oleh pikiran-pikiran curiga terhadap orang lain.   


Referensi:
Hall. J.H., Fincam, F.D. (2005). Self forgiveness : the stepchild of forgiveness research. Journal of Social and Clinical Psychology, 24 (5) : 621-637
McCullough, M. (2001). Forgiveness: Who doses it and how do they do it. Current direction of psychological science,10 (6): 194-197. 
McCulloough, M.E., Witvliet, C.V.O. (2002)  Psychology of forgivensess. in Snyder, C.R. Lopez, S.J. Handbook of Positive Psychology. Oxford University Press. 

Ilustrasi sampul: freepik

  Kembali Arsip