Artikel Populer
24/03/2025

Zonk tapi Hedon

oleh: Cornelius Siswa Widyatmoko, M.Psi.

Akhir-akhir ini mucul berita tentang sejumlah mahasiswa penerima beasiswa yang ramai diperbincangkan di dunia virtual karena mengekspos gaya hidup yang hedonis. Mengapa mereka berperilaku seperti itu? Apakah tindakan mereka salah?

Apa sebabnya..?

Mengekspos perilaku hedon di media sosial mungkin terjadi karena beberapa hal:

  1. Mengeskpos perilaku hedon secara implisit mau menunjukkan bahwa pelakunya berduit. Orang yang berduit dihargai oleh orang lain. Jadi, dengan memperlihatkan perilaku hedonis, orang tersebut ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain, ingin dianggap “lebih tinggi” dibanding orang lain.
  2. Media sosial adalah platform atau wahana yang diakses oleh banyak orang dewasa ini. Jadi mengeskpos perilaku di media sosial memungkinan didapatkan perhatian dalam jumlah yang berkali-kali lipat dibandingkan dengan perhatian dari circle pergaulan yang kecil.
  3. Materi, sedemikian juga seks, adalah kebutuhan yang ada di tingkat dasar. Jadi, dengan mengekspos kepemilikian materi adalah cara yang biasa dipakai untuk mendapatkan penghargaan yang kuat dan banyak.
Mengekspos perilaku hedon di media sosial =
  1. Ingin dipandang lebih tinggi
  2. Secara kuat
  3. Oleh orang yang jumlahnya banyak
  4. Tanpa fondasi / isi yang kuat
  5. Dalam waktu yang cepat

Jika yang diekspos adalah materi yang didapat dari beasiswa, apakah hal ini adalah hal yang salah?

Mungkin hal itu tidak salah jika: uang yang didapat dari beasiswa digunakan untuk memenuhi kebutuhan kuliah, dan dengan terpenuhi kebutuhan kuliah tersebut, yang bersangkutan mendapat prestasi yang tinggi, lalu dengan prestasi tersebut, yang bersangkutan mendapatkan banyak uang (misalnya mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang besar). Tapi, jika yang bersangkutan sudah memiliki banyak uang, maka sepantasnya ia mengundurkan diri dari program beasiswa karena ada orang lain yang lebih pantas mendapat bantuan.

Jadi mengekspos perilaku hedonistic dari uang beasiswa sebenarnya menunjukkan kekurangmampuan seseorang terhadap kebutuhan orang lain, dan merasa bahwa ia lebih berhak mendapatkan “sesuatu” untuk dirinya sendiri.

Apakah mengkritik orang penerima beasiswa yang mengekspos perilaku hedonisnya di media sosial adalah sikap atau tindakan yang tepat?

Mengkritik, atau ikut mengkritik pelaku hedonis penerima beasiswa, bisa memprovokasi perasaan marah atau benci pada pengkritik. Kemarahan atau kebencian bisa jadi hanya merupakan emosi negative terhadap pelaku, bukan pada tindakan pelaku. Jika ini yang terjadi, maka sebenarnya pengkritik memiliki kualitas batin yang sama dengan yang dikritik, perbedaannya hanya terletak pada situasi yang berbeda: yang dikritik menerima beasiswa,
sementara yang mengkritik tidak menerima beasiswa.

Dengan memahami hal ini, maka pengkritik perlu berhati-hati dengan tindakannya sendiri. Jika ia tidak bisa memisahkan diri dengan emosi marah atau benci pada yang dikritik, maka sebenarnya ia merusak dirinya sendiri.

Ilustrasi: freepik

  Kembali Arsip