Artikel Populer
10/02/2025
Mengupas Tuntas tentang Perilaku Bullying
oleh: Elisabeth Dwi Anggraeni, S.Psi., M.A.
Kejadian bullying memang sering terjadi mulai dari masa SD, dan ada juga kasus-kasus bullying yang terjadi di usia lebih dini seperti di TK atau PAUD. Perilaku bullying merupakan tindakan agresif yang disengaja untuk menyakiti atau mengintimidasi orang lain, baik secara fisik, verbal, maupun sosial. Dari perspektif neuropsikologi, perilaku ini dapat dikaitkan dengan disfungsi di beberapa area otak seperti prefrontal cortex, amygdala, dan hippocampus. Bentuk bullying terdiri dari beberapa jenis yaitu, verbal (menghina, mengejek, atau mengancam), fisik (memukul, menendang, mendorong), sosial (menyebarkan rumor, mengucilkan atau mengabaikan), cyber (menggunakan teknologi untuk mengintimidasi atau melecehkan orang lain).
Pelaku bullying biasanya individu yang memiliki kecenderungan agresif, rendah empati, dan mungkin memiliki gangguan dalam regulasi emosi. Mereka sering kali memiliki sejarah trauma atau pengalaman negatif yang mempengaruhi perkembangan psikologis mereka.
Berikut ini beberapa karakteristik umum dari pelaku bullying adalah:
- Insecure (Merasa tidak aman): Pelaku seringkali memiliki rasa tidak aman terhadap diri mereka sendiri dan mengekspresikan ini melalui perilaku agresif.
- Punya kekuasaan atau pengaruh: Pelaku sering kali adalah siswa yang memiliki kekuasaan atau pengaruh di kalangan teman-temannya.
- Pengalaman trauma: Beberapa pelaku bullying mungkin memiliki latar belakang pengalaman trauma atau kekerasan di rumah.
- Kurangnya empati: Mereka mungkin kesulitan memahami atau peduli dengan perasaan orang lain
Terdapat beberapa alasan mengapa seseorang menjadi pelaku
bullying, antara lain: Pertama, kebutuhan untuk mendominasi. Beberapa pelaku
bullying merasa perlu mendominasi atau mengendalikan orang lain. Lalu, mencari perhatian. Pelaku
bullying sering kali mencari perhatian dari teman sebaya atau ingin dianggap keren. Selanjutnya, kurangnya keterampilan sosial. Mereka mungkin tidak memiliki keterampilan untuk berinteraksi secara positif dengan orang lain. Terakhir adalah pengaruh lingkungan. Lingkungan keluarga atau teman yang kasar bisa mempengaruhi seseorang untuk menjadi pelaku
bullying. Selain beberapa hal itu, pandangan dari Psikologi Kognitif berusaha menjelaskan bagaimana distorsi kognitif dan pola pikir negatif dapat mempengaruhi perilaku
bullying. Misalnya, pelaku mungkin memiliki keyakinan bahwa mereka harus mendominasi orang lain untuk merasa aman atau berharga. Neuropsikologi: menjelaskan bagaimana disfungsi di area otak tertentu dapat mempengaruhi regulasi emosi dan perilaku agresif. Misalnya, hiperaktivitas di amygdala dapat meningkatkan respons agresif, sementara disfungsi di prefrontal cortex dapat mengurangi kemampuan untuk mengendalikan impuls.
Beberapa cara untuk mencegah atau mengantisipasi seseorang menjadi pelaku bullying:
- Edukasi: Memberikan edukasi tentang empati dan dampak negatif dari bullying.
- Pemantauan: Guru dan orang tua perlu aktif memantau perilaku anak-anak merek.
- Komunikasi terbuka: Membuka jalur komunikasi antara anak-anak, guru, dan orang tua untuk mendeteksi tanda-tanda awal bullying.
- Pemberian contoh positif: Orang dewasa harus menjadi contoh positif dalam berinteraksi dan menangani konflik.
- Konseling: Menyediakan akses ke konselor atau psikolog untuk membantu anak-anak yang menunjukkan perilaku agresif.
Kembali
Arsip