Artikel Populer
14/01/2025

Parenting Gen Z

oleh: M. M. Nimas Eki S. Ph.D., Psikolog























Siapa Gen Z? 
Sering disingkat menjadi Gen Z dan dalam bahasa sehari-hari dikenal sebagai Zoomers,adalah mereka yang lahir pada tahun 1995an hingga awal 2000an. Generasi Z adalah generasi pertama yang tumbuh dengan akses internet  dan teknologi digital sejak usia lahir.

Karakter Gen Z
Positif:
  1. Mudah  beradaptasi dengan perkembangan teknologi (digital natives)
  2. Memiliki kreativitas yang tinggi
  3. Memiliki sifat terbuka terhadap hal atau ide-ide baru, karena informasi global mudah diperoleh
  4. Memiliki sikap diri dan toleran terhadap pendapat, keyakinan, dan latar belakang orang lain yang berbeda darinya
  5. Memiliki kesadaran kesehatan mental
  6. Ekspresif. Generasi ini juga dikenal berani menyampaikan pendapat dan tidak segan mengutarakan apa yang dirasakannya.
Negatif:
  1. Cenderung memiliki sikap kurang fokus pada suatu hal, perhatiannya mudah teralihkan
  2. Seringkali terjebak dalam zona nyaman.
  3. Cenderung mencari hal-hal yang praktis dan instan.
  4. Ketrampilan sosial secara rill terbatas.
  5. Ketrampilan pemecahan masalah terba.tas.
  6. Insecure. Kurang tahan terhadap tekanan.
Pola asuh yang sering dipakai oleh orang tua gen Z
  1. Mengambil alih kesulitan yang dihadapi anak.
  2. Kurang komunikasi 2 arah (1. Karena sibuk dan 2. Karena lewat gadget).
  3. Mengandalkan gadget terutama orang tua milenial.
  4. Tidak percaya dengan anak (1. Karena tidak memahami teknologi, 2. Tidak memahami dunia anak).
  5. Dukungan sosial emosi kurang (1. Kurang menyadari isu Kesehatan mental; 2. Sibuk).
Upaya yang perlu dilakukan orang tua:

1. Membangun Mental
  • Mendidik anak agar memiliki mental yang kuat. Kekuatan mental menuntut orang tua untuk melatih  tiga aspek: bagaimana cara anak berpikir, merasa, dan bertindak.
  • Tidak  hanya berfokus pada hardskill , seperti pengetahuan atau keahlian khusus, tetapi bangunkanlah kesadaran bahwa hidup perlu perjuangan, kegagalan tidak harus menghancurkan keseluruhan hidup. Begitu mengalami kegagalan harus bangkit kembali.
  2. Membangun Resiliensi
  • Resiliensi ditandai dengan kemampuan untuk bangkit/melenting dari pengalaman emosional yang negatif dan sangat menekan, akibat adanya peristiwa traumatik atau kesulitan yang signifikan. Ketika remaja memiliki tingkat resiliensi yang tinggi, mereka cenderung mampu mengelola stres dengan lebih baik, mempertahankan sikap mental yang positif, dan mengembangkan keterampilan untuk menemukan solusi kreatif terhadap masalah yang dihadapi ( memiliki koping yg efektif; dan mampu beradaptasi).
3. Berikan kepercayaan kepada anak untuk mengerjakan tanggung jawab yang mampu membuatnya belajar dan meng-upgrade diri, sehingga anak merasa berkontribusi dan merasa berharga.
4. Melatih anak untuk mengambil keputusan.
5. Menyediakan lingkungan tumbuh kembang yang sehat, termasuk di dalamnya menyediakan contoh-contoh baik yang setiap saat dapat diakses oleh anak sebagai rujukannya dalam berperilaku.
6. Menumbuhkan dan terus menguatkan karakter diri anak seperti kemandirian, kematangan emosi, determinasi diri, dan komunikasi.
7. Melatih agar anak mampu mengelola berbagai risiko dalam interaksi sosialnya secara mandiri.
8. Melatih anak berhadapan beragam masalah dan belajar cara pengatasan masalah.

Ilustrasi sampul: freepik

  Kembali Arsip