Artikel Populer
13/01/2025

Resiliensi Generasi Digital

oleh: Dr. A. Tanti Arini M. Si., Psikolog























Generasi digital adalah generasi yang kurang lebih lahir tahun 2002, ketika teknologi informasi berkembang secara masif. Kemajuan teknologi informasi memberikan banyak manfaat antara lain kemudahan dalam mencari informasi, komunikasi, hiburan dan juga membuat kreasi-kreasi audiovisual, dll. Dalam manfaat tersebut juga tersirat banyak ancaman jika anak tidak berada dalam lingkungan yang suportif. Ancaman-ancaman tersebut antara lain terjebak dalam “budaya instan”, menjadi malas berelasi secara nyata dengan orang lain, membandingkan diri dengan orang lain secara negative dan lebih buruk lagi jika menjadi kecanduan internet, kecanduan konten-konten pornografi, atau tidak memperhatikan keamanan diri karena oversharing di media sosial. Hal-hal tersebut menjadi ancaman karena membuat kesehatan baik fisik maupun mental menjadi sangat rapuh sehingga generasi ini sering diberi stigma generasi strawberry, yakni generasi yang terlihat manis di luar tetapi sangat rapuh di dalam.

Kemajuan teknologi yang pesat membuat kebutuhan akan hal tersebut menjadi tak terhindarkan, apalagi setelah pandemi di mana perangkat yang dapat untuk akses Internet sangat dibutuhkan dalam proses-proses pembelajaran di sekolah maupun di kampus. Untuk itu peran aktif dari lingkungan khususnya lingkungan terdekat menjadi penting agar anak tercegah dari hal-hal destruktif dampak dari penggunaan internet secara salah.

Generasi Tangguh (resiliens) bukan generasi rapuh
Menjadi resiliens artinya menjadi tangguh dalam menghadapi berbagai kesulitan. Generasi digital khususnya generasi Z adalah generasi yang memiliki kesadaran akan Kesehatan mental yang tinggi, ketika bekerja mereka sangat menyadari pentingnya work-life balance dibandingkan generasi sebelumnya. Hal ini dapat juga mencerminkan besarnya tekanan yang dihadapi. Tekanan itu antara lain berkaitan dengan perbandingan sosial yang semakin difasilitasi oleh kemajuan sosial media, yang dapat membuat orang merasa “insecure” untuk menjadi dirinya sendiri apa adanya, yang menjadi lebih malu untuk bergaul dengan orang lain dan memilih “cara aman” dengan berelasi secara virtual. 

Tekanan-tekanan tersebut jika dapat ditangani dengan baik justru akan meningkatkan ketangguhan atau resiliensi. Resiliensi justru dapat dibentuk ketika orang mengalami suatu masalah hidup yang berat. Sebaliknya ketidakmampuan dalam mengatasi berbagai tekanan dan memilih “lari” dari realitas kehidupan inilah yang melahirkan generasi rapuh. Orang yang resiliens cirinya antara lain mampu mengembangkan kemampuannya (tetap bisa berprestasi), membangun relasi yang baik dengan orang lain, dapat membangun komitmen, memiliki pandangan yang positif terhadap kesulitan atau masalah, bahwa masalah adalah peluang untuk menjadi lebih baik lagi.

Bagaimana meningkatkan resiliensi digital
  1. Pahami risiko-risiko online, seperti : FOMO, interaksi yang tidak sehat di medsos yang memicu tindakan-tindakan pembullyan atau kejahatan cyber, screentime yang berlebihan yang bisa mengganggu kesehatan dan fokus karena kurang tidur, dsb.
  2. Mengetahui solusi-solusinya adalah cara berpikir kritis melihat plus minus bahkan ketika sedang mengalami masalah. Mencari tahu apa yang perlu dilakukan dengan meminta dukungan sosial. Oleh karena itu sistem support yang sehat penting untuk meningkatkan resiliensi.
  3. Belajar pengetahuan dan skill yang diperlukan agar tercegah dari risiko masalah (tidak harus menjadi ahli, tetapi dapat belajar dari pengalaman).
  4. Mengatasi stres sehingga dapat berfungsi dengan baik seperti ketika belum mengalami masalah.
  5. Meningkatkan efikasi diri, atau rasa diri mampu menghadapi tantangan-tantangan teknologi digital.
Faktor-faktor untuk meningkatkan resiliensi lainnya:
  • Dukungan keluarga dan/atau sekolah dan/atau komunitas ttt sehingga anak merasa dihargai dan diterima.
  • Biasakan olahraga.
Ilustrasi sampul: freepik

  Kembali Arsip