Artikel Populer
13/01/2025

Berempati dengan Generasi Strawberry

oleh: Agung Santoso, Ph.D.























“Generasi Strawberry” muncul pertama kali di Taiwan pada tahun sekitar 2007 untuk melabel orang-orang yang lahir di sekitar tahun 1980 hingga 1990 (ada yang menyebut 1970 - 1980) yang dianggap mudah ‘pecah’, kurang resilien, kurang gigih. “Strawberry” digunakan untuk menggambarkan kondisi anak muda yang di luar terlihat baik, cantik, indah tetapi tidak tahan terhadap tekanan sedikit saja.

Karakteristik Yang Sering Disematkan
  • Sensitif dan rentan: tidak dapat menghadapi tekanan dan kritik dengan baik.
  • Mudah menyerah ketika gagal, sulit bangkit kembali, kurang resilien.
  • Ketergantungan pada orang tua atau figur otoritas baik dalam hal tuntunan atau arah atau ekonomi.
  • Self-entitlement, merasa berhak atas penghargaan meskipun tidak banyak berusaha.
  • Kemahiran teknologi yang cenderung lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya.
  • Kreativitas.
Apakah Mereka ‘Strawberry’?
  • Wild Strawberries: gerakan di Taiwan, demonstrasi duduk (sit-in) di Taiwan mengkritik pejabat pemerintah Taiwan menghadapi kunjungan pejabat pemerintah Cina di tahun 2008.
  • Joshua Wong (lahir 1996) →Memimpin demonstrasi besar di Hongkong (Umbrella Movement) ketika berusia 17 tahun sejumlah 10 ribu anak muda di tahun 2014 melawan kebijakan pemerintah Cina saat itu terkait pemilihan umum di Hongkong.
  • Gretta Thunberg (lahir 2003)→aktivis lingkungan hidup, mulai berdemonstrasi sendirian di depan gedung parlemen Swiss ketika berusia 15 tahun.
  • Students Demand Action: Kelompok anak muda usia sekolah sebagai salah satu respon terhadap Sandy Hook Shooting dan banyak penembakan di sekolah-sekolah di US.
  • Youth v Gov (Our Children’s Trust): Sekelompok siswa/mahasiswa melakukan gerakan menuntut pemerintah secara hukum untuk melakukan tindakan terhadap pemanasan global.
  • Brand New Congress, Justice Democrats: Sekelompok kaum muda (Saikat Chakrabarti, 38) yang menghendaki perubahan di US.
  • Banyak gerakan anak muda di seluruh dunia termasuk di Indonesia juga; Jaga Rimba (Salsabila Khairunissa).
Sudut Pandang Lain
1. Generasi Sekarang adalah produk generasi sebelumnya:
     a. Parenting: bagaimana anak-anak generasi ini dididik dalam keluarga?
  • Misal: banyak orang tua mengeluh anak-anak kecanduan gadget tapi mereka menjadikan gadget sebagai solusi untuk membujuk anak diam.
  • Overprotective - Helicopter Parenting. Orang tua banyak yang melindungi anak dari kegagalan atau menghindarkan anak dari tanggung jawab atas apa yang telah dilakukan. Tersinggung jika anaknya ditegur atau dihukum di sekolah. Bahkan orang- orang tua yang cukup ‘berkuasa’ menghindarkan anak dari hukum ketika melakukan kesalahan. Pengalaman orang tua campur tangan urusan skripsi anaknya.
        Dampak:
  • Tidak berani mengambil resiko←kecemasan dan ketergantungan serta takut gagal ←harga diri anak rendah ←anak percaya bahwa keberhasilannya lebih diakibatkan faktor eksternal (dukungan ortu (misalnya) daripada dirinya sendiri dan keterampilan problem solving rendah, dll.
  • Kesehatan mental terganggu ← kemampuan mengelola emosi rendah ← kemampuan coping rendah
  • Permisif: aturan dan standar yang rendah, menjadi ‘teman’ tapi menghindari menjadi figur otoritatif. Dampak : disiplin diri- regulasi diri rendah, sikap ‘entitlement’, sulit menerima kritik, teguran atau arahan, sulit mengikuti aturan dan menghargai orang lain. Dalam kehidupan awalnya, anak butuh keteraturan, rutinitas dan batasan.
  • Menjadi contoh buruk bagi anak: perilaku di jalan raya, budaya antri, korupsi, aji mumpung, mengutamakan ‘kesuksesan’ di atas kerja keras, kesuksesan = kekayaan, dll.
   b. Masyarakat: it takes a village to raise a child
  1. Bagaimana anak dihargai kehadirannya di masyarakat? Eksploitasi anak di media sosial (tiktok, youtube, dll), perlindungan anak,
  2. Anak-anak disepelekan, dianggap tidak tahu apa-apa, tidak didengar suaranya, dll.
  3. Kita sering menganggap tantangan anak jaman sekarang lebih rendah daripada tantangan kita dulu tanpa menyadari mungkin sebaliknya yang terjadi: perbandingan sosial saat ini mengacu tidak hanya tetangga sebelah rumah tapi anak dari negara yang lain di ujung dunia sana dan memiliki narasi yang dominan (kaya, mewah, sering jalan-jalan, makan-makan enak, main game seharian dan dapat uang, berkulit putih, kurus, cantik / ganteng, dll).
  4. Bagaimana masyarakat memandang kegagalan / kesalahan? Kegagalan itu memalukan, cemooh dan kritik keras bukannya    dukungan, [manu kapoor : productive failure], bukan belajar dari kesalahan tapi disalah-salahkan, dll.
    c. Pendidikan
  1. Teacher-centered dan penekanan pada hafalan, menyelesaikan worksheet, bukan pemahaman konsep dan problem solving: Dampak: rendahnya keterlibatan, bosan, pembelajaran pasif, rendahnya problem solving, ketergantungan berlebihan pada otoritas, rendahnya kreativitas, dll.
  2. Tingginya Student-to-Teacher Ratio. Dampak: rendahnya atensi pada individu mengakibatkan pengabaian kebutuhan siswa, rendahnya partisipasi dan rasa menjadi bagian dari kelas, merasa ‘hilang’ dalam kelas.
  3. Rendahnya akuntabilitas siswa : mudah naik kelas, mudah lulus, mudah memperoleh nilai baik, dll.
  4. Soft skill… soft skill… soft skill : lebih sering dibicarakan daripada dipraktekkan.
  5. Fasilitasi pemenuhan kebutuhan guru, tidak hanya dalam hal kesejahteraan, tapi juga profesionalitas: waktu belajar, waktu untuk mengembangkan kelas dan materi-metode pembelajaran, waktu istirahat, dll.
  6. Tekanan akademik meningkat: banyaknya pelajaran atau mata kuliah satu semester.   

2. Kesadaran atau nilai yang berbeda:
  1. Dulu: ‘kerja keras’ : bekerja harus keras karena bayaran kecil - lemburlembur harus dilakukan untuk tambahan ekonomi - ‘mengabdi’ - ‘penindasan’ itu ok-ok saja - isu mental health tidak penting, dihina - dimakimaki di tempat kerja harus ‘ditelen’, dll.
  2. Sekarang: ‘work-life balance’, tempat kerja dan penghidupan layak, perlindungan ‘buruh’ karyawan penting, kekerasan seksual jadi isu penting, kesetaraan, dll.
3. Usaha sistematis pihak-pihak tertentu untuk menekan atau mengabaikan suara marjinal.

Apa yang perlu dilakukan?
  1. Mentalitas: “mungkin kita keliru” atau “mungkin kita perlu belajar memahami lebih dalam” : membuka komunikasi => seek first to understand than to be understood.
  2. Menghindari penggunaan label yang derogatoris atau merendahkan: akan menutup komunikasi dari kedua arah.
  3. Mengijinkan anak-anak kita mengalami kegagalan-kegagalan dan kemudian mendukungnya agar mereka belajar: Grit dan Deliberate Practice.
  4. Jika benar generasi muda adalah penerus bangsa, maka kesejahteraan mereka seharusnya menjadi prioritas: penjaminan hak-hak asasi mereka, memastikan bumi masih bisa dihidupi oleh mereka, bahwa dunia adalah tempat yang aman, dll.

Ilustrasi sampul: freepik

  Kembali Arsip